Sudah seminggu mereka lalui dengan rutinitas yang sama. Di pagi buta, mereka dibangunkan untuk berlari memutari lapangan dan beberapa aktivitas fisik lainnya. Setelah itu, mereka sarapan lalu lanjut ke kelas masing-masing untuk mendapatkan materi orientasi. Siangnya, setelah makan siang, mereka bersih-bersih asrama lalu dilanjutkan dengan istirahat selama satu jam. Sore hari diisi dengan aktivitas fisik. Mulai dari lari biasa, senam lantai, kalistenik, berenang, latihan senjata, dan lain-lain. Malam hari diisi dengan aktivitas studi. Meski pelajaran belum dimulai, waktu ini mereka gunakan untuk meninjau kembali materi-materi orientasi yang sudah disampaikan. Setelah makan malam, akan ada evaluasi harian. Di sinilah dosa satu orang bisa berimbas pada yang lainnya.
Hingga suatu hari, ada sebuah sesi perkenalan angkatan. Di Belvaria, para instruktur terkadang memberi sebuah tugas pada siswa tahun kedua atau ketiga untuk ikut membantu proses pembelajaran. Selain itu, terkadang sebuah tugas juga memerlukan peran kakak kelas dalam penyelesaiannya. Dalam sesi ini, suasana terasa lebih cair dibandingkan rutinitas harian mereka.
"Jadi, itulah perkenalan dari kami, siswa tahun kedua! Kalian jangan patah semangat, jalan kalian masih panjang dan akan lumayan berat. Spoiler sedikit, nanti pokoknya kalian akan dikasih tugas akhir yang lumayan memusingkan. Nah, tanya aja ke kami! Mumpung ingatan kami masih segar! Hahahahah!"
Seorang perwakilan dari siswa tahun kedua mengakhiri perkenalannya.
"Nah, itu adalah perkenalan dari siswa tahun kedua! Ada kata-kata gitu dari kalian? Coba deh perwakilan, siapaa?" Kata si MC, mengundang salah satu siswa tahun pertama untuk maju.
Daisy mengangkat tangannya. "Aku! Aku!"
"Oooohhh, ada nona manis di sini rupanya, silakan maju. Sebutkan namamu lalu kata-kata untuk siswa tahun kedua ya!"
Daisy maju sambil menarik tangan Sarah juga. Tentu saja Sarah menariknya kembali. "Apa? Kan kamu yang mau maju." Bisik Sarah pelan.
"Temenin." Kata Daisy manja.
"Ada apa nona? Kenapa tidak jadi maju?" Tanya si MC.
"Aku mau temanku juga maju, tapi dia malu." Jawab Daisy dengan polosnya.
"Ohh! Ajak maju sekalian saja! Nona yang berambut merah itu ya? Ayo, maju, maju!"
"Maju! Maju!" Sorak siswa tahun kedua.
"Ayok. Biar kamu bisa lebih dikenal juga!" Bisik Daisy.
Sarah menggerutu, Ia sebenarnya tidak suka menjadi pusat perhatian. Tapi Daisy sudah menariknya terlalu jauh untuk mundur sekarang. Lalu, dengan wajah merah ia berdiri.
"Waaahhh! Ayo sini-sini!"
Sarah dan Daisy maju ke atas panggung.
"Nah, sekarang sebutkan nama kalian, terus pesan-pesan atau kata-kata deh, apa aja, buat tahun kedua. Silakan!"
Si MC memberikan mik pada Daisy.
"Hai semuanya! Namaku Daisy Taylor! Selamat malam, kakak-kakak semuanya!" Daisy memberi salam dengan ceria. "Senang sih rasanya bisa mengenal kakak-kakak semua. Apalagi setelah mengalami masa-masa orientasi ini. Jujur lumayan berat! Tapi, aku lihat kakak-kakak semua terlihat sangan enjoy yah! Aku jadi makin bersemangat lagi! Terima kasih kakak-kakak semuanya!" Seru Daisy dengan antusias, disambut oleh seruan balik dan tertawa dari semuanya.
"Nah, terima kasih Nona Taylor! Sekarang, silakan." MC menyerahkan mik pada Sarah.
"Namaku Sarah. Sarah Miller." Kata Sarah kaku.
Ruangan menjadi sunyi. Terdengar beberapa bisikan pelan dari siswa tahun kedua. "Miller? Bangsawan mana?", "Aku belum pernah dengar."
Mendengar bisikan-bisikan itu, Sarah menghela napas.
"Aku bukan bangsawan. Aku dari Lunebrook." Perkataan ini disambut oleh dua reaksi: Ada yang langsung terdiam, ada yang langsung mengucapkan "ooohh" panjang.
"Terima kasih untuk motivasinya kakak-kakak sekalian." Lanjutnya dengan senyum tipis yang terpaksa. "Meski aku bukan bangsawan, tapi aku berharap nantinya kakak-kakak sekalian masih mau membantuku di kemudian hari."
Ruangan kembali sunyi, sedangkan Sarah terlihat agak bingung.
"O-oke, tepuk tangan untuk nona Miller!" Seru MC mencairkan suasana. "Nah, sebelum kembali, ini ada hadiah untuk kalian."
Daisy dan Sarah menerima bingkisan kecil dari sang MC lalu kembali ke tempat duduk mereka.
"Masih saja seperti dulu ya..." Gumam Alex dari bangkunya. "Masih nggak peka sama omongan sendiri..."
"Kau ini menggumam apa sih?" Kata Gustaf pelan.
"Nah, selanjutnya-" MC menggiring acara ke tahap selanjutnya, sementara Sarah agak diceramahi oleh Grace.
"Ya ampun... Kau ini..." Kata Grace sambil menggelengkan kepala. "Aku paham kalau Daisy memang tidak terlalu peka sama ginian, tapi..." Grace memandang Sarah. "Kayaknya aku harus ngasih tutorial buat bertahan hidup di sini buatmu deh."
"Hah...?" Sarah melongo sedikit. Ia tidak mengerti.
"Sudahlah, setelah ini kamu jangan suka pergi sendirian ya. Minimal ada aku atau Daisy yang menemanimu. Sophia bisa sih, tapi lebih baik kalau ada anak bangsawan yang menemanimu." Kata Grace.
Tanpa mereka sadari, beberapa pasang mata masih menatap ke arah mereka.
Keesokan harinya, seluruh siswa diberi waktu kosong untuk beristirahat dan melakukan apapun. Hanya saja, khusus siswa tahun pertama dilarang untuk keluar dari area akademi.
"Kau ngotak-atik radio itu lagi? Emang nggak bosen?"
"..."
Seperti biasa, Gustaf kalau sedang berurusan dengan barang elektronik, jiwanya seakan diisi oleh entitas lain. Ditanya tidak jawab, diajak bicara hanya diam, kalau disenggol murka.