Tale of Two

AlexSF
Chapter #12

Mengejar Waktu

"Ho... Jadi maksudmu... Hertford, bersama teman-temannya yang mulai duluan?" Tanya si instruktur.

"Iya pak. Seperti yang saya katakan tadi. Saya tadi bertemu Sebastian di depan kapel, lalu mereka mulai mengikuti kami. Lalu-"

"Ada bukti?" Si instruktur menyela. "Kalau Hertford di sini, dia memang sudah jelas mendapat luka."

"Tadi kan saya sudah bilang kalau Sebastian dan Argens di sini terlibat." Sarah menggertakkan giginya. "Mereka lihat sendiri kejadiannya! Argens bahkan dipukul!"

Si instruktur menghela napas. "Saya minta buktinya. Kalau memang Argens di sini dipukul, mana bekas pukulannya? Perlihatkan."

Sarah menengok ke arah Alex, tatapannya seperti mengharap.

"... Begini saja pak." Alex mulai bicara. "Saya tidak bisa membuktikan kalau saya dipukul, karena bekasnya memang tidak ada. Tapi kami bisa menyediakan saksi."

"Saksi?" Si instruktur mengernyitkan dahi. "Tadi saya sudah menanyai beberapa siswa yang ada di sekitar tempat kejadian, jawaban mereka sama. Miller di sini juga sudah mengakui kalau dia menendangnya. Jadi, buat apa?"

"Siswa yang berada di tempat kejadian? Tapi, mereka itu kan... Maksud saya, saat ini teman-teman ka-"

"Teman-teman? Kau ingin menjadikan teman-temanmu menjadi saksi?" Instruktur itu menggeleng pelan, "Saksi yang memiliki hubungan dekat dengan pihak yang terlibat biasanya tidak dianggap netral." Bantah si instruktur.

"Bukan begitu, ah sudahlah." Alex mulai kesal karena si instruktur memotong ucapannya. "Kalau boleh tahu, siapa siswa-siswa yang bapak maksud?" Alex masih berusaha bertahan dengan argumennya. "Kalau mereka adalah gerombolan yang biasa bersama Hertford, bukankah itu sa-"

"Maksudmu, kamu ingin memperpanjang kasus ini?" Ujar si instruktur. "Sebaiknya tidak usah. Lagipula, kau sendiri yang akan rugi kalau ternyata tidak terbukti apa yang kau omongkan."

"Tidak pak, saya yakin saksi yang kami kumpulkan bisa membuktikan kata-kata kami." Sahut Alex yakin. "Atau..."

Alex menatap ke arah Rudolph. "Dia takut kalau saya bongkar semuanya?"

Rudolph membalas ancaman Alex dengan senyuman kecil, seolah tidak mau kalah. "Takut? Buat apa takut kalau aku yang benar?"

Rudolph mendekati mereka berdua. "Kalau ucapanmu tidak terbukti," Katanya pelan, "Maka itu berarti kalian menuduh tanpa bukti." Mata Rudolph menatap tajam ke arah mereka, dengan seringai yang sama, "Dan itu termasuk penghinaan."

Ia lalu berbalik ke arah si instruktur, "Hukuman bagi siswa yang melakukan penghinaan dan pencemaran nama baik apa ya pak?"

Si instruktur berdeham sedikit, "Ahem. Skorsing selama waktu tertentu, atau dikeluarkan secara tidak hormat, tergantung seberapa berat kasusnya." Mendengar hal itu, Sarah menggertakkan giginya begitu keras sampai bahunya bergetar.

"Dengar itu? Kalian bisa dikeluarkan lho. Belum lagi kalau keluargaku memutuskan membawa masalah ini ke luar akademi." Ancam Rudolph.

Alex terlihat sedikit ragu, tapi sesaat ia melihat tatapan Sarah yang terlihat marah campur frustrasi karena tidak bisa melakukan apapun, ia segera mengesampingkan keraguan itu.

"Kita lihat saja nanti." Kata Alex dengan keringat dingin di pelipisnya.

Jujur saja, dia sendiri tidak terlalu yakin, apalagi si instruktur di sini tidak terlihat berpihak pada mereka.

Si instruktur menghela napas. "Baiklah, kalau memang itu maumu." Ia melihat jam tangannya. "Saya beri waktu sampai makan siang." Sarah terkejut, "M-makan siang? Tapi, itu kan satu jam lagi!?"

"Kalau sampai jam makan siang kalian belum bisa menemukan saksi atau bukti apapun..." Ia menatap keduanya dengan datar. "Maka saya anggap kalian melakukan tuduhan palsu terhadap Hertford."

"Dan kalian akan tahu konsekuensinya nanti."

Alex dan Sarah semakin terpojok. "Pak, apa kami bisa mengajukan waktu yang lebih panjang? Sampai sore, misalnya?"

Ia kembali menjawab dengan datar, "Ya kalian kan setelah ini masih ada beberapa agenda orientasi. Saya tidak bisa memberi waktu lebih dari itu, atau saya yang nanti akan dimarahi panitia orientasi."

Keduanya menggertakkan gigi, jelas terlihat kalau mereka kesal namun apa yang bisa mereka perbuat tidak banyak. Sementara itu, Rudolph dengan santainya melipat tangan dengan seringai khasnya, merasa sudah menang. Ia tadi sengaja memilih lokasi di belakang perpustakaan karena memang tempat itu jarang dilewati orang. Tidak ada kamera pengawas di situ, dan perpustakaan sepi saat hari bebas, ditambah kalaupun ada yang melihatpun, tidak akan terlalu jelas.

Lihat selengkapnya