Takdir Sang Pencopet

Ahmad Iki Muqimudin
Chapter #15

Mushola dan Seorang Kakek

Truk itu melintas di atas jalan yang berlubang, terguncang kencang ketika melindas lubang yang dalam.

BRUUGH

"Astaga," Ucup mengusap dahinya yang terbentur palang kayu. "Harusnya pengemudi bayar mahal, kalau lewat jalan ini."

Putra mengernyit, "Kok, bayar mahal?"

Ucup malah tertawa, "Naik rolecoster sebentar saja bayarnya mahal, apalagi kita hampir dua jam di aduk-aduk," jawabnya sarkas.

"Isa ae lu, kudu bersyukur kita hidup di Indonesia, masih banyak orang baik, contohnya Pak Fauzi tanpa pamrih, nolongin kita."

Ucup mengangguk, "Tapi bang, rakyatnya banyak yang baik, tapi kenapa pemerintahnya begitu ya?" Ia menggaruk kepalanya–bingung.

Putra mengangkat bahunya, "Gua nggak tahu Cup, tapi Ustad Rizki pernah bilang, akan datang satu kaum yang menjauhi ulama dan fuqoha, dan akan diberikan tiga macam musibah... salah satunya diberikan pemimpin yang dzolim." Putra menjawab, lalu ia menoleh ke depan.

"Truknya kenapa berhenti bang?" Ucup berdiri melihat ke depan. Terdengar suara pintu di buka.

"AA punten, kayanya bisa nganterin sampai sini, didepan ada razia, nggak boleh ngangkut orang," teriak sopir dari bawah.

Putra mengangguk, "Hayu Cup, kita turun," ajaknya. Mereka berdua pun turun. "Nggak apa-apa Bang, sampai sini juga Alhamdulillah." Putra berkata sambil bersalaman dengan sopir.

Truk itu kembali melaju kembali meninggal dua orang yang berdiri di pinggir jalan.

Putra melihat sebuah bangunan dengan lampu yang sangat terang, kubah kecil terpasang di atasnya. Ada bisikan mereka harus kesana.

"Kita istirahat dulu, di mushola." Putra menunjuk ke depan, lalu berjalan diikuti Ucup yang malah bersenandung.

---

Di waktu bersamaan, di sebuah rumah kayu, di kaki gunung salak. Tiga orang wanita bersila di atas tikar pandan, di hadapan mereka duduk seorang kakek berumur 65 tahun, berpakaian serba hitam, wadah besi di depannya mengepulkan asap kemenyan.

Wajah Rani memucat, tangannya berulangkali mengusap bagian belakang lehernya. "Gua takut Mira," bisiknya.

Mira menyatukan kedua telapak tangannya yang berkeringat.

Sementara si kakek menggerakkan kedua tangannya di atas asap, mulutnya berkomat kamit, tak lama ia membuka kedua matanya, menatap tajam.

"Target kalian berat, saya tidak bisa membantu dari jauh, kalian harus pasang susuk asihan."

"S-susuk?"

Kakek itu mengangguk, "Benar, susuk dari biji emas," jawab dengan suara parau.

Ketiga wanita pun saling berpandangan, Wati menatap wajah kakek, "Sakit nggak Mbah?"

Kakek itu tertawa, "Sedikit sakit, tapi kalian akan dengan mudah menaklukan lelaki mana pun.

Hening

Lalu ketiganya mengangguk.

---

Lihat selengkapnya