Tale of Two

AlexSF
Chapter #9

09. Di Bawah Bayang-Bayang Mentari Terbit

“Satu! Dua! Tiga! Empat!”

“Satu! Dua! Tiga! Empat!”

Suara hitungan menggema di lapangan yang masih diselimuti cahaya abu-abu subuh.


“Ayo semuanya ikut! Satu! Dua! Tiga! Empat!”

Teriak Pak Meier, diikuti para instruktur lain yang menyebar di pinggir lapangan.

“Hosh… hosh… ini… ngawur…”

Gustaf terengah, napasnya berat dan tidak beraturan.

“Ayo… hosh… semangat…” balas Alex di sampingnya, meski napasnya juga mulai dalam dan panas.

Belum sempat paru-paru mereka benar-benar penuh,


“KAMI SISWA AKADEMI BELVARIA!”

Suara Pak Meier memotong udara.

“Tahan banting dan tidak manja!”


“Ayo, mana suaranya!?” teriak Pak Braun.

“KAMI SISWA AKADEMI BELVARIA!”

“Tahan banting dan tidak manja!”

Suara siswa terdengar pecah. Tidak kompak. Tidak bertenaga.

“Lagi!”

“KAMI SISWA AKADEMI BELVARIA!”

“Tahan banting dan tidak manja!”

Lari.

Teriak.

Lari lagi.

Seolah belum cukup membuat tubuh kelelahan, mereka dipaksa membakar sisa udara untuk yel-yel kosong.

"Hosh... Hosh... Hosh... Ini... Hosh... Konyol... Hosh..." Gumam Sarah.



5 putaran.

Barisan masih utuh.

7 putaran.

Jarak mulai renggang. Beberapa langkah terseret.

10 putaran.

Seorang siswa tersandung. Dua lainnya tumbang ke tanah. Instruktur segera menyeret mereka ke pinggir lapangan.

Tak ada yang berhenti.

14 putaran.

Aneh.

Teriakan mereka mulai terdengar lebih keras.

Bukan karena semangat.

Tapi karena marah.

Karena jengkel.

Karena tidak mau terlihat lemah.

“KAMI SISWA AKADEMI BELVARIA!”

“Tahan banting dan tidak manja!”

Suara itu sekarang tidak lagi sekadar mengikuti perintah.

Ia terdengar seperti penolakan terhadap rasa sakit.

Seperti pembuktian.

“Yak! Cukup!”

Semua hampir tidak percaya ketika kata itu akhirnya terdengar.

“Istirahat sepuluh menit!”

Beberapa langsung jatuh terduduk.

Beberapa tetap berdiri, terlalu pusing untuk tahu harus melakukan apa.

Embun pagi mulai menguap bersama napas panas para siswa.

Dan matahari akhirnya mulai naik.

Lihat selengkapnya