Pagi yang Dingin di Awal Tahun Senin, 1 Januari 2024 Pagi itu Jakarta masih diselimuti kabut tipis sisa hujan malam tahun baru. Di sebuah rumah megah tiga lantai di Pondok Indah, sinar matahari pagi menyusup perlahan melalui tirai kamar utama. William Herman Ardi terbangun lebih awal dari biasanya. Jam di samping tempat tidur menunjukkan pukul 05:47. Ia terdiam sejenak, menatap langit-langit kamar yang tinggi, lalu menghela napas panjang. Tiga tahun sudah berlalu sejak Sabrina Desi Puspasari, istrinya, meninggal dunia saat melahirkan Monica Agnesia Ardi, putri satu-satunya mereka. Tanggal 1 Januari selalu terasa lebih berat daripada hari-hari lain. Hari ini bukan hanya awal tahun baru, tapi juga hari ulang tahun Monica yang ketiga—dan pengingat abadi bahwa Sabrina tidak lagi ada di sisi mereka.William bangkit perlahan. Tubuhnya yang tegap, berusia 38 tahun, masih terlihat bugar meski malam tadi ia hanya tidur empat jam. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap taman belakang. Di luar, empat satpam sedang berganti shift, dan dua pembantu sudah mulai menyapu halaman. Rumah ini memang seperti benteng kecil: delapan pembantu, satu sopir setia bernama Pak Slamet, dan sistem keamanan yang tak pernah tidur. Semua itu warisan dari kakeknya, Sastro Wijoyo Ardi, pendiri Ardi Group yang kini dipimpinnya sebagai CEO.William bukan orang biasa. Dunia mengenalnya sebagai konglomerat muda yang mengendalikan kerajaan bisnis raksasa: peternakan dan pengolahannya, pertanian luas di berbagai provinsi, pabrik semen, operator telekomunikasi, perakitan mobil dan alat berat dengan lisensi Toyota, Isuzu, Volvo, BMW, Mercedes-Benz, Mitsubishi, Audi, Kia, Hyundai, Wuling, Jaguar, hingga Komatsu. Ada pula divisi perfilman dan televisi, maskapai penerbangan domestik dan regional, pelayaran peti kemas, stasiun pengisian bahan bakar, hutan tanaman industri, pabrik kertas, jaringan minimarket, supermarket, pengolahan kopi, tepung, hingga mie instan. Perusahaan itu beroperasi di Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Spanyol, Meksiko, Portugal, Brasil, Uzbekistan, Mesir, dan Tunisia.Beberapa tahun terakhir, di bawah kepemimpinannya, Ardi Group bahkan berhasil mengakuisisi saham mayoritas di perusahaan-perusahaan dunia: Toyota Motor Corporation, Air Liquide, Telefónica, Repsol, British Petroleum, Tesco, Audi AG, Medco Energi, Woodside Petroleum, dan BMW AG. Semua itu membuat namanya sering muncul di daftar orang terkaya di Asia Tenggara.Namun di balik semua itu, William hanyalah seorang ayah yang merindukan istri yang tak pernah kembali.Ia berjalan menuju kamar anak di lantai dua. Pintu kamar Monica sedikit terbuka. Di dalam, gadis kecil berusia tiga tahun itu masih tertidur pulas, memeluk boneka beruang besar pemberian William tahun lalu. Rambutnya yang ikal hitam mirip sekali dengan Sabrina. William duduk di pinggir tempat tidur, mengelus lembut pipi putrinya. Air matanya hampir jatuh, tapi ia menahannya. Monica adalah satu-satunya alasan ia masih bertahan.