Kantung mata berwarna hitam menghiasi wajah seorang pria paruh baya berambut blonde itu. Entah sudah berapa lama ia tidak bisa tertidur nyenyak. Setiap kali ia memejamkan mata untuk beristirahat, mimpi buruk selalu datang. Ia sampai takut untuk memejamkan mata. Takut ia akan melihat sosok yang sangat ia cintai dan bercengkerama dengannya di situ, namun harus terbangun kembali dengan perasaan kosong. Tapi, sekuat apapun ketakutan tersebut, tubuhnya tidak cukup kuat untuk menopangnya. Kepalanya tenggelam di bantalnya yang sudah kusam itu.
Malam itu, Ia bermimpi. Ia melihat sekelebat sosok wanita berbaju putih dengan rambut panjang yang melambai-lambai ditiup angin di sebuah padang bunga bakung putih. Wanita itu menengok ke arahnya, wajahnya tak terlihat dengan jelas, namun ia bisa mengerti yang ia ucapkan.
"... Tak puaskah kamu...?"
Langit jingga dan cahaya matahari yang hangat tak mampu menutupi betapa dingin nada dan hawa yang dipancarkan oleh sosok tersebut.
"...Bahkan secuil kebahagiaan yang kupunya pun..."
Pria itu terbangun dengan napas terengah-engah. Mimpi seburuk apapun, ia belum pernah menjumpai sosoknya yang begitu dingin.
Ia sangat mengenal sosok itu. Wanita kuat yang pernah menjadi sumber keceriaan dan kebahagiaannya. Wanita yang dulu pernah mengajarinya untuk menjadi pribadi yang tangguh meski memiliki keterbatasan. Namun, wanita itu pula yang sekarang menjadi sumber dukanya. Ia sudah pergi meninggalkannya beberapa bulan yang lalu karena sakit berkepanjangan.
"Sarah..." Gumam pria itu.
Ia lalu beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ruang makan untuk menenangkan diri. Di meja makan terdapat dua buah gelas kosong, yang satu terbalik dan terlihat agak berdebu, sedangkan satunya terlihat masih ada sedikit air tersisa di dalamnya. Dengan gerak yang sedikit terburu namun lemah, ia meraih gelas yang sudah terpakai itu dan menuangkan air dari wadah di dekatnya. Ia minum air itu dengan cepat sambil masih terengah-engah.
Di dekat situ, terlihat ada sebuah foto yang dibingkai oleh pigura kecil. Sebuah potret dirinya dan sang istri saat mereka belum lama menikah. Beberapa detik berlalu sebelum ia meraih foto tersebut dan memandangnya dengan tatapan kosong.
"... Heh... Heheheh..."
"Sepuluh tahun kita bersama..."
"Kau sungguhan sudah pergi...?"
Ia menurunkan tangannya yang menggenggam foto itu, sementara tangan lainnya menutupi matanya.
"Kau ambil kakinya..."
"Kau ambil semangatnya..."
"Kau ambil impiannya..."
"Kau ambil kebahagiaannya..."
Ia terdiam.
Napasnya tersengal.
"...Dan sekarang, kau ambil nyawanya pula?"
"Haha..."
"Hahahaha..."
Ia mendongak tajam.
"Tak puaskah kau!?"
"Si munafik yang hanya menonton dari kursi singgasanamu."
"Bahkan saat aku berusaha mengembalikan senyumannya, kau tak pernah memandang kami!"
"MANA MALAIKAT PENGHIBUR YANG KAUJANJIKAN!???"
BRAK!!