Para siswa dikumpulkan di gimnasium untuk mendengarkan pengantar untuk tahun ajaran baru dan sambutan untuk siswa-siswi kelas pertama yang akan mulai menjalani pendidikan di Akademi Belvaria. Tidak terkecuali Alexius. Di dalam, Alexius segera mencari-cari bagian siswa baru. Kebetulan di bagian siswa baru belum terlalu banyak orang, jadi masih banyak kursi yang kosong. Alexius duduk di salah satu kursi.
"Kalau aku benar-benar kembali ke masa lalu... Berarti ini bagus sekali... Aku sudah mengetahui banyak hal yang akan terjadi di masa depan, termasuk harga-harga barang, bisa saja aku menggunakan itu untuk berdagang. Lalu... Aku juga bisa saja menjadi juara kelas, karena sudah tahu materi-materi yang diajarkan. Tunggu... Tapi aku tidak ingat soal-soal ujian yang keluar. Ah sudahlah, tetap saja, dengan semua pengetahuanku, aku bisa..."
Alexius tenggelam di pikirannya.
Sementara itu, siswa-siswi yang lain mulai berdatangan. Termasuk Sarah dan kelompoknya.
"Sebelah situ saja." Ajak salah seorang siswa.
Sarah melihat Alexius yang masih tenggelam di pikirannya, mulutnya terlihat komat-kamit tidak jelas. Sarah langsung memasang wajah masam ketika melihatnya dan segera menjauh, mengikuti ajakan temannya.
...
Satu jam berlalu.
Acara masih berlangsung. Saat ini, kepala sekolah sedang berpidato mengenai tahun ajaran baru.
Beberapa siswa, terutama siswa-siswi tahun kedua dan ketiga, terlihat mengantuk. Sedangkan siswa-siswi tahun pertama masih banyak yang terlihat antusias.
Tiba-tiba...
"Psst... Hei." Seorang siswi mencolek Sarah dari belakang.
"Hm...? Ada apa?" Bisik Sarah.
"Bosenin gak sih?"
"Hah? Maksudnya?"
"Iya, kamu bosen nggak sih dengerin pidato panjang gitu? Bikin ngantuk."
"Ehehe... Lumayan sebenarnya."
"Iya kan? Ngomong ngalor ngidul, entah udah berapa kali tuh si bapak ngomongin kehormatan, kebanggaan, nasionalisme, tugas para siswa, blablabla. Aku yang denger aja capek, kok dia gak capek ya?"
"Mungkin si bapak emang suka ngomong?"
"Banyak omong doang mah, orang juga bisa. Udah tua, banyak omong lagi. Ngomong-ngomong, Priscilla, kamu?" Kata Priscilla sambil menyodorkan tangannya lewat sela-sela kursi di bawah.
"... Sarah, Sarah Miller." Sarah tidak menyalaminya.
"... Oh, oke. Tunggu, kau punya nama belakang? Kau ini... bangsawan?"
"Bangsawan...? Bukan, aku bukan bangsawan."
"Ssshhh!" Salah seorang guru laki-laki menegur mereka.
"Ups, kayaknya kita ketauan. Oiya, tadi ada anak cowok ngeliatin kamu terus."
"Hah? Anak cowok? Mana?"
"Nanti kuceritain, udah. Daripada ditegur lagi ntar."
"O-oke."
Mereka berdua menghentikan percakapan setelah ditegur.
...