“Selamat ulang tahun, sayang,” bisiknya pelan. “Papa janji akan buat hari ini spesial buat kamu.”Monica menggeliat, lalu membuka mata perlahan. Melihat ayahnya, ia langsung tersenyum lebar dan merentang tangan. “Papa!”William memeluknya erat. Bau susu bayi masih tercium dari tubuh kecil itu. Untuk sesaat, dunia terasa sempurna lagi.Setelah sarapan ringan—roti bakar dan susu untuk Monica, kopi hitam untuk William—mereka berdua turun ke ruang keluarga. Di sana sudah menunggu kue ulang tahun kecil yang dipesan khusus dari toko kue langganan. Monica berlari kegirangan saat melihat lilin angka tiga yang menyala. William menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan suara parau. Monica meniup lilin dengan bantuan ayahnya, lalu tertawa riang.Saat itu, salah satu pembantu, Bi Sumi, mendekat. “Den William, ada telepon dari kantor. Katanya penting.”William menghela napas. Hari pertama tahun baru, tapi pekerjaan tak pernah benar-benar libur. “Siapa?”“Pak Hendra, Direktur Keuangan. Katanya ada update soal akuisisi BMW yang perlu tanda tangan hari ini juga.”William mengangguk. Ia mencium kening Monica lagi. “Papa ke kantor sebentar ya, sayang. Nanti sore kita ke taman bermain, janji.”Monica mengangguk polos, meski matanya sedikit sayu. William tahu anaknya mulai paham ketika “sebentar” sering berubah menjadi berjam-jam.Di garasi besar yang bisa menampung sepuluh mobil, William memilih Toyota Fortuner hitam miliknya. Koenigsegg Agera RS yang langka itu terlalu mencolok untuk hari biasa, begitu pula Audi RS Q8 atau Ducati Desmosedici yang terparkir rapi di sudut. Honda Beat dan Suzuki Baleno baru biasa dipakai pembantu atau sopir untuk keperluan rumah tangga. Honda HR-V putih milik Sabrina dulu masih terparkir di sana, tak pernah disentuh lagi sejak tiga tahun lalu. William selalu melewatinya dengan hati yang berat.Pak Slamet sudah siap mengemudi, tapi William menggeleng. “Saya nyetir sendiri hari ini, Pak.”Perjalanan menuju kantor pusat Ardi Group di Sudirman memakan waktu empat puluh menit. Jalanan Jakarta pagi itu masih lengang. William menyetel lagu-lagu lama yang dulu sering didengar bersama Sabrina. “Kasih Tak Sampai” dari Padi mengalun pelan, membuat dadanya sesak. Ia ingat betul bagaimana Sabrina menyanyi fals sambil tertawa saat mereka berkencan dulu, saat ia masih mahasiswa di Oxford dan Sabrina kuliah seni di Jakarta.William bukan orang yang lahir dengan sendok emas di mulut. Meski cucu pendiri Ardi Group, kakeknya mensyaratkan ia harus belajar keras. Ia meraih gelar Sarjana Teknik Mesin dari Oxford University, Sarjana Manajemen Bisnis dari Universidad Complutense de Madrid, Sarjana Hukum Internasional dari University of Tokyo, Magister Manajemen Bisnis dari University of Nebraska-Lincoln, dan Magister Hukum Bisnis dari Kyoto University. Semua itu ia raih sambil membantu kakeknya mengelola perusahaan kecil-kecil yang perlahan menjadi raksasa.Tapi semua gelar dan kekayaan itu tak mampu menyelamatkan Sabrina dari komplikasi saat melahirkan. Ia ingat betul malam itu: darah, teriakan dokter, dan tangan Sabrina yang perlahan dingin di genggamannya. Sejak saat itu, setiap 1 Januari terasa seperti luka yang kembali dibuka.Saat sampai di gedung Ardi Tower yang menjulang 48 lantai, William langsung disambut staf eksekutif. Rapat pagi itu berlangsung intens: pembahasan integrasi BMW AG ke dalam divisi perakitan, negosiasi baru dengan pemerintah Uzbekistan untuk ekspansi perkebunan kelapa sawit, dan laporan keuangan kuartal terakhir yang