Takdir Sang Pencopet

Ahmad Iki Muqimudin
Chapter #11

Mantan Istri Yang Sakti

Selepas menghabiskan masing-masing, sepiring nasi dan segelas kopi, magrib pun tiba dengan cepat ditandai suara adzan yang berkumandang.

Putra membayar makanan dan kopi, "Cup, shalat dulu," ajaknya sambil melangkah ke arah masjid yang terlihat kubahnya.

Ucup mengikuti, ia menatap punggung Putra, mengusap mata yang basah. "Ternyata, kisah kau lebih tragis," ucapnya pelan.

Langkah mereka berdua pelan, seperti ada yang mengganjal di kaki mereka berdua.

---

Di waktu yang sama, di sudut kota jakarta, Mira duduk bersama kedua wanita rekan kerjanya, yang satu berambut panjang sepinggang bernama Rani dan yang satunya bernama Wati–LC senior di club tersebut.

Yudi dan Frans duduk di depan mereka bertiga,

"Saya menawarkan sebuah pekerjaan untuk kalian bertiga. Kalian tertarik?" Yudi membuka percakapan, diikuti anggukan dari Frans pemilik club tersebut.

Wati tertawa kecil, tangan menyibak rambut ikalnya, "Tertarik atau tidaknya, tergantung bayaran."

Yudi terkekeh, "Tentu saja, bayarannya besar tapi dengan resiko yang tinggi, masing-masing 20 juta."

Muka Mira langsung melotot, mendengar tawaran yang begitu tinggi.

"20 juta kecil bos, hanya seharga skincare bulanan gue," sela Rani. "Bagaimana kalau masing-masing 70 juta." tawar Rani dengan santai.

Mira menoleh ke arah Rani, "T-tujuh puluh–" sambil menelan ludah.

"Oke deal, masing-masing 70 juta, dibayar di muka lima puluh persen, sisanya dibayar setelah tugas selesai."

"Tugasnya apa bos?" Wati bertanya.

"Menghancurkan seseorang." Yudi menjawab dengan geram.

"Siapa?" Mira bertanya dengan nada pelan.

"Musuh lama, seorang Ustad."

Rencana kejahatan pun di setujui, bertolak belakang dengan dua orang yang sedang berjalan menuju ke sebuah rumah besar.

---

Tepat jam setengah sembilan malam, Putra berjalan di depan, langkahnya berat namun tetap ia paksakan. Di belakangnya, Ucup mengikuti dengan wajah cemas,

“Ucup…” suara Putra parau di sela embusan napasnya, “Apapun yang terjadi jangan pernah ikut campur, biarkan saja dosa saya ke dia sudah terlalu besar."

Lihat selengkapnya