Intermezzo
Di dunia nyata saat ini,
Sang penulis berlutut, kedua tangannya diangkat seraya menyerahkan naskah. “Guru, terimalah naskahku ini."
Sang guru yang sedang duduk di atas kursi kebesarannya, berdiri dan mengambil naskah dari sang murid.
"Sudah berapa lama, kau menulis?" Sang guru bertanya dengan dingin.
"E-empat bulan, saya rasa," jawab sang penulis.
“Naskah ini sampah,” Mengambil api “Naskah ini pantas di bakar dan kau akan di hukum.” Sambil membakar naskah tersebut.
Sang penulis tercengang melihat naskah yang ia buat bertahun-tahun terbakar habis.
Sang guru pun bangkit kembali dan menghampiri. “Terimalah hukumanmu!”
“DOOO..OONG!” Sebuah tabung gas ukuran 3 kg dipukulkan ke kepala sang penulis dan sang penulis pun pingsan.
---
Tiga jam berlalu penuh dengan keheningan.
Mataku terbuka perlahan, sinar matahari yang masuk di sela kelopak mataku menyadarkanku.
“Dimana aku?” batinku.
Aku melihat sekitar– pepohonan dengan batang yang tinggi tidak terlihat ujung puncaknya, tanganku meraba sesuatu–rumput basah.
“Kepalaku sakit sekali!”
Mataku melihat kedepan, seorang perempuan berpakaian megah seperti seorang ratu, tapi ada yang janggal “kenapa tangannya membawa tabung gas 3 kg?” Aku melihat dengan alis terangkat.
“Siapa namamu?”tanya perempuan itu.
“Nama hamba Muqimuddin.”ucapku ragu.
Perempuan itu berdiri, melangkah dengan penuh wibawa dan keanggunan dan ....
“DHOoong!” Kepalaku dipukul dan aku pingsan untuk kedua kalinya.
“Susah sekali membuatmu hilang ingatan.”
Dan perempuan itu kembali duduk dengan anggun.
Rumput basah memudar. Pohon-pohon tinggi memanjang seperti karet ditarik. Suara perempuan itu melebur menjadi dengungan aneh, lalu…
Klik
Adegan berganti
Putra dan Ucup berdiri dengan tas di punggung masing-masing, Ucup dengan senyum lebar dan Putra tersenyum tapi dengan perban di kepala.
Dinda mengintip dari jendela, mencuri pandang ke arah Ucup, "Lucu juga," bisiknya.
Sebuah tangan menepuk bahunya, membuat Dinda meloncat.
"Apa yang lucu, Neng," tanya Pak Fauzi sambil ikut melihat ke arah teras.
"Ba–pak, bikin Neng jantungan, ih." Dinda menggerutu.
"Serius teuing Neng, jangan di liatin wae, engke suka," celetuk Pak Fauzi.
Dinda tersenyum, wajahnya memerah. Pak Fauzi yang melihatnya, hanya tertawa kecil.
"E-emmh, Pak, Neng boleh nggak– kenalan lebih jauh sama–" jarinya menunjuk ke arah Ucup dan Putra, tapi lengannya rapat disamping tubuh.
Pak Fauzi menjitak kepala Dinda, "Kuliah aja, belum beres, sudah genit-genitan." Pak Fauzi pura-pura ngomel.
Dinda mengusap kepalanya, "Bapak mah, kan Neng lagi skripsi," ucapnya merajuk.
"Memang habis lulus, nggak mau kerja?" tanya Pak Fauzi.
Dinda menutup mulut, menahan tawa. "Neng pan anak satu-satuna, panggeulisna, masa damel Pak?"
"Engke dikawinkeun ku Bapak, ke depan yuk Neng, kayanya mereka berdua mau pamit."
Dinda mengangguk, mengikuti langkah bapaknya menuju ruangan depan.
---
Pak Fauzi, Ucup dan Putra masih menikmati masing-masing secangkir kopi. Pembicaraan mulai berpindah arah. Ucup sedari tadi masih mencoba duduk manis tapi gagal. Ia mencoba cari kesempatan bicara… tapi kalah oleh rasa gugup.
Sesekali, Ucup melirik pintu.
Sesekali… ia menghela napas panjang.
Sesekali… entah kenapa… bibirnya tersenyum sendiri.
Pak Fauzi tahu. Ia perhatiin. Ia simpan. Ia tunggu momen.
“Dindanya ada di dalam, lagi bantuin uminya masak, Nak Ucup.” ujar Pak Fauzi tersenyum sambil menyesap kopi.
Ucup langsung menatap ke pintu yang tertutup.
“Oh… lagi masak ya pak…”
Nada Pak Fauzi mulai menggoda.
“Kenapa?.. Nak Ucup mau ikut bantuin?"
Putra langsung tertawa keras.
“Wahai Hanoman yang sedang jatuh cinta… semoga engkau lulus ujian… cinta dan akhlak!”