Sudah berlalu lagi, hai engkau waktu—sudah empat tahun. Sudah empat belas tahun Jensen di Benua Mavro. Sudah bermacam-macam jenis monster yang dia buru. Menurut Jensen sendiri, sepertinya butuh kurang lebih seribu tahun jika mau membersihkan kotoran dan kuman monster di benua ini. Jensen penasaran bagaimana rasanya melewati seribu tahun pertama. Penasaran—mungkin itu rasa yang tidak akan terkikis dari dirinya.
Entah angin apa yang membawa Damarr ikut dalam misi kali ini. Dengan sihirnya, dia mampu mengangkat tubuhnya sendiri dan bergerak; mungkin cuma itu yang dia bisa. Sementara itu, Jenderal Fae Tulip beberapa kali menyorot Damarr dengan matanya. Dia menghela napas ringan.
"Kau tak perlu ikut," ucap Tulip.
"Ini mungkin petualangan terakhirku. Aku harus ikut," ucap Damarr.
Kelompok itu cukup ramai, berjumlah dua puluh orang, dan misi kali ini unik, karena sangat jarang fae dari Lembah Lampros meminta bantuan.
"Naga hitam, Gheima the Gloomy. Katanya, kedatangannya bak awan mendung. Sudah mulai merebut emas kami. Kami harus merebutnya kembali," ucap Tulip.
"Naga hitam… jenis ini cukup umum. Harusnya kalian bisa dengan mudah membunuhnya," ucap Jensen.
"Yang satu ini beda." Langkah mereka berhenti sejenak.
"Kata leluhurku, ini adalah naga yang ditunggangi Aisy," ucap Tulip.
Aisy—fae yang merasuki tubuh Elis. Menurut epos zaman dulu, Armen menyegel fae kegelapan ini. Tetapi, jiwanya masih bisa keluar, mungkin akibat ritual paksa.
"Kenapa bangsa fae memusuhinya?" kata Jensen.
"Tidak semua. Kudengar fae dari Mayang adalah pengikut setianya. Dia fae yang kuat, dengan ambisi menyatukan semuanya lewat cara keji. Menurutnya, menyatukan harus dengan sifat naluriah makhluk hidup," ucap Tulip.
Mereka sampai di Gunung Amon, dekat dengan Gunung Lampros. Hawa dingin makhluk ini terasa bahkan sejak mereka berada tiga ratus meter sebelum mulut gua.
"Hati-hati. Api hitamnya unik—bisa berisi dingin dan panas," ucap Tulip.
Tujuh ratus meter masuk ke dalam gua, pernak-pernik emas dan harta berharga tergeletak di tanah bagai remah. Mereka masuk lima ratus meter lagi; kali ini harta itu ditumpuk.
"Dinginnya…" ucap Damarr. Bahkan seorang yang agung pun kedinginan.