Takdir william dari kehilangan ke pelukan Baru

Budi Muhammad Nurrakhmanto
Chapter #2

Bab 2: Janji Ayah Selasa

Pagi, 2 Januari 2024 Adzan Subuh menggema lembut dari masjid dekat Pondok Indah saat jam menunjukkan pukul 04:45. William terbangun lebih dulu, seperti biasa. Ia menoleh ke samping—Monica masih tertidur pulas di ranjang besar, napasnya pelan dan teratur, tangan kecilnya memeluk boneka keluarga yang dibeli kemarin. Wajahnya yang damai membuat William tersenyum, tapi juga membuat dadanya sesak. Betapa miripnya Monica dengan Sabrina saat tidur: alis yang melengkung lembut, bibir yang sedikit manyun.Ia bangkit perlahan agar tak membangunkan putrinya, lalu mandi dengan air hangat. Setelah itu, ia mengenakan sarung dan baju koko, berjalan kaki menuju masjid yang hanya dua blok dari rumah. Udara pagi Jakarta masih dingin, kabut tipis menyelimuti jalanan sepi. Di masjid, William sholat Subuh berjamaah, sujud panjang sambil berdoa untuk Monica—agar tumbuh bahagia, agar selalu dilindungi, dan agar ia sendiri cukup kuat menjadi ayah sekaligus ibu baginya.Pulang dari masjid sekitar pukul 05:30, William mendengar suara tangisan dari lantai atas. Ia buru-buru naik tangga. Di kamar Monica, Bi Sumi sedang berusaha menenangkan anak itu, tapi Monica sudah tantrum: menangis kencang, menggeliat saat hendak dimandikan, dan terus berteriak, “Nggak mau Bi Sumi! Mau Papa!”William langsung mendekat, menggendong Monica yang badannya sudah basah air mata. “Sstt… Papa di sini, sayang. Papa yang mandiin ya.”Monica langsung diam, memeluk leher ayahnya erat-erat. Bi Sumi menghela napas lega dan mundur, memberi ruang. William membawa Monica ke kamar mandi, mengisi bak kecil dengan air hangat, dan memandikannya pelan-pelan. Monica tertawa kecil saat busa sabun dibuat jadi “jenggot” di wajahnya. Momen-momen kecil seperti ini yang membuat William merasa hidup—meski di balik tawa itu, ia sering teringat bagaimana Sabrina dulu memandikan Monica bayi dengan lagu-lagu nina bobo.Setelah mandi, William memilihkan baju untuk Monica: dress biru muda dengan motif bunga kecil, kaus kaki putih, dan sepatu sneakers mini yang lucu. Monica berputar-putar di depan cermin, senang sekali. “Cantik nggak, Pa?”“Cantik banget, putri Papa,” jawab William sambil mencium pipinya.William sendiri mengenakan stelan jas kantor abu-abu gelap yang rapi, dipadukan dengan celana jeans hitam kasual—gaya yang selalu ia pilih agar tak terlalu kaku. Di pergelangan tangan kirinya, jam tangan Seiko klasik yang dulu dibelikan Sabrina saat ulang tahun pernikahan mereka yang kedua. Ia selalu memakainya, meski Ardi Group bisa membeli jam merek Swiss termahal sekalipun.Mereka turun ke ruang makan untuk sarapan. Menu pagi itu telur mata sapi, roti bakar, dan buah potong. Monica duduk di kursi khusus anaknya, tapi langsung merengek, “Monica mau disuapin Papa.”William tersenyum, duduk di sampingnya, dan mulai menyuapi putrinya bergantian dengan makanannya sendiri. Monica lahap sekali, sesekali bercerita tentang mimpinya semalam—katanya bermimpi naik pesawat ke Spanyol bareng Papa dan Mama. William menelan rasa sesak, tapi tetap tersenyum. “Nanti kita ke sana ya, sayang. Janji Papa.”Setelah sarapan, mereka berangkat ke kantor. William memilih Audi Q8 hitam metalik hari ini—mobil yang nyaman untuk perjalanan kota. Monica duduk di car seat belakang, excited karena boleh ikut kerja bareng Papa. Tapi baru sepuluh menit di jalan, anak