3 Januari 2024 Adzan Subuh menggema pelan dari masjid dekat rumah saat langit Jakarta masih gelap. William terbangun lebih awal, seperti biasa. Ia menoleh ke samping ranjang—Monica masih tertidur pulas di kamarnya sendiri semalam, tapi William tahu hari ini akan berbeda. Ia bangkit perlahan, mandi dengan air hangat yang menyegarkan tubuh setelah malam yang penuh mimpi tentang Sabrina, lalu mengenakan sarung dan baju koko. Langkahnya ringan menuju masjid, berjalan kaki di udara pagi yang dingin, sujud panjang memohon kekuatan untuk hari baru—untuk Monica, untuk janji-janji yang ia ucapkan kemarin. Pulang dari masjid sekitar pukul 05:45, William sudah mendengar suara tangisan dari lantai atas. Tangis kecil yang pilu, disertai rengekan yang semakin keras. Ia buru-buru naik tangga dua anak sekaligus, langsung ke kamar Monica. Anak itu sudah duduk di ranjang, rambut ikalnya acak-acakan, air mata mengalir di pipi merona. “Ada apa, anak Papah?” tanya William lembut, langsung menggendong Monica ke pelukannya. Tubuh kecil itu gemetar, tangannya mencengkeram baju ayahnya erat-erat.Monica masih menangis tersedu, suaranya campur isak. “Papah… aku mau La Koluna… sama ketemu Tarik… sekarang!”William tersenyum haru, meski dadanya sesak. Tantrum pagi ini bukan sekadar rewel—ini adalah kerinduan anak kecil yang tak paham batas dunia, tapi paham betul bahwa Papah adalah satu-satunya orang yang bisa wujudkan segalanya. Sejak Sabrina tiada, Monica sering seperti ini: mimpi-mimpinya terasa begitu nyata, dan kalau tak segera terpenuhi, dunia seolah runtuh. “Iya, Monica sayang… anak Papah yang paling cantik,” bisik William sambil mengelus punggungnya. “Nanti kita ke La Coruña, ketemu Tariq bareng. Tapi sekarang mandi dulu ya, biar wangi dan segar. ”Monica masih cemberut, tapi perlahan mengangguk. William membawanya ke kamar mandi, mengisi bak kecil dengan air hangat dan busa sabun beraroma stroberi kesukaannya. Monica mulai tenang saat masuk air, bahkan tertawa kecil saat mencipratkan air ke wajah ayahnya. “Ciprat Papah! Hihi!”William pura-pura kaget, membiarkan air membasahi bajunya. Tawa Monica renyah mengisi ruangan, dan untuk sesaat, William merasa Sabrina ada di sana—tersenyum dari balik pintu, seperti dulu saat mereka bertiga mandi bareng bayi Monica. Air mata hampir jatuh, tapi ia tahan, ikut tertawa dan balas menciprat pelan.Setelah mandi, William mengeringkan tubuh Monica dengan handuk lembut, lalu memakaikan bajunya: dress kuning cerah dengan motif bunga matahari, kaus kaki bergambar kartun, dan sepatu kecil yang nyaman. Monica berputar di depan cermin, tapi tetap manja memeluk kaki ayahnya.“Papah… aku mau ke Spanyol. Pakai mobil ya, Papah. Mobil Foltunel!”William tersenyum lebar, mengangkatnya lagi. “Iya, Monica sayang. Hari ini Papah sama Monica urus paspor dulu. Monica ikut Papah ke imigrasi, terus ke Polda Metro Jaya urus SIM internasional sama STNK internasional. Abis itu, kita ke Spanyol pakai mobil Fortuner, janji. ”Monica melonjak kegirangan, bicaranya masih belepotan lucu. “Ye ye ye! Ke imiglasi!”William tertawa pelan, mencium pipinya berkali-kali. Betapa polosnya dunia anak tiga tahun—Spanyol terasa seperti ke mall saja, asal bareng Papah dan naik mobil besar.William sendiri mengenakan stelan baju kantor