Jendela kaca patri di kamar lantai atas manor itu berembun, dingin oleh ciuman malam yang merayap naik dari lembah. Di baliknya, Archie von Nebelheim yang baru genap berusia tujuh tahun meringkuk di atas kursi beludru tua, terlalu kecil untuk ukuran ruangan yang megah dan sunyi itu.
Bahu kecilnya tampak rapuh. Di tengah keluarga Nebelheim yang menjunjung tinggi kekuatan sihir dan ketangguhan—terutama memiliki seorang kakak perempuan yang menjadi keajaiban di usia belia—Archie adalah bayang-bayang yang tertinggal.
Sihirnya belum juga bangkit. Darah bangsawan yang mengalir di nadinya terasa seperti beban berat yang menghimpit dada, sementara tekanan dari para pengurus kediaman dan bayang-bayang sang ayah membuatnya merasa selalu kurang.
Sekonyong-konyong sunyi di kamar itu dipecah oleh sesuatu yang lain.
Desir angin nan halus melintasi kaca luar, membawa suara yang seolah bukan berasal dari dunia nyata. Bisikan itu tipis, menyerupai gesekan ranting pinus di tengah badai, namun terdengar begitu dekat, memanggilnya dengan lembut.
"Anak manis... mari, ikutlah denganku..."
Archie menelan ludah, jemari kecilnya mencengkeram erat birai jendela. Bulu kuduknya meremang. Ia tidak tahu suara siapa itu, atau mengapa udara di dalam kamarnya mendadak terasa beku, seolah musim dingin datang lebih cepat hanya untuknya.
Dengan napas tertahan dan jantung yang berdegup kencang, bocah itu perlahan mendekatkan wajahnya ke kaca yang berembun, lalu dengan suara gemetar, ia berbisik ke arah kegelapan di luar sana, "Siapa... siapa di sana?"
Tiada jawaban selain embusan angin yang semakin mendingin, membuat nyala lilin di meja belajarnya berkedip liar.
Krieett…
Suara pintu kayu berderit pelan memecah konsentrasi rapuh sang bocah.
Seorang pelayan wanita paruh baya melangkah masuk. Wajahnya menyeringai ramah, namun sorot matanya menyembunyikan kelelahan yang sama dengan apa yang dirasakan seluruh distrik malam ini.
"Tuan Muda Archie," panggil pelayan itu lembut, menghampiri meja belajar tempat sang bocah merenung. "Waktunya makan malam. Graf sudah menunggu di ruang makan utama, dan... udara di luar semakin tidak ramah malam ini. Jendela itu sebaiknya ditutup rapat."
Archie mengerjap, menarik pandangnya dari jendela yang kini sepenuhnya buram oleh embun, lalu menatap pelayan itu dengan mata sayu.
Archie mengangguk kecil, mengalihkan pandangnya dari kaca jendela yang kini terasa begitu mengancam. Kaki kecilnya melangkah pelan meninggalkan meja belajar, mengikuti langkah sang pelayan.
Koridor manor terbentang panjang dan sunyi, diterangi oleh deretan pelita dinding yang apik namun gagal menghapus kesan suram malam itu.
Archie berjalan di belakang sang pelayan, langkah kakinya bergemerincing pelan di atas lantai pualam yang dilapisi permadani tebal. Pikirannya masih melayang pada bisikan dingin di jendela kamarnya, membuat tenggorokannya terasa kelat.
Di ujung koridor, pintu ganda kayu ek berukir lambang keluarga Nebelheim terbuka lebar. Dari dalam sana, aroma daging panggang dan rempah hangat menguar, bercampur dengan keheningan yang terasa kaku.
Di ruang makan utama yang luas, Graf Nebelheim duduk seorang diri di ujung meja panjang.
Pria paruh baya itu mengenakan jubah beludru gelap dengan lambang kebangsawanan tersulam rapi di dadanya. Guratan lelah tampak jelas di wajahnya yang tegas. Garis-garis kecemasan tercetak di sekitar rahangnya, memikirkan laporan para prajurit yang belum juga kembali dari Lembah Kaltwind.
Ia memegang gelas perak berisi anggur merah, namun isinya nyaris tak tersentuh.
Mendengar langkah kaki mendekat, Graf mengangkat kepalanya. Tatapannya yang tajam dan mengintimidasi langsung menyapu sosok pelayan yang membimbing putranya, sebelum akhirnya jatuh pada bocah itu.
"Kau terlambat, Archie," suara berat Graf memecah keheningan ruangan, terdengar datar namun sarat akan tuntutan yang selalu berhasil membuat bahu kecil putranya menciut.
Graf mengedarkan pandangannya ke sekeliling meja makan yang kosong di sisi-sisi lainnya, lalu mengerutkan kening.
"Dan kakakmu?" tanya Graf dingin, menatap lurus ke arah Archie. "Di mana Yirani? Apakah dia belum kembali dari patroli gilanya di perbatasan?"
Archie menunduk dalam-dalam, menatap ujung sepatunya sendiri. Tenggorokannya tercekat, lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan ayahnya.
Di hadapan Graf Nebelheim, keberadaannya selalu terasa terlalu kecil, terlalu rapuh, seolah ia hanyalah kekecewaan berjalan yang menumpang hidup di keluarga bangsawan.
Sebelum Archie sempat merangkai kata, sebuah suara dingin dan tajam memotong keheningan ruang makan dari arah pintu masuk.
"Aku di sini, Ayah."