Semua terbakar oleh sihir yang pelik. Kota ini sudah setengahnya menjadi reruntuhan, manusia terpecah. Seorang ayah mencoba untuk merangkul istri dan anaknya yang berdiri seolah olah mereka tak punya sendi. Mereka tak bisa lari. Bagian dari perabung di rumah seseorang menimpa keluarga itu
Semua bercampur aduk dengan api merah jambu, seorang wanita berdiri di antara reruntuhan kastil. Masih melakukan sihirnya
"Tubuh ini punya bakat alami, sungguh sayang sihir asliku tersegel. Sayang sekali." Ucap perempuan, seorang bangsawan, menggunakan kalung berbentuk rusa dengan beledu emasnya.
Seorang pria menunggangi burung hantu raksasa nya, mencoba mendekat, dengan pedang yang menyala merah.
"Keluar dari tubuh istriku, Fae biadab.", dia menjerit sampai suara teriakan memenuhi dadanya dengan sesak.
"Oh, burung hantu raksasa, pedang yang menyala merah, Revenir?" perempuan itu menunjukkan senyum menghina, kemudian tertawa dengan liar.
Lelaki itu menggunakan sihir es, dan wanita itu menghancurkannya. Lelaki itu menghempas pedangnya, berupaya menyayat wanita, wanita itu itu menangkis dengan jari nya yang lentik. Lalu tangan wanita itu menusuk ke dalam tangan sang pria. Tidak ada jantung, lambung, hati, tidak ada setetes darah. Beberapa kali lagi lelaki itu mengayun pedang hanya untuk dihindari, tak menantang.
Seorang penyihir kemudian menunjuk langit dengan jarinya, memanggil lingkaran sihir
"Bulir ke 14, Hasrat Manusia. Terbukalah."
14 bulir emas yang terpaku pada lingkaran sihir itu mulai menyala. Lalu bertambah menjadi 18 bulir. Tekanan sihir itu menekuk lutut pria dan wanita itu
Si pria mengumpulkan semua kekuatan nya, berdiri tegak, lalu mengumpulkan rasa, derita,cinta, apapun yang tersisa dalam dirinya. Dia menusuk wanita itu, cahaya merah pedangnya berkedip dalam nyala yang luar biasa.
"My love.." kata wanita itu, sang pria ragu sejenak, tangannya bergetar, kemudian dia menusuk jantung si wanita
"Terima kasih, my love dearest," si wanita itu tersenyum, lebar sekali. Darah merah mengisi giginya yang putih
Kemudian si pria bangun. Tak ada air mata, kesedihan, cuman mata yang penat.
"Elis, terima kasih," si pria mengatakan dengan suara parau. Kemudian dia keluar dari gua itu, yang penuh dengan bangkai ular raksasa dan Kupu kupu raksasa berwajah manusia
Dia menyusuri gunung coklat. Edelweiss yang mekar, suatu Tiara untuk ratu yang bijaksana. Bumi yang malu, sebuah singgasana agung. Langit yang menjulang, atap bagi istana yang sesak. Manusia di bawah, seekor semut yang mengejar gula di pest. Dan pria yang mengelana. Menghitung hari akan tinggalnya memori. Langkahnya, hutang memberatkan kaki. Doa dia beri untuk diri sendir. Untuk kasih tersayang, apa yang kan diberi
"24,995 tahun lagi, aku bertanya apakah kamu akan dilupakan diri ini? Apakah baumu akan terus menghinggapi? Sentuhan lembut mu. Elis membunuh semua monster ini hanya membuatku ingin muntah. Jantung mereka, hati mereka, kepala mereka yang pecah. Aku mau mencium aroma mu, aku mau suara manismu yang membuat mimpi indah. Aku mau kamu....." Dia mencoba menangis. Tak bisa. Apapun yang dilakukan bedebah yang memanggil dirinya sendiri penyihir agung telah membuat sedihnya sirna.
Gerombolan serigala bermata empat mendekatinya dengan rasa lapar. Dia nampaknya agak terganggu. Kemudian gerombolan itu menyerang, menggigit setiap sudut pada dirinya. Dia tak menjerit, tak menangis, tak mati.
"Jalan yang panjang, bisakah engkau mendengar suara ku yang lantang? Kasihanilah jiwaku yang malang," dia mengucapkan itu setelah membunuh semua gerombolan.
..............................................
Orkestra mengeluarkan kemampuan terbaik mereka untuk mengikuti tempo si Pendongeng, menambah kesakralan dan keintiman cerita.
"Jangan pernah melihat mata ketiga dan keempat mereka. ada sihir yang bisa membuatmu gila, mengubahmu menjadi binatang seperti mereka. Dengan pedang merah ku, aku mencincang mereka semua. Mereka mau memakanku? Aku akan berikan daging mereka pada Naga hijau alih-alih, makhluk bodoh," suara lelaki itu menggema
"Dan kamu berhasil selamat, tanpa ada luka?" Seorang anak laki-laki bertanya
"Oh, kuharap. Tapi tubuh ini....." dia berhenti sejenak
"Ngomong -ngomong, aku juga membunuh Naga hijau itu. Kadal yang menjijikkan, dengusan nafasnya....ergh.... Berisik, kepakan sayapnya apa lagi, membuatku gila saja."
"Kau pembohong, ha ha ha!" Tawa pecah, sebagaimana cangkir kaca pecah di Bar, berisik dan menyita perhatian.
"Well, cerita adalah cerita. Tak perlu benar supaya layak untuk diceritakan. lebih baik daripada puisi yang buruk, lagipula." Bibir pria itu melengkung ke atas.
"Aku percaya padamu, Jensen." Ucap Bartender memecah tawa yang tak berkesudahan. "Aku melihat sendiri mayat naga itu di lembah Bosch. Jensen berkata jujur."
Jensen - Seorang pria yang memanggil dirinya Taleweaver, Sang Pendongeng. Dia melakukannya bukan karena emas, bukan karena bir, bukan karena perempuan. Dia melakukannya karena dia tak ingin lupa bagaimana rasanya hidup. Dikutuk oleh keabadian, dia menulis, setiap malam.
Seorang pria, 18 tahun, memakai armor murah yang menutup tubuhnya. Dia tak gentar, dia terus menerjang. Kuda hitamnya tak peduli kalau kepalanya sudah diremukkan oleh gada musuh. Kudanya menggila. Penunggang kuda memegang pedang dan perisai, memburu kepala. Pembawa Panji memekik, memuji jenderal pemberani
"Jenderal Jensen!!"
Jensen sudah melihat goretan tinta itu selama satu jam.
"Amarah. Sensasi ini, Ketakutan.... Oh puji aku lagi. Lagi." Dia meneriakkan kata kata itu dengan keras. kemudian lanjut menulis.
..........................................
Sudah dua bulan berlalu sejak dia meninggalkan benua Prasino. Dia terbang bersama Roxy - Sang burung hantu raksasa - melintasi laut, daratan demi daratan. Dia harus menemui seorang penyihir di benua Mavro. Dia tiba di kastil Anthos.
"Dimana dia? Dimana Damarr?" Tanya Jensen. Para penjaga melihat Jensen dengan penuh keraguan