Tale of Two

AlexSF
Chapter #4

04. Cabang yang Berbeda

“Kurang lebih seperti itulah gambaran satu bulan ke depan.”

Pak Braun menutup mapnya dengan bunyi ringan.

Masa orientasi akan berlangsung selama satu bulan penuh. Disiplin militer. Latihan fisik. Penanaman budaya akademi. Setelah itu barulah kehidupan akademi “sebenarnya” dimulai.

Para siswa duduk tegap, sebagian besar memerhatikan dengan mata berbinar.

Alexius tidak.

Bukan karena bosan, lebih karena ia sudah tahu semua ini.

Ia tahu jadwal lari pagi.

Ia tahu siapa yang akan pingsan di minggu kedua.

Ia tahu siapa yang akan diam-diam kabur latihan malam.

Tak hanya itu, ia juga ingat akan bersikap seperti apa wali kelasnya ini saat orientasi nanti.

Jika ini benar-benar masa lalu, dunia jadi peta yang bisa kubaca.

Harga barang, pola ujian, ritme akademi—semua terasa seperti catatan yang menunggu untuk kutuangkan. Kalau aku berhati-hati, kita bisa bangun kembali jauh sebelum runtuhnya segalanya.


Sebuah bayangan melintas di depan pintu kelas. Alex tanpa sadar menoleh. Dua siswa melewati lorong. Sarah dan Sebastian. Jantung Alex berdetak sedikit lebih cepat. Ia segera memalingkan wajah sebelum terlalu lama menatap. Tak lama kemudian, terdengar seorang siswa mengetuk pintu.

Sebastian, ia membuka pintu dan masuk ke ruang kelas 1-III


Di kelas 1-V

Sarah, mengatur napasnya.

"Permisi." Kata Sarah sambil membuka pintu dengan perlahan.

Ruangan itu berisi sebelas siswa yang sudah duduk rapi. Wali kelasnya, seorang pria berambut cokelat muda, tersenyum tipis.

"Oh, silakan, silakan masuk. Tenang saja, kami belum mulai terlalu jauh. Tempat dudukmu di sana." Kata wali kelasnya sambil menunjuk sebuah bangku di tengah.

Sarah memandang isi ruangan kelasnya lalu berjalan dengan langkah yang agak ragu ke arah bangkunya.

"Jangan duduk dulu, sini. Perkenalkan dirimu." Kata si wali kelas ramah, disambut oleh siswa lain yang terkekeh pelan.

Dengan muka memerah, Sarah kembali ke depan kelas sambil memegangi tasnya.

"... Namaku... Sarah. Sarah Miller."

Hening.

Beberapa pasang mata saling bertukar pandang saat mendengar nama belakangnya.

"Dari mana asalmu? Lalu mungkin kamu punya satu-dua patah kata untuk teman-temanmu di sini?" Tanya si guru lagi setelah menyadari kalau Sarah tidak tahu harus berbicara apa lagi.

"... Lunebrook."

Hening itu terasa sedikit lebih panjang.

Ia lalu mengangkat mukanya dan menatap ke arah teman-teman sekelasnya.

Lihat selengkapnya