menunjukkan laba bersih lebih dari Rp180 triliun.William mendengarkan dengan fokus, tapi pikirannya sesekali melayang ke Monica yang sedang bermain di rumah. Ia tahu, betapa pun besar kerajaan bisnis ini, tak ada yang bisa menggantikan kehangatan keluarga kecil yang kini hanya tinggal dua orang.Saat jam menunjukkan pukul 14:00, William memutuskan pulang lebih awal. Ia ingin menebus janjinya pada Monica. Di perjalanan pulang, ia mampir ke toko mainan di Pantai Indah Kapuk dan membeli sebuah rumah-rumahan besar lengkap dengan boneka keluarga.Saat tiba di rumah, Monica berlari menyambutnya di pintu depan. “Papa pulang!”William menggendongnya tinggi-tinggi, tertawa untuk pertama kalinya hari itu. Di pelukannya, beban dunia terasa ringan kembali.Tapi di balik senyum itu, William tahu perjuangan sebagai ayah tunggal baru saja dimulai lagi di tahun yang baru ini. Dan entah mengapa, firasat kecil di hatinya berbisik bahwa tahun 2024 akan membawa perubahan besar.
Senin Sore, 1 Januari 2024 William baru saja menurunkan tas kerjanya di ruang kerja lantai dua ketika suara kecil Monica terdengar dari bawah tangga. “Papa! Kita ke mal, ya? Monica mau main di playground!”Anak itu sudah berdiri di tangga paling bawah, memakai dress pink baru yang dibelikan William minggu lalu, tangannya memegang boneka kelinci kecil. Matanya berbinar penuh harap, tapi William bisa membaca sedikit kekhawatiran di baliknya—Monica sudah terbiasa mendengar janji “nanti” yang sering tertunda karena rapat mendadak atau telepon dari luar negeri.William tersenyum, berusaha menyembunyikan rasa bersalah yang menggerogoti dadanya. “Iya, sayang. Papa janji hari ini kita ke mal. Tunggu Papa mandi dan sholat Ashar dulu, ya?”Monica mengangguk antusias, lalu berlari kembali ke ruang bermain. William menarik napas panjang. Ia tahu betul betapa Monica merindukan waktu bersama. Sejak Sabrina tiada, rumah ini terlalu besar dan terlalu sepi untuk seorang anak kecil yang baru berusia tiga tahun.Ia naik ke kamar utama, melepas kemeja kerja yang masih berbau ruang rapat, lalu mandi dengan air hangat. Di bawah pancuran, pikirannya melayang lagi ke masa lalu. Dulu, setiap sore seperti ini, Sabrina akan menyambutnya di pintu dengan pelukan hangat dan candaan ringan. “Pulang cepet dong, Mas. Monica kangen Papa-nya.” Sabrina selalu memanggilnya “Mas”, meski nama panggilannya di dunia luar adalah William. Hanya Sabrina yang boleh memanggilnya begitu.Air hangat mengalir di wajahnya, tapi tak mampu menghapus rasa dingin di hati. Tiga tahun. Sudah tiga tahun, tapi rasa kehilangan itu masih terasa seperti baru kemarin.Setelah mandi, William mengenakan baju koko putih sederhana dan sarung batik yang dulu dibelikan Sabrina dari Solo. Ia melaksanakan sholat Ashar di mushola kecil di lantai tiga rumahnya—ruangan yang dulu dirancang Sabrina dengan karpet tebal dan jendela menghadap taman. Saat sujud, ia tak kuasa menahan air mata. Ia berdoa panjang, memohon kekuatan untuk Monica, memohon ampunan atas segala kekurangan sebagai ayah, dan—meski ia tahu tak akan kembali—masih saja memohon agar Sabrina tenang di sana.Selesai sholat, ia turun ke bawah. Monica sudah menunggu di depan pintu, tangannya digandeng Bi Sumi. “Papa lamaaa,” keluhnya manja, tapi langsung tersenyum saat William menggendongnya.