biru tua yang rapi, dipadukan celana chino abu-abu, dan jam tangan Seiko klasik yang selalu setia di pergelangan—pemberian Sabrina yang tak pernah ia lepas.Mereka turun ke ruang makan. Sarapan pagi itu nasi uduk hangat dengan telur dadar dan tempe orek. Monica duduk di kursi khususnya, tapi langsung merengek manja, “Papah suapin…”William duduk di samping, menyuapi putrinya dengan sabar, bergantian dengan makanannya sendiri. Monica lahap sekali, sesekali bercerita tentang “Tariq yang naik gunung” dari dongengnya. William mendengarkan, matanya penuh cinta. Momen-momen ini yang membuatnya bertahan—tawa kecil yang mengisi kekosongan besar di hatinya.Setelah sarapan, mereka berangkat. William memilih Honda HR-V putih hari ini—mobil yang nyaman untuk urusan kota, tak terlalu mencolok seperti Fortuner atau Audi. Monica duduk di car seat belakang, excited sekali memandang jendela.Pertama, ke Kantor Imigrasi Jakarta Selatan. Jalanan pagi masih lengang, mereka sampai cepat. Di dalam gedung, William menggendong Monica sepanjang antrean. Petugas langsung prioritas saat tahu identitasnya—tapi William tetap sabar ikut prosedur. Sesi foto paspor: Monica duduk manis di kursi tinggi, tersenyum lebar saat difoto. William bayar biaya percepatan dengan black card-nya, paspor elektronik baru untuk mereka berdua selesai dalam hitungan jam.“Yeay! Paspol!” seru Monica saat keluar, memegang map paspor kecilnya.Selanjutnya, ke Polda Metro Jaya di kawasan Semanggi. Lalu lintas mulai ramai, tapi William tak tergesa. Di sana, urus SIM internasional untuk dirinya dan STNK internasional untuk Fortuner—dokumen khusus yang jarang orang biasa urus, tapi bagi William, ini serius karena janji ke Monica. Petugas kagum melihat rencana “road trip ke Spanyol”, tapi proses lancar. Bayar lagi dengan black card, semua selesai sebelum siang.Monica sudah mulai ngantuk di gendongan, tapi tetap ceria. “Papah… sekarang ke Spanyol ya?”William tersenyum haru, mencium keningnya di parkiran Polda. “Belum hari ini, sayang. Tapi sebentar lagi. Papah janji, kita akan ke sana bareng Fortuner, lewati laut besar, lihat Jabal Tariq, dan Monica bisa lihat La Coruña sendiri.”Monica mengangguk puas, kepalanya bersandar di bahu ayahnya.Mereka lanjut ke Ardi Tower untuk urusan kantor sore nanti, tapi di mobil, William melirik Monica yang mulai tertidur. Dadanya penuh rasa—janji-janji kecil ini terasa seperti menebus waktu yang hilang dengan Sabrina. Meski dunia tahu dia konglomerat raksasa, baginya, yang terpenting adalah membuat mimpi anak kecil ini jadi nyata. Karena Monica tak punya ibu untuk cerita dongeng, setidaknya ia punya Papah yang akan gerakkan langit dan bumi demi senyumnya.
Rabu Pagi, 3 Januari 2024
Honda HR-V putih meluncur mulus masuk ke basement Ardi Tower. William memarkir di slot khusus CEO, lalu menggendong Monica yang sudah bangun lagi di tengah perjalanan dari Polda. Anak itu memeluk leher ayahnya erat, kepalanya bersandar di bahu, masih excited bicara belepotan tentang “imiglasi” dan “paspol baru”. William tersenyum, mengunci mobil dengan remote, bunyi bip kecil terdengar di tengah parkiran yang mulai ramai mobil eksekutif.Mereka naik lift langsung ke lobi lantai dasar. Begitu pintu lift terbuka, beberapa karyawan yang sedang lewat langsung menyapa hormat. “Selamat pagi, Pak William!” “Pagi, Pak!” Suara mereka ramah, tapi penuh penghormatan. Monica melambai kecil dari gendongan, membuat beberapa staf wanita tersenyum gemas.Di meja resepsionis eksekutif, Clarissa—sekretaris pribadi William yang berusia awal tiga puluhan—sudah menunggu dengan senyum lebar. Clarissa selalu seperti itu: riasan sempurna, baju ketat yang elegan, dan nada suara manja yang berusaha menarik perhatian. Ia mendekat, tangannya memegang tablet jadwal.