Sesi perwalian pertama sudah selesai. Banyak siswa tahun pertama yang keluar dari kelas mereka. Ada yang pergi ke kantin, ada yang langsung pergi menuju gedung asrama, ada juga yang berjalan-jalan di area kompleks akademi.
Miles: "Yuk ngumpul di kantin. Sambil nyeritain tadi di kelas ada apa."
Sarah melihat pesan di grup anak-anak Lunebrook. Miles mengajak untuk berkumpul, disusul oleh beragam reaksi dari anak-anak Lunebrook yang lain. Ada yang hanya memberi emot "🫡", ada yang menjawab "OK", dan lain-lain.
Sarah menghela napas sedikit, lalu bersiap untuk beranjak dari bangkunya.
Tiba-tiba...
"H-halo... Namamu... Miller...?" Seorang gadis berambut bergelombang berwarna coklat tua, menyapanya dengan gugup.
Sarah segera menoleh ke arahnya. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi senang maupun terganggu, datar.
"Iya. Ada apa?" Tanyanya singkat.
Sebelum gadis itu menjawab, tiba-tiba ada seorang siswi lain berambut jingga, menyapanya dengan suara keras dan bersemangat.
"Hai, hai! Aku Daisy! Kau dari Lunebrook ya? Namamu siapa tadi? Oh iya, Sarah Miller ya! Salam kenal, Sarah!" Katanya sambil menyodorkan tangan.
Sarah agak ragu, untuk beberapa saat ia hanya memandangi Daisy dan tangannya. Namun, ia menjabat tangan Daisy meski agak terpaksa.
"Oh iya, Lunebrook gimana? Aku dengar katanya sempat ada perlawanan di sana. Apa di sana banyak yang-"
Jari Sarah mengencang di tali tasnya.
"Daisy!" Belum sempat Daisy menyelesaikan kalimatnya, ia disela oleh seorang siswi lain, berambut panjang, sedikit keriting, berwarna pirang pucat.
"Apa sih, Grace! Kan aku cuma mau tahu keadaan di sana. Itu jadi berita besar kan soalnya." Sanggah Daisy.
Grace hanya menghela napas sedikit.
"Paling tidak, sopanlah sedikit. Kau kan tahu... Lunebrook-"
"Lunebrook saat ini baik-baik saja. Memang ada sedikit kekacauan, tapi kami pasti akan mengatasinya." Sela Sarah sambil beranjak dari situ.
"Oh iya." Sarah menyambung kata-katanya saat berada di pintu kelas. "Kalian tidak usah sok akrab denganku. Aku di sini cuma untuk belajar. Dan mungkin tidak akan lama."
Ketiga siswi itu hanya terdiam mendengar ucapan Sarah.
Sarah berjalan menuju kantin yang jaraknya lumayan sebenarnya. Dadanya masih terasa sedikit sesak setelah mendengar perkataan Daisy tadi, yang terdengar baginya sedang mengejeknya dan kondisi Lunebrook secara keseluruhan.
"DOR!" Suara seseorang yang agak familiar membuyarkan lamunannya.
"Ah... Kau rupanya." Kata Sarah. "Priscilla... kan ya...?"
"JAHAT! Masa kau lupa dengan namaku?? Aku aja masih inget lho!" Sambut Priscilla dengan pipi menggembung.
"Iya, iya. Ada apa?"
"Eh, aku akhirnya tahu siapa cowok yang tadi liatin kamu di gimnasium! Dia sekelas denganku ternyata!"
"Oh? Orangnya kaya gimana sih?"
Mendadak raut wajah Priscilla sedikit kesal.
"Orangnya aneh dan serem ternyata." Katanya.
Sarah mengernyitkan dahinya "Hah...?"
"Iya! Masa ketika kita interogasi tadi, kita kan nanya kok dia tahu namamu, tahu gak jawabannya?"
Sarah tidak menjawab, namun raut wajahnya terlihat penasaran.
"Dia bilang kalau dia sendiri juga bingung. Katanya wajah dan namamu sama persis, terus itu dijadiin alasan buat ngeliatin kamu pas di gimnasium! Ngeri nggak tuh!"
"Hah?" Mendadak bulu kuduk Sarah merinding mendengarnya. "Dia tahu namaku??"
"Iya, katanya si... aduh siapa sih namanya. Cam... Campbell! Ah iya, Campbell!"
"Campbell? Sebastian Campbell? Oh, kau masuk kelas III?"