“Maaf ya, sayang. Sekarang kita berangkat.”William memilih Toyota Starlet merah miliknya untuk hari ini—mobil kecil yang lincah di kemacetan Jakarta, dan tidak terlalu mencolok seperti Fortuner atau Audi-nya. Pak Slamet menawarkan diri untuk mengemudi, tapi William menolak lembut. “Hari ini Papa yang nyetir. Kita berdua aja.”Perjalanan ke Pondok Indah Mall tak terlalu jauh, hanya lima belas menit jika lalu lintas bersahabat. Monica duduk di car seat khusus anak di kursi belakang, bercerita panjang lebar tentang teman-temannya di playgroup dan boneka baru yang ingin dibelinya. William mendengarkan sambil tersenyum, sesekali menoleh ke kaca spion untuk melihat wajah putrinya yang begitu mirip Sabrina.Di dalam mall, Monica langsung berlari kecil menuju playground di lantai dua. William mengikuti dari belakang, membawa tas kecil berisi air minum dan camilan. Playground itu ramai anak-anak, tapi Monica tak takut. Ia langsung naik perosotan, tertawa riang saat meluncur ke bawah.William duduk di bangku pinggir, memandangi putrinya dengan mata berkaca-kaca. Tiba-tiba ingatan datang lagi. Dua tahun lalu, saat Monica baru berusia satu tahun, mereka bertiga pernah ke sini. Sabrina menggendong Monica yang masih belajar berjalan, tertawa saat Monica mencoba naik ayunan kecil. Sabrina berkata saat itu, “Nanti kalau Monica besar, kita harus sering-sering ke sini ya, Mas. Biar dia punya kenangan bahagia sama kita berdua.”William menunduk, menutup mata sejenak. Kenangan itu terasa begitu nyata hingga ia hampir bisa merasakan tangan Sabrina menggenggam tangannya saat itu.“Papa! Lihat Monica!” teriak Monica dari atas perosotan.William langsung mengangkat kepala, tersenyum lebar dan bertepuk tangan. “Wah, hebat sekali putri Papa! Tinggi banget!”Monica tertawa puas, lalu berlari mendekat dan memeluk kaki ayahnya. “Papa main bareng Monica dong.”William tak perlu dibujuk dua kali. Ia melepas sepatu, masuk ke area playground, dan ikut bermain bersama Monica—mendorong ayunan, menangkap saat meluncur dari perosotan, bahkan pura-pura jadi monster yang mengejar Monica hingga anak itu terkikik tak terkendali.Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, William merasa hatinya benar-benar ringan. Tawa Monica adalah obat terbaik untuk luka yang tak pernah sembuh.Setelah hampir dua jam bermain, Monica mulai lelah. Mereka mampir ke toko mainan di lantai yang sama. William membelikan Monica sebuah set boneka keluarga lengkap—ada ayah, ibu, dan anak perempuan kecil. Saat Monica memeluk boneka itu, ia berkata polos, “Ini Papa, ini Monica… tapi ini siapa ya?”William terdiam sesaat. Anak itu menunjuk boneka ibu.“Itu… Mama,” jawab William pelan, suaranya hampir hilang. “Mama Monica yang cantik.”Monica tersenyum, memeluk ketiga boneka itu sekaligus. “Mama di surga ya, Papa?”William mengangguk, menelan rasa sesak di tenggorokan. “Iya, sayang. Tapi Mama selalu lihat Monica dari atas sana. Mama bangga sama kamu.”Mereka pulang saat maghrib mulai turun. Di mobil, Monica tertidur di car seat dengan boneka baru di pelukannya. William mengemudi pelan, sesekali melirik putrinya di kaca spion. Senja Jakarta yang merah jingga terpantul di kaca mobil, dan untuk sesaat, William merasa Sabrina ada di sana—duduk