“Selamat pagi, Pak William… wah, Non Monica makin cantik ya hari ini,” katanya sambil mengedipkan mata ke Monica, tapi pandangannya cepat kembali ke William. “Bapak nanti meeting jam sepuluh dengan Pak Reza dan Ibu Anissa. Bahas update maskapai ANA, Sicame SA, dan Deportivo La Coruña.”William mengangguk datar, meski Clarissa sedikit mendekatkan tubuhnya. “Terima kasih, Clarissa.”Clarissa tersenyum lebih lebar, tapi William sudah berjalan menuju lift eksekutif, menggendong Monica yang mulai menguap lagi.Di lift naik ke lantai 48, ponsel William bergetar. WhatsApp dari Silvia.“Assalamualaikum mas william, selamat pagi ”William mengerutkan kening sebentar, tapi balas cepat sambil Monica mengintip layar.“Waalaikumsalam Silvia, selamat pagi juga. Kok tumben kamu pakai bahasa ‘mas’?”Balasan Silvia masuk hampir seketika: “Hmm iya mas biar dekat aja, soalnya mas william itu masih muda kok, terus ganteng, baik banget sama orang. ”William kaget, hampir menjatuhkan ponsel. Ia melirik Monica yang polos, lalu mengetik cepat: “Bagaimana kabar Ibu Silvia?”“Iya mas, alhamdulillah sudah enakan. Kata dokter hari ini mau operasi, doain ya mas. Aku deg-degan banget.”William langsung balas: “Iya Silvia, Om doain semoga lancar dan Ibu cepat sembuh.”Tak lama, Silvia balas lagi, nada manjanya semakin terasa: “Mas nanti mas datang ke rumah sakit enggak? Soalnya aku kangen sama mas william… ”William terdiam di depan pintu ruang rapat, dadanya campur aduk. Silvia masih sangat muda, mungkin baru lulus SMA nanti, dan kebaikan hari itu sepertinya membuatnya salah paham. Tapi ia tak ingin menyakiti gadis yang sedang susah itu.“Iya Om nanti ke rumah sakit,” balasnya singkat.Langsung emot love berterbangan dari Silvia: “Iya sampai ketemu lagi mas! Hati-hati di jalan mas ya ”William menghela napas panjang, mematikan layar ponsel. Monica menarik bajunya, “Papa ngobrol sama siapa?”“Sama Kak Silvia yang kemarin, sayang. Dia minta doa buat Ibunya operasi hari ini.”Monica mengangguk polos. “Doain ya Pa, biar Kak Silvia happy.”William mencium keningnya, matanya berkaca. Betapa murninya hati anak kecil—dan betapa rumitnya dunia orang dewasa.Rapat dimulai tepat jam sepuluh di ruang direksi yang menghadap skyline Jakarta. Monica duduk diam di sofa kecil dengan tablet anaknya, menggambar-gunung dan mobil Fortuner. Pak Reza dan Ibu Anissa sudah siap dengan presentasi.Pak Reza membuka: “Pak William, integrasi ANA Group berjalan lancar. ANA Airways, ANA Cargo, dan ANA Enterprise kini jadi tulang punggung penerbangan kita di Asia-Pasifik. Hub dan lounge premium sudah operasional di Buenos Aires, Haneda, Narita, Kansai, London, New York, Amsterdam, Madrid, Barcelona, Santiago, Bogotá, Washington, Canberra, Ottawa, Brasília, Paris, Berlin, München, Oslo, Roma, Milan—dan puluhan kota lain. Total armada 267 unit, mayoritas Airbus modern.”Ibu Anissa melanjutkan tentang Sicame SA: “Kita sudah mulai ekspansi pabrik di Prancis. Sicame induk bangun fasilitas baru di Ajaccio, Cannes, Metz, Nice. Anak perusahaan Dervaux SA buka pabrik di Marseille, Montpellier, Nancy, Valenciennes. Catu SA juga: Reims, Toulouse, Dijon, Lille, Lyon. Ini akan kuatkan posisi kita di pasar peralatan listrik Eropa.”