Dingin yang mencengkeram perlahan surut, digantikan oleh rasa hangat yang samar merayap lembut di kulit Archie. Isak tangis yang tertahan di tenggorokannya perlahan mereda seiring napasnya yang kembali teratur.
Dalam lelah yang teramat sangat, kelopak mata bocah itu akhirnya menyerah. Ia tertidur dalam posisi meringkuk di atas kursi beludru, membawa sekujur tubuhnya yang gemetar ke dalam dunia mimpi.
Dan di sanalah, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mimpi itu datang.
Bukan lagi lorong-lorong manor yang suram atau bentakan tajam sang ayah yang menghantam dada.
Dalam mimpinya, Archie mendapati dirinya berlari di sebuah padang selesa. Di bawah langit senja nan keemasan, rumput-rumput berbisik lembut mengelilingi langkah kakinya yang kini terasa ringan, seolah ia tidak lagi membawa beban darah bangsawan yang menyesakkan.
Tiada tuntutan. Tiada tatapan dingin penuh kekecewaan.
Di hadapannya, sesosok figur berjubah perak berdiri tersenyum ramah di bawah naungan pohon willow yang rindang, mengulurkan tangan dengan kehangatan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Di tempat itu, ia tak perlu menjadi penyihir atau pewaris yang sempurna. Ia hanya seorang anak kecil yang disambut dengan senyum dan pelukan.
Archie melangkah maju dalam tidurnya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman kecil yang damai, sama sekali tidak menyadari bahwa di dunia nyata, suhu di kamar itu kembali turun. Embun beku di jendela mulai membentuk pola-pola sayap peri yang berkilau di bawah pinar pucat rembulan.
Namun, semua itu perlahan memudar, meleleh seperti lilin yang ditiup angin dingin. Sandikala mendadak berubah kelam. Padang gembala musnah, berganti menjadi pualam hitam yang dingin dan memantulkan bayangan manor Nebelheim yang menjulang angkuh.
Suasana berubah kontras. Archie tak lagi berdiri sendiri dengan ringan. Beban berat kembali menghimpit dada kecilnya.
Ia mendapati dirinya kembali duduk di ujung meja makan yang panjang, di bawah sorot lampu kristal yang menyilaukan mata. Di hadapannya, Graf Nebelheim berdiri menjulang dengan wajah mengeras, melontarkan bentakan-bentakan tajam yang menghujam tanpa henti—kata-kata penuh kekecewaan, tuntutan darah bangsawan yang sempurna, dan caci maki yang mempertanyakan keberadaannya sebagai pewaris.
"Pewaris Nebelheim tidak boleh lemah! Kau tidak berguna, Archie!"
Suara sang ayah bergema, memantul di dinding-dinding ruang makan, menghantam telinganya hingga berdenging hebat.
Archie kecil meringkuk di kursinya, air mata menetes deras, memohon agar siksaan itu berhenti. Ia menoleh ke samping, mencari secercah pembelaan atau sekadar tatapan hangat.