"LAGI!!???" Grace menggelengkan kepalanya. "Baru semalam lho. Baru se-ma-lam!"
"Maaf..." Sarah tertunduk lesu.
"Mmm? Memangnya seburuk itu?" Tanya Daisy polos.
"Jelas buruk dong!" Seru Alex cepat.
"Dan kau ini bukannya si siswa aneh itu, ngapain kau di depan asrama perempuan?" Kata Grace sambil memijat pelipisnya.
"Memangnya kenapa? Kan aku juga terlibat di si-"
"Maksudku, ngapain kau ngikutin Sarah sampai sini?" Potong Grace.
"Ya seperti yang aku bilang! Siapa tahu aku bisa bantu! Dan lagi, siapa yang kau bilang siswa aneh!?" Seru Alex dengan nada tinggi.
Dasar! Anak-anak zaman sekarang, nggak ada sopan-sopannya...
"Sudah... Sudah... Jangan bertengkar..." Lerai Sebastian.
"... Ramai ya..." Sophia yang dari tadi hanya berdiri di belakang, akhirnya menggumam pelan.
"Ugh... Benar-benar... Haaahh...." Grace menghela napas panjang sambil mencoba tenang. "Kau tahu siapa pria itu? Minimal namanya?"
Sebastian maupun Sarah tidak menjawab.
"Kalau tidak salah... Namanya Rudolph Hertford. Aku pernah lihat entah di mana." Ujar Alex.
"Rudolph Hertford...?" Grace memegangi dagunya sambil berpikir.
"Hertford...?" Sahut Daisy. "Namanya kaya duke provinsiku."
Grace langsung memotong, "Itu Eldenford."
"Hertford... Hertford..." Grace masih berpikir.
"Apa mungkin dia bukan bangsawan kelas tinggi? Namanya saja tidak terlalu dikenal."
"Masalahnya aku seperti pernah dengar mengenai nama itu." Grace menyipitkan mata. "Dan kalau aku pernah dengar, berarti orang itu bukan orang sembarangan."
Alex meringis sedikit.
"Hmmm.... Ahhhh! Menyebalkan!" Ujar Grace frustrasi. "Oke, Sarah. Sekarang kita fokus ke pembelaanmu saja kalau nanti ini jadi masalah."
"Oke... Mohon bantuannya..." Kata Sarah lemas.
"Dasar... Aku sampai heran kenapa aku repot-repot meladeni masalahmu. Kita saja baru seminggu kenal... huft..."
Mereka lalu pergi keluar asrama. Akan mencolok bila ada sekelompok kecil siswa mengobrol di dalam koridor asrama yang saat ini kosong.
"Oke, kau tadi bilang kalau kau menyadari kalian diikuti mereka. Dari mana, dan kapan." Tanya Grace.
"Um... Setelah makan pokoknya... Kalau tidak salah..." Sarah memimpin jalan.
"Dari sini." Mereka berhenti di depan kapel. "Aku tadi ketemu Sebastian di sini. Terus aku sempat melihat sekilas mereka mulai mengikuti kami."
"Hm... Kapel... Setelah makan ya..." Gumam Grace. "Kau ingat ada siswa lain di sekitar sini?"
"Mmmm... Harusnya ada sih..."
"Harusnya?" Grace mengangkat alisnya. "Kau tidak yakin?"
"Aku tidak terlalu memerhatikan sekitar..." Jawab Sarah.
Grace menghela napas. "Oke, kau siapa tadi namamu? Sebastian? Oke, kau, ingat nggak tadi ada orang di sekitar sini?"
"Hmm... Kalau tidak salah ada beberapa siswa yang lewat..." Sebastian meraba dagunya. "Tadi juga ada orang yang terlihat seperti instruktur yang masuk ke kapel."
"Instruktur? Kau pernah melihatnya sebelumnya? Waktu sesi latihan fisik atau apa gitu?"
"Tolong jangan terlalu menekan gitu dong... Aku agak sulit mengingatnya." Keluh Sebastian.
"Kalian ini mau dibantu nggak sih...?" Tukas Grace. "Coba ingat lebih teliti lagi. Itu bisa jadi kunci buat kasus ini!"
"Mmmm.... Aduh... Aku nggak ingat dengan jelas!" Sebastian agak menggerutu. "Lagian, kenapa sih kita harus repot-repot? Kan tinggal ngomong kalau kita membela diri."
"Oke, sepertinya kamu memang nggak paham situasinya ya." Grace menghela napas. "Sudahlah. Nggak usah." Ia kembali melipat tangannya sambil memejamkan mata.