“Ardi Airlines sendiri,” tambah Pak Reza, “hub dan lounge baru sudah bisa beroperasi penuh dengan dua Airbus raksasa yang baru kita terima. Rute Madrid-Jakarta akan jadi unggulan.”Terakhir, soal Deportivo La Coruña. “Klub ini sedang di Segunda Federación—divisi empat Spanyol—dengan beban hutang cukup besar. Akuisisi awal bisa kita lakukan dengan 100 juta poundsterling—sekitar Rp1.960 triliun pada kurs hari ini. Investasi lanjutan 3 miliar poundsterling—sekitar Rp58.800 triliun—untuk perbaikan tim, fasilitas latihan baru, akademi yunior, renovasi total Stadion Riazor, sewa stadion sementara selama renovasi, plus sinergi bisnis: anak perusahaan pertanian dan peternakan kita di Spanyol, kerja sama energi-listrik dengan Ardi España Electric SA dan Sicame SA. Ini bisa jadi investasi jangka panjang yang menguntungkan, sekaligus branding.”William mendengarkan serius, tapi pikirannya sesekali melayang ke Monica yang sedang menggambar di sudut ruangan. Saat giliran bicara, ia menarik napas dalam.“Oh iya, semua rencana itu saya setujui. Lanjutkan negosiasi dan eksekusi secepatnya.”Pak Reza dan Ibu Anissa mengangguk puas.“Tapi mulai minggu depan—mungkin beberapa bulan ke depan—saya akan melakukan perjalanan jangka panjang. Saya mau ke Spanyol, perjalanan darat. Anak saya, Monica, ingin melihat Gunung Tariq di Gibraltar… dan Stadion Riazor di Deportivo La Coruña.”Ruangan mendadak hening. Pak Reza dan Ibu Anissa saling pandang, kaget bukan main. Perjalanan darat dari Indonesia ke Spanyol? Itu berarti ribuan kilometer, nyeberang benua, laut, padang pasir—petualangan gila yang tak masuk akal untuk seorang CEO dengan kerajaan bisnis sebesar ini.“Pak… serius?” tanya Ibu Anissa hati-hati.William tersenyum lembut, melirik Monica yang sedang tersenyum lebar di sofa—seolah mendengar namanya disebut. “Serius. Monica ingin ke sana pakai mobil Fortuner. Dia ingin ‘ketemu Tariq’ dari dongeng saya. Dan sekarang… dia juga ingin lihat stadion klub yang akan jadi miliknya nanti.”Monica melonjak dari sofa, berlari kecil mendekat. “Iya! Monica mau ke Riazor! Bareng Papa!”Pak Reza tertawa pelan, tapi matanya berkaca—ia tahu betul latar belakang William. “Kalau begitu… kami pastikan semua berjalan lancar di sini, Pak. Fokus Bapak ke Monica saja.”William mengangguk, menggendong putrinya lagi. Dadanya penuh rasa—janji kecil untuk Monica ini terasa lebih besar dari semua akuisisi miliaran poundsterling. Karena di balik angka-angka itu, yang ia cari hanyalah cara menebus kehilangan Sabrina: memberi Monica dunia yang penuh cinta, meski harus menyeberangi lautan dan gunung demi mimpi anak kecilnya.
Rabu Sore, 3 Januari 2024