itu sudah tertidur lagi, kepalanya miring ke samping.Perjalanan ke Ardi Tower di Sudirman lancar, meski lalu lintas mulai ramai. William sesekali melirik kaca spion, memandangi Monica yang tidur damai. Ia ingat betul janji kemarin malam—dan betapa beratnya menyeimbangkan dunia bisnis raksasa dengan kebutuhan hati kecil seorang anak.Sampai di basement Ardi Tower, William memarkir mobil sendiri, lalu menggendong Monica yang masih tertidur pulas. Ia mengunci Audi dengan remote, lalu naik lift eksekutif langsung ke lantai 48—ruang rapat direksi. Beberapa staf yang sudah datang menyapa hormat, tapi tak ada yang berkomentar saat melihat Monica di gendongannya. Mereka sudah terbiasa; sejak Sabrina tiada, William kadang membawa Monica ke kantor saat tak ada yang bisa menjaga di rumah.Rapat direksi pagi itu dimulai pukul 08:00. Monica sudah bangun saat mereka masuk ruang rapat, tapi William menyuruhnya duduk diam di sofa kecil di sudut ruangan, dengan tablet anak berisi kartun dan camilan. Monica nurut, meski sesekali melirik ayahnya dengan mata penasaran.Hendra, Direktur Keuangan, membuka presentasi. “Pak William, integrasi BMW AG ke divisi perakitan mobil kita sudah resmi berjalan. Pabrik di Karawang dan Bekasi mulai menyesuaikan lini produksi untuk model-model BMW terbaru. Produksi lokal diperkirakan naik 30% tahun ini.”William mengangguk, matanya fokus pada slide. Tapi di dalam hati, ia merasa campur aduk—kebanggaan atas pencapaian, tapi juga kesedihan karena Sabrina tak pernah melihat kerajaan ini berkembang sepesat ini.Laporan berikutnya lebih mengejutkan. “Selain itu, akuisisi Sicame SA—perusahaan peralatan listrik asal Prancis—sudah final. Nilai transaksi 2,5 miliar poundsterling, atau setara sekitar Rp49.000 triliun pada kurs hari ini. Ini akan memperkuat divisi peralatan listrik kita di Eropa dan Asia.”Ruangan berdesir kagum. William tersenyum tipis, tapi pikirannya melayang: angka-angka fantastis ini terasa hampa tanpa Sabrina untuk berbagi.Yang terakhir, Direktur Ardi Airlines melaporkan dengan semangat: “Pak, akuisisi All Nippon Airways Jepang senilai 45 miliar poundsterling—sekitar Rp882.000 triliun—sudah disetujui regulator. Ini akan jadikan Ardi Airlines salah satu maskapai terbesar di Asia-Pasifik. Kami juga memesan dua unit Boeing 777-300ER baru untuk rute hub Madrid-Barcelona-Jakarta, plus pembangunan lounge eksklusif di Bandara Soekarno-Hatta dan Adolfo Suárez Madrid-Barajas.”Tepuk tangan ringan menggema. William mengangguk puas, tapi saat semua mata tertuju padanya, ia melirik Monica yang sedang asyik menggambar di tabletnya. Anak itu tak paham angka triliunan, tapi ia paham bahwa Papa-nya adalah “superhero” seperti yang ia bilang.Di tengah rapat, Monica tiba-tiba berjalan mendekat dan naik ke pangkuan William. Ia berbisik, “Papa, Monica haus.”William tersenyum, menuang air ke gelas kecil, dan memberinya minum—di depan semua direktur. Tak ada yang protes; mereka tahu betapa berharganya momen ini bagi bos mereka.Saat rapat selesai, William menggendong Monica lagi keluar ruangan. Di lift turun, ia berbisik, “Terima kasih ya sudah nurut tadi. Papa bangga sama Monica.”Monica tersenyum lebar. “Papa juga hebat! Banyak orang dengerin Papa.”William tertawa pelan, tapi matanya berkaca. Di balik semua kesuksesan bisnis ini, yang paling berharga baginya adalah senyum kecil di pangkuannya—dan janji untuk tak pernah meninggalkan Monica sendirian di dunia besar ini.

