Bapak itu duduk berhadapan dengan Ucup, mereka berdua menunggu mantri yang dipanggil untuk memeriksa luka-luka putra.
"Saya semalam belum sempat bertanya, bahkan berkenalan saja belum," ucap bapak tersebut. "Kenalkan nama saya Fauzi, boleh panggil Pak Fauzi, tapi jangan panggil De, soalnya sudah tua, hehe."
Ucup tertawa kecil, "Masa saya berani Pak, nama saya Muhamad Yusuf Pak, biasa dipanggil Ucup, itu teman saya namanya Putra."
Fauzi menatap mata Ucup dengan tajam, "Nak Ucup, kalau boleh saya tahu, ada kejadian apa semalam? lukanya bisa dikatakan parah, seperti dipukuli orang." Ia bertanya dengan nada pelan.
Ucup menunduk, ia menoleh ke arah kamar Putra, "Kemaren, saya mengantar Putra menemui mantan istrinya, mau minta maaf, tapi–" perkataan itu terpotong oleh suara merdu mengucapkan salam, ia menoleh.
Seketika rumah itu berubah menjadi taman penuh bunga, seorang wanita bergaun putih, berjilbab putih berenda, melangkah menghampiri sambil tersenyum lebar, matanya bersinar.
Ucup berdiri tegak, ia melihat ke arah dadanya, membusungkan dadanya dengan jas putih senada dengan warna pakaian wanita itu. Ia mengulurkan tangan ingin menyambut tangan wanita tersebut.
Wanita itu berkata sesuatu, tapi Ucup tidak mendengar apa-apa, tangannya seperti ada yang memukul.
"Nak Ucup... Nak kamu nggak apa-apa?"
Pemandangan taman didepannya langsung berganti dengan wajah si bapak yang sedang menggoyang-goyangkan bahunya. Mata Ucup membesar, lalu.
"Maaf Pak, saya melamun." Sambil melirik punggung Dinda yang memasuki rumah.
"Itu anak saya, namanya Dinda, anak satu-satunya." Fauzi berkata dengan sedikit suara tawa kecil.
"Anak bapak ya, cantik." Ucup langsung menutup mulutnya, melihat Fauzi menatapnya tajam walau dengan senyum.
"Nak Ucup, mending lanjutkan ceritanya," pinta Fauzi.
Wajah Ucup memerah, mengangguk, "Jadi Bang Putra langsung dipukuli oleh dua orang suruhan mantan istrinya."
"Nak Ucup tahu nama istrinya?"
"Kalau tidak salah, Nyi Ageung Mega–" Ucup mencoba mengingat.
"Nyi Ageung Mega Mendung," sambung Fauzi dengan napas tertahan, lalu menggelengkan kepala.
"Temen Nak Ucup berurusan dengan orang yang sangat berbahaya, untung saja Allah masih melindungi. Saran saya, jauhi wanita itu, warga disini sudah banyak melaporkan perbuatan dukun wanita tersebut."
Ucup mengangguk, "Iya Pak, saya juga nggak mau ngedeketin wanita itu, takut kulkas pindah ke perut, tapi kalau deketin Dinda boleh Pak?"
Fauzi tertawa terbahak-bahak, "Boleh saja, asal memenuhi syarat."