Rapat selesai tepat sebelum Ashar. Cahaya sore Jakarta menyusup melalui jendela kaca lantai 48 Ardi Tower, menerangi wajah Monica yang mulai lelah tapi tetap ceria di sofa kecil. William menggendong putrinya lagi, merasakan kehangatan tubuh kecil itu di dadanya—satu-satunya obat untuk hari yang penuh angka miliaran dan keputusan besar.Sebelum meninggalkan ruangan, ia memanggil Clarissa yang sudah menunggu di luar pintu dengan tablet di tangan. “Saudari Clarissa, mulai minggu depan—dan mungkin beberapa bulan ke depan—saya akan berada di luar Indonesia. Perjalanan darat ke Spanyol. Jika ada urusan kantor mendesak, hubungi saya langsung lewat WhatsApp saja. Tim direksi sudah saya brief untuk handle operasional sehari-hari. ”Clarissa mengangguk cepat, senyumnya sedikit kaku—mungkin karena kaget, mungkin karena kecewa. “Iya, Pak. Baik, Pak William.”William tersenyum tipis, lalu berjalan menuju lift. Di dalam lift turun, Monica sudah meringkuk di pelukannya, kepalanya bersandar di bahu ayahnya. Saat keluar ke basement, William membuka pintu Honda HR-V, mengikat Monica di car seat, lalu mengemudi keluar dari Ardi Tower.Di perjalanan pulang awal, William melirik kaca spion. Monica memandangnya dengan mata besar penuh harap. Ia tersenyum lembut, suaranya penuh kehangatan. “Monica, anak Papah… besok pagi kita ke kedutaan urus visa ya. Setelah visa selesai, baru Monica sama Papah bisa berangkat ke Spanyol. Tapi janji dulu, selama perjalanan Monica nurut sama Papah, ya? Nggak rewel, makan yang benar, tidur cukup.”Monica mengangguk cepat, tangan kecilnya meraih tangan ayahnya dari belakang. “Iya Papah… Monica nurut. Jadi kita bisa ketemu Tarik sama La Kolona ya, Pah?”William tertawa pelan, tapi matanya berkaca. Impian Monica—sekecil dan sepolos apa pun—adalah tugas suci baginya. Monica tak pernah merasakan pelukan ibu yang hangat setiap hari, tak pernah mendengar suara Sabrina menyanyi nina bobo. Jadi, kalau anak ini ingin menyeberangi benua hanya untuk “ketemu Tariq” dari dongeng dan melihat stadion klub sepak bola, William akan wujudkan. Tak ada yang terlalu besar untuk menebus kehilangan itu.“Iya, Monica sayang… anak Papah yang paling berharga,” jawabnya lembut. “Kita akan melewati banyak negara. Perjalanannya panjang dan seru: dari Indonesia ke Malaysia, terus Thailand, Kamboja, Laos, China, Uzbekistan, Iran, Syria, Lebanon, Turki, Bulgaria, Serbia, Kroasia, Slovenia, Italia, Perancis, Spanyol… bahkan ke Inggris dan Gibraltar, baru sampai ke Jabal Tariq yang Monica impikan.”Monica tersenyum lebar, mata kecilnya berbinar meski tak paham sepenuhnya betapa jauh dan berbahayanya rute itu. “Yay! Petualang bareng Papah!”William menahan air mata, tangannya menggenggam kemudi lebih erat. Di hatinya, perjalanan ini bukan sekadar memenuhi keinginan anak—ini adalah cara ia membawa Sabrina ikut serta, dalam setiap cerita dongeng, setiap janji, setiap kilometer yang akan mereka tempuh bersama.Sampai di rumah sebentar untuk sholat Ashar. William menggelar sajadah di mushola kecil, Monica langsung ikut-ikutan di sampingnya—gerakan takbir kecil, ruku yang miring, sujud yang lucu. Ia belum mengerti makna, tapi sudah tahu ini waktu spesial bareng Papah. William sujud panjang, berdoa dalam hati: “Ya Allah, lindungi Monica di perjalanan kami. Biarkan dia bahagia, seperti yang Sabrina inginkan.”Setelah sholat, mereka langsung berangkat lagi dengan Honda HR-V—menuju RS Dharmais. Di jalan, William mampir ke outlet Sabrina Bakery di kawasan