Selasa Siang, 2 Januari 2024 Rapat direksi selesai tepat pukul 12:15. William menggendong Monica yang mulai mengantuk lagi di pangkuannya sepanjang akhir presentasi. Anak itu sudah bosan duduk diam, meski tadi sempat tertawa kecil saat melihat slide pesawat baru Ardi Airlines. “Papa, Monica laper,” bisiknya manja sambil menggosok mata.William tersenyum lembut, mencium kening putrinya. “Iya, sayang. Kita pulang sekarang, ya. Makan siang bareng.”Ia membawa Monica ke lift eksekutif, lalu turun ke basement. Audi Q8 hitam masih terparkir rapi di slot khusus CEO. William mengikat Monica kembali di car seat, lalu mengemudi keluar dari Ardi Tower. Jalanan Sudirman siang itu ramai, tapi William tak buru-buru. Ia menyetel lagu anak-anak pelan agar Monica tak rewel.Di tengah perjalanan menuju Pondok Indah, Monica tiba-tiba bersuara keras, “Papa! Monica mau makan dulu! Laper banget!”William melirik kaca spion. Wajah Monica manyun, tangannya memegang perut. Ia tahu anak kecil tak bisa sabar lama. “Baiklah, kita mampir makan dulu ya. Mau makan apa?”“Yang enak!” jawab Monica ceria.William memutuskan mampir ke Blok M Plaza—tak terlalu jauh dari rute pulang, dan ada banyak pilihan makanan. Ia memarkir Audi di basement mall yang mulai ramai, lalu menggendong Monica keluar. Mobil dikunci dengan remote, bunyi bip kecil terdengar di tengah hiruk-pikuk parkiran.Monica ringan di gendongannya, kepalanya bersandar di bahu ayahnya. Mereka naik eskalator ke lantai makanan. Aroma berbagai masakan menguar: sate, bakso, sampai makanan cepat saji. Monica mencium-cium udara, lalu menunjuk satu restoran Jepang yang ramai. “Itu, Pa! Monica mau sushi!”William mengangguk. Ia selalu menuruti keinginan Monica untuk hal-hal kecil seperti ini—karena ia tahu, betapa banyak hal besar yang tak bisa ia berikan lagi sejak Sabrina pergi.Di dalam restoran, mereka duduk di meja dekat jendela. Pelayan cepat datang. William memesan sushi platter kecil untuk Monica—yang isi salmon dan tuna kesukaannya—dan semangkuk ramen panas dengan telur rebus untuk dirinya sendiri. Monica excited sekali, tangannya kecil memegang sumpit anak yang disediakan khusus.Saat makanan datang, William menyuapi Monica bergantian. “Aaa… buka mulut, sayang.”Monica lahap, mata berbinar. “Enak, Pa! Besok lagi ya?”“Tentu, kapan saja Monica mau,” jawab William sambil tersenyum. Untuk sesaat, dunia terasa sederhana lagi—hanya ayah dan anak menikmati makan siang biasa.Tapi tiba-tiba, seorang gadis muda mendekat ke meja mereka. Usianya mungkin delapan belas atau sembilan belas tahun, berpakaian sederhana: kaus putih longgar, celana jeans lusuh, dan sandal murah. Rambutnya panjang tergerai, wajahnya cantik tapi pucat, mata merah seperti habis menangis.Gadis itu berdiri ragu sejenak, lalu memberanikan diri. “Om… mau kencan sama saya enggak? Saya masih perawan. Kalau kencan sama saya… satu setengah miliar rupiah.”William hampir tersedak ramennya. Ia kaget bukan main, matanya melebar menatap gadis itu. Monica juga berhenti makan, memandang curious.“Kamu… kenapa? Duduk dulu sini,” kata William pelan, suaranya campur antara kaget dan prihatin. Ia menarik kursi kosong di sebelahnya.Gadis itu duduk perlahan, tangannya gemetar. Air matanya mulai jatuh. “Maaf ganggu, Om. Nama saya Silvia Putri Ramadhani. Saya… saya butuh uang. Ibu saya sakit kanker stadium empat di RS Dharmais. Bapak sudah meninggal dua tahun lalu. Saya sekolah di SMA Negeri 114 Jakarta Timur, kelas dua belas. Rumah kami kontrakan kecil di Cililitan… sebentar lagi mau digusur karena tunggakan. Saya nggak tahu harus gimana lagi, Om. Saya cari kerja, tapi nggak ada