di kursi penumpang depan, tersenyum lembut seperti dulu.Malam itu, setelah menidurkan Monica, William duduk sendirian di teras belakang rumah. Ia memandang langit yang mulai bertabur bintang, berbisik pelan, “Sabrina… aku janji akan jaga Monica sebaik mungkin. Tapi kadang aku takut… takut aku nggak cukup buat dia.”Angin malam berhembus lembut, seolah membawa jawaban yang tak terucap. Tahun baru ini dimulai dengan tawa anaknya, tapi William tahu, perjalanan mereka masih panjang—dan luka di hati tak akan pernah benar-benar hilang.
Senin Malam, 1 Januari 2024 Langit Jakarta sudah gelap sepenuhnya ketika William dan Monica tiba di rumah. Adzan Maghrib berkumandang dari masjid terdekat, suaranya lembut menyusup melalui jendela mobil yang sedikit terbuka. Monica masih memeluk erat set boneka keluarga barunya, matanya mulai terkantuk-kantuk setelah seharian bermain.William menggendong putrinya masuk ke rumah. Bi Sumi langsung menyambut, “Den William, makan malam sudah siap. Nasi goreng seafood kesukaan Non Monica.”“Terima kasih, Bi. Kami sholat dulu ya,” jawab William lembut. Ia membawa Monica ke mushola kecil di lantai tiga, tempat yang selalu terasa damai baginya.William menggelar sajadah lebar, lalu mengambil air wudu. Monica, meski masih kecil, sudah terbiasa ikut-ikutan. Ia berdiri di samping ayahnya, meniru gerakan wudu dengan tangan mungilnya yang basah. William tersenyum melihatnya—Sabrina dulu yang mengajarkan Monica dasar-dasar ini sejak bayi.Mereka sholat Maghrib berjamaah, hanya berdua. Monica berusaha keras mengikuti gerakan ayahnya: takbir, ruku, sujud, duduk di antara dua sujud. Kadang ia miring sedikit atau tersandung sajadah, tapi William tak pernah menegur. Ia justru merasa hangat—seolah Sabrina ikut sujud di samping mereka, tersenyum dari balik tirai kenangan.Setelah Maghrib, mereka langsung sholat Isya. Monica sudah mulai menguap, tapi tetap bertahan. Saat salam terakhir, ia langsung memeluk kaki William. “Papa… Monica takut tidur sendiri. Boleh tidur sama Papa malam ini?”William mengangkatnya ke pelukannya. Dadanya terasa sesak. Sejak Sabrina tiada, Monica sering seperti ini—takut gelap, takut sendirian. Rumah besar ini memang terlalu sepi untuk hati kecilnya. “Boleh dong, sayang. Malam ini Monica tidur sama Papa.”Mereka makan malam bersama di ruang makan. Monica lahap menyendok nasi goreng, sambil bercerita tentang perosotan tertinggi di playground. William mendengarkan sambil tersenyum, tapi matanya sesekali berkaca. Betapa ia merindukan saat dulu ada Sabrina di kursi sebelah, ikut tertawa dan menyuapi Monica.Setelah makan, Monica menarik tangan ayahnya menuju kamar utama. “Papa, besok Monica mau ikut Papa kerja. Monica nggak mau di rumah sendiri.”William terdiam sejenak. Ia tahu Monica mulai bosan dengan rutinitas playgroup dan bermain di rumah. “Kantor Papa banyak rapat, sayang. Nanti Monica bosan.”“Tapi Monica janji diam. Monica mau lihat Papa kerja kayak superhero,” rengeknya dengan mata berbinar.William menghela napas, lalu tersenyum. “Baiklah, besok Monica boleh ikut Papa ke kantor. Tapi harus janji nurut ya.”Monica melonjak kegirangan, memeluk leher ayahnya erat-erat.Mereka naik ke kamar utama. William mengganti piyama Monica, lalu membaringkannya di ranjang besar yang dulu ia bagi dengan Sabrina. Monica meringkuk di sampingnya, boneka keluarga diletakkan di bantal.