Pondok Indah. Toko roti kecil itu peninggalan Sabrina: resep-resep Prancis yang ia pelajari saat kuliah seni dulu, kini dikelola tim profesional tapi tetap pakai nama istrinya.Pegawai-pegawai langsung menyapa hangat saat William masuk, menggendong Monica. “Selamat sore, Pak William! Wah, Non Monica tambah besar ya!” Salah satu pegawai wanita, Mbak Rina yang sudah lama bekerja sejak zaman Sabrina, mendekat dan mencubit pipi Monica gemas. “Cantik banget kayak Mamanya dulu.”Monica tertawa kegelian, William tersenyum tapi dadanya sesak mengingat Sabrina yang dulu sering berdiri di belakang meja itu, tersenyum sambil memanggilnya “Mas” saat ia mampir sepulang kerja. Ia beli beberapa kotak roti favorit—croissant hangat, pain au chocolat, dan macaron warna-warni untuk Monica. Bayar dengan black card seperti biasa, tanpa melihat nominal.Sampai di RS Dharmais saat maghrib mulai turun. William parkir, gendong Monica dan bawa kotak roti ke kamar VIP ibu Silvia. Silvia sedang duduk di samping ranjang ibunya yang baru selesai operasi, wajahnya lelah tapi penuh harap. Begitu melihat William masuk, mata Silvia langsung berbinar, senyumnya mekar lebar—seperti gadis remaja yang bertemu pujaan hati.“Mas William datang!” serunya pelan, berdiri dan mendekat.William tersenyum ramah, menyerahkan kotak roti. “Ini buat kamu dan Ibu. Croissant hangat dari Sabrina Bakery.”Silvia menerima dengan tangan gemetar sedikit, matanya tak lepas dari wajah William. “Makasih banyak, Mas… Ibu baru selesai operasi, alhamdulillah lancar. Dokter bilang pemulihan bagus.”William mengangguk, melirik ibu Silvia yang tersenyum lemah dari ranjang. Monica melambai kecil, “Halo Tante!”Obrolan ringan sebentar, lalu William bilang pelan, “Silvia, minggu depan—dan mungkin beberapa bulan ke depan—saya nggak di Indonesia. Saya dan Monica akan ke Spanyol… pakai mobil, perjalanan darat.”Silvia melebar matanya, kaget bukan main. “Spanyol? Pakai mobil? Kan Spanyol itu dekat laut Mediterania, jauh banget dari sini, Mas! Nyeberang benua… petualangan gila!”William tersenyum lembut, mengelus rambut Monica. “Iya. Monica ingin begitu. Dia mau lihat Jabal Tariq dan stadion klub sepak bola di sana. Saya… nggak bisa nolak impian anak saya.”Silvia terdiam sejenak, matanya berkaca. Ia bisa merasakan cinta William pada Monica—cinta yang dalam, yang rela melakukan apa saja demi senyum kecil itu. Dadanya hangat, tapi juga sedih. “Mas William… emang sayang banget sama Monica ya. Rela ajak petualang sejauh itu… hati-hati di jalan, Mas. Jangan lupa makan, jangan capek. Aku… aku selalu merindukan Mas di Indonesia.”Suara Silvia pelan di akhir, hampir berbisik, wajahnya merona. William tersenyum ramah, tapi hatinya tetap tenang—hanya ada tempat untuk Sabrina dan Monica di sana.“Iya, Silvia. Kamu juga jaga Ibu baik-baik. Kalau ada apa-apa, WA saya kapan saja.”Mereka pamit saat lampu kamar mulai redup. Di mobil pulang, Monica sudah tertidur di car seat, kotak macaron kosong di pangkuannya. William mengemudi pelan, memandang senja Jakarta yang merah jingga. Perjalanan besar akan segera dimulai—bukan hanya ke Spanyol, tapi ke penyembuhan hati yang lebih dalam. Untuk Monica. Untuk kenangan Sabrina. Untuk hidup yang tak pernah benar-benar utuh lagi, tapi tetap ia jalani dengan penuh cinta.