yang mau terima anak SMA. Ibu butuh operasi dan kemoterapi mahal… dokter bilang kalau telat, bisa… bisa nggak tertolong.”Suara Silvia bergetar, tangisnya semakin deras. William mendengarkan diam, dadanya sesak. Ia ingat betul rasa putus asa itu—saat Sabrina sakit dulu, meski ia punya segalanya, uang tak bisa menyelamatkan. Tapi gadis ini… menawarkan hal paling berharga yang ia punya hanya demi ibunya.Monica memandang Silvia dengan mata polos, lalu menyodorkan satu potong sushi. “Kakak makan ini. Monica kasih.”Silvia tersenyum tipis di tengah air mata, tapi menggeleng. William menghela napas panjang. “Silvia… saya nggak mau itu. Saya nggak akan ambil sesuatu yang berharga dari kamu. Tapi saya akan bantu kamu—dengan tulus, tanpa syarat apa pun.”Silvia menatapnya tak percaya. “Om… serius?”William mengangguk tegas. “Ayo, sekarang kita ke rumah sakit. Saya antar kamu ke ibu kamu.”Mereka bayar makan cepat—Monica sudah kenyang—lalu William menggendong putrinya lagi keluar mall. Di parkiran, ia buka pintu belakang Audi untuk Monica, lalu Silvia duduk di depan. Perjalanan ke RS Dharmais di Slipi memakan waktu hampir satu jam karena macet siang Jakarta.Di sepanjang jalan, Silvia cerita lebih banyak: bagaimana ibunya dulu penjahit rumahan, bapaknya supir angkot yang kecelakaan, dan bagaimana ia berjuang sekolah sambil jaga ibu. William mendengarkan diam, sesekali melirik Monica di belakang yang sudah tertidur lagi.Sampai di RS Dharmais, William parkir di depan gedung onkologi. Ia gendong Monica, lalu berjalan bersama Silvia ke ruang rawat. Ibu Silvia, seorang wanita kurus berusia sekitar lima puluhan, terbaring lemah di ranjang kelas tiga. Matanya terbuka saat melihat putrinya.“Sil… ini siapa?” tanyanya lemah.Silvia menangis lagi. “Bu, ini Om William. Beliau mau bantu kita.”William mendekat, tersenyum lembut. “Ibu tenang ya. Biaya pengobatan dari sekarang saya tangani semua.”Ia ke administrasi, keluarkan black card Centurion-nya—kartu langka yang tak pernah ia pamerkan. Petugas langsung proses: pindah ke kamar VIP, jadwal operasi besok, kemoterapi lengkap, dan semua tagihan lunas. Total biaya awal sekitar Rp800 juta, tapi William bayar tanpa berkedip.Kembali ke kamar, ibu Silvia menangis haru, memegang tangan William. “Nak… terima kasih. Allah balas kebaikanmu.”William menggeleng. “Nggak perlu Ibu. Saya cuma lakukan yang benar.”Ia lalu tanya nomor rekening Silvia—rekening tabungan sederhana di bank BNI. Di ponselnya, William buka mobile banking, transfer Rp550 miliar langsung. Mata Silvia melebar saat notifikasi masuk.“Om… ini… ini terlalu banyak! Saya nggak minta sebanyak ini!”William tersenyum. “Itu untuk ibu kamu sembuh total, sekolah kamu lanjut sampai kuliah, rumah baru kalau perlu, dan hidup kalian tenang. Jangan pernah lagi tawarkan hal seperti tadi ke siapa pun. Kamu berharga, Silvia. Jaga diri kamu.”Silvia menangis tersedu, memeluk kaki William. Monica yang bangun ikut memeluk, “Kakak jangan sedih.”William tulis nomor teleponnya di kertas kecil. “Kalau ada apa-apa, telepon saya kapan saja. Saya anggap kalian keluarga sekarang.”Mereka pamit saat sore menjelang. Di mobil pulang, Monica bertanya polos, “Papa, Kak Silvia sekarang happy ya?”William mengangguk, matanya berkaca. “Iya, sayang. Papa harap begitu.”Malam itu, saat menidurkan Monica, William duduk lama di tepi ranjang. Kebaikan hari ini mengingatkannya pada Sabrina—yang selalu bilang, “Mas, kalau kita punya rezeki lebih, bagi ke yang butuh.” Air matanya jatuh pelan. Di dunia yang keras ini, ia baru saja menyelamatkan dua nyawa—dan mungkin, menyembuhkan sedikit luka di hatinya sendiri.

