Rumah si bapak tidak besar tidak kecil, kalau kata lagu dangdut 'Yang sedang-sedang saja', teras dari keramik putih, dengan lampu LED yang terang, sampai menerangi halaman.
Begitu masuk, istri si bapak muncul dari dapur. Rambutnya disanggul, wajahnya cantik khas sunda, ibu itu kaget melihat keadaan putra.
“Astaghfirullah, Pa! Eta saha?!” (Itu siapa?!)
“Teu apal, nimu di kidul, jigana aya anu ngagebukan, ambilkeun cai haneut,” jawab si bapak. (Cepat ambilkan air panas)
Istrinya segera mengambil semacam baskom dan pergi ke dapur.
Ucup membaringkan Putra ke karpet biru tua. Pria itu mengerang pelan, wajahnya menahan sakit.
Si bapak jongkok, memeriksa luka-lukanya.
“Dinda kemana?" tanyanya kepada istrinya
“Ada di kamar, kayak belum tidur” jawab istrinya.
“Panggil mah, suruh nyiapin makan, kayanya pada lapar”
Sang istri pun bergegas memanggil anak semata wayangnya yang sedang terpejam di dalam kamarnya.
---
Dor dor dor
"Neng, bangun! dipanggil bapak."
Suara gedoran pintu dan panggilan terdengar berulang kali, Aku membuka mata sebentar, lalu terpejam lagi. Gedoran itu semakin kencang.
"I-iya umi, ada apa?" Aku bertanya sambil mengucek-ucek mata, lalu bangun dan membuka pintu.
"Ada tamu, suruh nyiapin makan." Umi berkata singkat.
"Siapa?" aku bertanya, memicingkan mata yang perih.
"Biasa, bapak maneh, nolong orang lagi, buru gih masakin telor sama mie aja."
Mulutku cemberut, "Ngantuk umi."
"Gantian, umi yang tidur sekarang."
Terpaksa aku pergi ke dapur dengan setengah sadar.
---
POV Dinda
Nama aku Dinda Fatma Khumaira, 21 tahun, semester enam di Universitas Djuanda Ciawi. Hidupku sebenarnya biasa-biasa saja. Kuliah, bantu ibu di rumah, kadang ikut kajian sama ayah kalau lagi mood. Aku anak tunggal, jadi ya… kadang manja, kadang sok dewasa, tapi kalau udah di depan bapak dan ibu, sifat manja itu muncul otomatis.