“Papa, dongeng dong. Dongeng tentang Spanyol. Monica mau tahu negara yang Papa ceritain dulu.”William tersenyum lembut. Ia selalu mendongeng seperti ini—bukan putri tidur atau kucing bersepatu, tapi cerita nyata tentang dunia luar. Ia ingin Monica tahu bahwa di luar Indonesia ada lautan pengetahuan, budaya, dan sejarah yang luas.“Dahulu kala, di tanah yang sekarang bernama Spanyol, ada kerajaan Visigoth yang menguasai semenanjung Iberia. Mereka berkuasa lama, tapi kemudian datanglah angin perubahan dari selatan.”Monica mendengarkan dengan mata lebar, kepala bersandar di lengan ayahnya.“Pada tahun 711 Masehi, seorang panglima hebat bernama Tariq bin Ziyad datang dari Maroko, membawa pasukan Islam. Mereka menyeberangi selat sempit yang memisahkan Afrika dan Eropa. Saat sampai di daratan, Tariq bin Ziyad membakar semua kapalnya—agar pasukannya tak punya pilihan selain maju dan menang.”“Kenapa dibakar, Pa?” tanya Monica polos.“Agar mereka berani dan percaya pada Allah, sayang. Pegunungan tempat mereka mendarat itu sekarang dinamai Jabal Tariq—artinya Gunung Tariq. Kita kenal sekarang sebagai Gibraltar.”William melanjutkan dengan suara tenang, “Dari sana, Tariq bin Ziyad dan pasukannya membebaskan kota-kota besar: Sevilla yang indah dengan sungainya, Toledo yang menjadi pusat ilmu, lalu Madrid. Mereka mendirikan peradaban gemilang yang disebut Andalusia—zaman keemasan Islam di Spanyol, di mana ilmu pengetahuan, seni, dan toleransi berkembang.”Monica mengangguk pelan, meski mungkin belum paham sepenuhnya.“Tapi, sayang, tidak semua kerajaan Katolik menyerah. Di utara, ada Kerajaan Castilla dan Kerajaan Aragon yang tetap bertahan. Akhirnya, pada tahun 1492, mereka bersatu melalui pernikahan Raja Fernando dan Ratu Isabel. Mereka menaklukkan kembali kota-kota Andalusia satu per satu: Madrid, Toledo, Sevilla… dan yang terakhir, Granada yang megah dengan istana Alhambra-nya.”William terdiam sejenak, mengingat kunjungannya ke Alhambra saat kuliah di Madrid dulu. Sabrina pernah berjanji ingin ke sana bersamanya, tapi tak pernah kesampaian.“Sekarang, tanah itu disebut Spanyol—atau Iberia Hispanik. Semenanjung Iberia sendiri terbagi tiga wilayah kecil: Spanyol yang besar, Portugal di barat, dan Gibraltar yang kecil di selatan.”Monica menguap, tapi matanya masih berbinar. “Papa… Monica mau ke Iberia. Monica pengin lihat Tariq.”William tersenyum haru, mencium kening putrinya. “Suatu hari nanti, ya, sayang. Papa janji akan ajak Monica ke sana. Kita lihat Jabal Tariq, Alhambra, dan semua tempat bersejarah itu.”Monica mengangguk puas, lalu pelan-pelan matanya terpejam. William memandangi wajah kecil itu lama sekali. Di balik kelopak mata yang tertutup, ia melihat bayangan Sabrina—senyum lembut, mata cerdas, dan cinta yang tak pernah pudar.Malam itu, untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, William tidur nyenyak. Dengan Monica meringkuk di pelukannya, dunia terasa utuh kembali—meski hanya sementara. Di luar jendela, bintang-bintang berkelip, seolah Sabrina ikut menjaga mereka dari atas sana.William berbisik pelan sebelum tertidur, “Terima kasih ya, Allah… atas Monica. Aku akan jaga dia seumur hidupku.