Selasa Malam, 2 Januari 2024 Senja Jakarta sudah berubah menjadi malam pekat ketika William mengemudikan Audi Q8 keluar dari parkiran RS Dharmais. Monica duduk di car seat belakang, masih memeluk boneka keluarga barunya, mata kecilnya berbinar meski badannya mulai lelah setelah hari yang panjang. Di kursi penumpang depan, ponsel William sesekali bergetar notifikasi, tapi ia abaikan dulu. Yang penting sekarang adalah pulang ke Pondok Indah, mandi, sholat, dan istirahat—bersama putri satu-satunya.Jalanan Slipi menuju selatan masih macet ringan, lampu-lampu mobil membentuk sungai merah di depan mereka. Monica tiba-tiba bersuara riang dari belakang, “Papah… aku mau ke Spanyol! Mau ketemu Tariq. Tapi ke Tariq-nya pakai mobil ya, Papah.”William hampir salah injak rem. Ia melirik kaca spion, melihat wajah polos Monica yang serius. “Ke Spanyol pakai mobil, sayang? Itu jauh sekali. Kita harus nyeberang laut besar, butuh waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.”Monica manyun, bibirnya maju ke depan, tangannya menepuk-nepuk car seat. “Pokoknya pakai mobil! Monica nggak mau naik pesawat. Mau bareng Papah di mobil, kayak ke mall tadi!”Suara Monica mulai meninggi, ancaman tantrum sudah terasa. William menghela napas panjang, dadanya sesak. Ia tahu sifat keras kepala ini warisan dari Sabrina—istrinya dulu juga begitu kalau sudah menginginkan sesuatu. Tapi yang lebih menusuk adalah alasan di baliknya: Monica ingin segalanya “bareng Papah” karena ia tak pernah merasakan kehangatan ibu lagi.“Iya, Monica sayang… anak Papah yang paling cantik,” kata William lembut, suaranya hampir bergetar. “Nanti Papah urus semua. Paspor, visa, semuanya. Kita ke Spanyol bareng, janji.”Monica langsung diam, tersenyum lebar. “Yay! Makasih Papah!”Beberapa menit kemudian, Monica mengeluarkan tablet kecilnya—hadiah ulang tahun kemarin—dan mulai scroll gambar-gambar yang ia simpan dari dongeng malam sebelumnya. Tiba-tiba ia menunjuk layar ke depan. “Pah! Monica mau beli ini! Deportivo La Coruna, gambar Albert Luque giring bola!”William melirik sekilas. Ya, itu foto klasik Albert Luque, penyerang legendaris Deportivo La Coruña era 2000-an, sedang menggiring bola dengan jersey biru-putih khas klub Galicia itu. Mungkin Monica menemukannya saat cari gambar Spanyol di tablet.“Oh, itu Albert Luque, sayang. Waktu dia main di Deportivo La Coruña dulu. Klub hebat di Spanyol utara.”Monica manyun lucu, lidahnya masih belepotan mengucap nama klub. “Iya Papah… Monica mau beli La Koluna!”William tertawa pelan, tapi di dalam hati ada gelombang emosi yang deras. Permintaan Monica, sekecil apa pun, selalu terasa seperti keharusan baginya. Monica adalah anak perempuan satu-satunya, satu-satunya warisan cinta dari Sabrina. Sabrina tak pernah bisa memeluk Monica saat besar, tak pernah bisa menemani ke playground atau mendongeng tentang dunia. Jadi, apa pun yang Monica inginkan—meski terdengar mustahil—harus diwujudkan. Itu cara William menebus rasa bersalahnya, menebus kehilangan yang tak tergantikan.