Tale of Two

AlexSF
Chapter #6

06. Obrolan di Kamar 107

Beberapa menit sebelumnya...

Hm... Sepertinya ini akan sedikit menantang.

Baru hari pertama, tapi aku sudah menimbulkan kesan yang berbeda dari kehidupanku sebelumnya.

Alex beranjak dari kursinya lalu berjalan keluar kelas.

"Lebih baik aku segera ke asrama. Barang-barangku sepertinya sudah ditempatkan di sana."

Saat berjalan di luar kelas, Ia merasakan tatapan dari arah koridor belakangnya, tapi tidak menoleh.

Ah, paling hanya angin.


...


Sesampainya di asrama, ia bertemu dengan Gustaf yang sedang melihat daftar pembagian kamar. Namun tanpa sadar ia berhenti di kamar 107 lalu mendorong pintunya tanpa ragu.

"...?" Gustaf mengikuti Alex masuk ke kamarnya. Ternyata mereka berdua sekamar.

"Oh, Gustaf? Kita sekamar ya?" Sapa Alex ramah sambil menaruh tasnya di meja.

"Kau sudah kemari sebelumnya?" Tanya Gustaf.

"...? Belum, kenapa memangnya?"

"..." Gustaf hanya diam lalu duduk di kursi belajarnya.

"Kau punya orang dalam ya?" Tanya Gustaf.

"Hah? Maksudmu?"

"Gelagatmu terlalu aneh." Lanjut Gustaf. "Kau tahu identitas para siswa, bahkan kau juga tahu namaku tadi pagi. Lalu kau juga tahu di mana letak kamarmu tanpa melihat pembagian kamar."

"Itu... Anu..."

Keduanya terdiam sejenak.

"Hah... Ya sudahlah." Kata Gustaf sambil menghela napas. "1 hal lagi saja."

Alex menelan ludah.

"Kau sudah tahu kamarmu... Kau tahu namaku... Mungkin kau juga tahu kalau kita sekamar..." Gumamnya sambil mengelus-elus dagunya. "Aku ingin memastikan satu hal..."

Gustaf kembali menatap Alex.

"Kau nggak punya ketertarikan aneh padaku, kan?"

...

Otak Alex seperti berhenti sepersekian detik.

"Hah?"

Namun tatapan Gustaf tidak berubah. Ia masih menatapnya dengan sedikit tajam, mengisyaratkan bahwa ia serius.

"Bagaimana... Kau bisa langsung meyimpulkan ke arah situ...?"

"..." Gustaf kembali menghela napas setelah melihat reaksi Alex. "Sudahlah, lupakan. Yang penting kau jangan macam-macam saja." Katanya sambil mengambil beberapa barang dari kontainernya lalu menaruhnya di meja.


Beberapa saat kemudian, Gustaf mulai mengotak-atik sesuatu di mejanya.

"Kau ngapain?" Kata Alex yang masih merapikan barang bawaannya.

"..." Gustaf tidak menjawab, ia terlihat sangat serius.

Alex perlahan mendekatinya lalu menyadari sesuatu.

Ah iya... Di hari pertama kami, dia juga mengotak-atik radio ini...

Ia tersenyum lalu menepuk pundak Gustaf.

"Radionya rusak kah?" Katanya ramah.

Gustaf menoleh dengan tatapan kesal. Sepertinya tepukan Alex sedikit mengagetkannya.

"Bisa diam tidak sih!?" Katanya jengkel.

"Heh, aku cuma penasaran kau ini ngapain." Balas Alex.

"Ini lagi seru-serunya tahu! Malah kau ganggu!" Balas Gustaf lagi dengan nada yang sedikit tinggi.

"Yaelah, gitu aja marah! Aku juga gak ngapa-ngapain, lagian kau kupanggil gak jawab! Siapa tahu kau pingsan di meja kan!?" Balas Alex lagi dengan nada yang lebih tinggi.

"Grrrr.... Kau gak akan tahu serunya otak-atik radio!" Gustaf membalikkan badan ke mejanya lagi lalu meneruskan pekerjaannya.

Alex tertawa pelan. Sudah lama sekali sejak ia beradu mulut dengan Gustaf seperti ini. Mereka berdua juga sekamar di kehidupan sebelumnya, dan mereka sebenarnya tidak terlalu akrab tapi sangat mengenal kebiasaan satu sama lain.

Tak lama kemudian, tiba-tiba...

"AKHIRNYA JADIIII!!!!!" Seru Gustaf girang. Radio itu hampir saja terjatuh dari tangannya saking semangatnya.

Suaranya begitu keras, tentu saja mengagetkan Alex yang masih bersantai di ranjangnya.

"PELAN DIKIT KENAPA! GAK PERLU TERIAK JUGA KAN!?" Balas Alex tapi tak dihiraukan oleh Gustaf.

Gustaf memutar radionya sedikit lalu...

"Selamat siang para pendengar di manapun kalian berada! Kembali lagi bersama saya, Abel di segmen tukar sapa. Di sini..."

Suara penyiar terdengar dengan jelas dari radio itu.

"Heheh... Heheheh... HEHEHEHEH!!!" Gustaf mengangkat radio itu dengan bangga.

Lihat selengkapnya