“Iya, sayang. Nanti Papah beli klub La Coruna buat anak Papah yang cantik,” janjinya sambil tersenyum, meski tahu itu berarti negosiasi miliaran euro.Monica tertawa kegirangan, lalu pelan-pelan tertidur lagi, tablet masih digenggam erat.Sampai di rumah Pondok Indah sekitar pukul 19:30, Monica sudah pulas. William menggendongnya hati-hati keluar dari mobil, melewati gerbang yang dijaga empat satpam. Rumah besar itu terasa lebih hangat malam ini, meski tetap sepi. Ia naik ke kamar Monica di lantai dua, menyelimutinya, mencium keningnya lama sekali. “Selamat tidur, putri Papa. Papa janji semua mimpi kamu jadi nyata.”Setelah itu, William mandi air hangat, mengusir lelah seharian. Ia sholat Maghrib dan Isya di mushola kecil, sujud panjang sambil berdoa untuk Monica, untuk Sabrina, dan untuk Silvia serta ibunya yang baru saja ia bantu.Sebelum tidur, William duduk di ruang kerja lantai tiga, memeriksa ponsel. Notifikasi bank masuk: transfer dividen tahunan dari Ardi Group sebesar 1 miliar poundsterling—setara dengan sekitar Rp19.600 triliun pada kurs hari itu. Angka fantastis yang bagi orang lain seperti mimpi, tapi bagi William hanya pengingat betapa besar tanggung jawabnya.Ia langsung kirim pesan singkat ke Direktur Investasi Ardi Group, Pak Reza: “Segera lakukan due diligence dan negosiasi pembelian mayoritas saham RC Deportivo de La Coruña. Prioritas tertinggi. Ini untuk Monica.”Tak lama, balasan masuk: “Siap, Pak William. Tim akan mulai besok pagi.”William tersenyum tipis. Klub yang kini berkompetisi di Segunda División itu memang sedang butuh investor kuat. Membelinya bukan masalah—yang penting Monica bahagia.Tiba-tiba, WhatsApp berdering lagi. Dari nomor baru yang ia simpan tadi: Silvia.“Om lagi apa? Terima kasih banyak, Om. Ibu sudah dipindah ke VIP, dokter bilang operasi besok lancar. Ternyata Om baik banget… Om, aku sepertinya jatuh cinta sama Om.”William terdiam membaca pesan itu. Dadanya kembali sesak. Silvia masih muda, penuh luka, dan mungkin salah paham atas kebaikan hari ini. Tapi di hatinya, hanya ada Sabrina—cinta yang tak pernah pudar, meski sudah tiga tahun.Ia balas pelan: “Silvia, saya senang bisa bantu kamu dan Ibu. Fokus ke sekolah dan kesehatan Ibu ya. Saya sudah anggap kalian keluarga, seperti adik sendiri. Jangan bilang cinta-cintaan dulu, kamu masih muda. Istirahat yang cukup malam ini.”Tak sampai semenit, balasan Silvia masuk lagi: “Hehe maaf Om, cuma bercanda. Tapi beneran terima kasih ya… Om orang terbaik yang pernah aku temui. Semoga Monica dan Om selalu bahagia.”William tersenyum haru, tapi air matanya jatuh pelan. Ia mematikan lampu ruang kerja, berjalan ke kamar utama yang masih terasa kosong tanpa Sabrina. Malam itu, sebelum tertidur, ia berbisik pada foto pernikahan di meja samping ranjang, “Sabrina… aku cuma berusaha jadi ayah yang baik buat Monica. Dan membantu orang lain, seperti yang kamu ajarkan dulu.”Di luar jendela, bintang-bintang berkelip, seolah menjawab doanya. Tahun baru ini baru dua hari, tapi sudah penuh janji—janji untuk Monica, jan

Lihat selengkapnya