Aku ikut mati pada hari kematian Ibu. Sayangnya, mereka tidak menguburku, dan membiarkan aku menjadi mayat hidup yang terombang-ambing sendirian di tengah kehidupan yang busuk. Aku tidak tahu bagaimana cara melanjutkan hidup kalau ibu tidak lagi ada.
Delapan belas tahun aku hidup di pemukiman kumuh ini bersama Ayah, Ibu dan adik laki-lakiku yang bernama Yugo. Sepanjang jalan menuju rumah, tercium bau menyengat dari tempat pembuangan sampah. Sungai-sungai yang mengalir di belakang pemukiman ini keruh dan berbau busuk. Rumah-rumah di sini berlantai tanah padat, berdinding anyaman bambu, dan atap seng berkarat yang sudah keropos. Tidak ada yang pernah mengganti atap rumah meski banyak bagian yang bocor saat musim hujan datang.
Hanya enam keluarga yang tinggal di sini, karena sebenarnya rumah-rumah ini merupakan bangunan liar yang tidak memiliki izin. Kata Ibu, tempat ini akan diratakan suatu saat nanti, entah kapan. Setiap hari kami hidup dalam kekhawatiran akan kehilangan tempat tinggal. Kalau rumah kami diratakan, mungkin kami akan tidur di emperan toko, atau di mana saja selama ada lahan kosong.
Ayahku tidak bekerja. Sepanjang ingatan yang kupunya, dia hanya menghabiskan uang Ibu untuk membeli ciu, sabung ayam, dan membeli perempuan untuk dibawa pulang. Aneh, ya? Ada perempuan yang bisa dibeli dan dibawa ke gubuk kami yang reot dan berbau tahi sapi.
Tidak jauh dari tempat tinggalku ada sebuah lahan luas yang ditumbuhi rumput-rumput liar yang tinggi dan gemuk, hingga banyak orang yang membiarkan sapi-sapi mereka mencari makan di sana. Biasanya, sapi-sapi datang saat pagi, dan akan dijemput pulang ketika sore menjelang. Tidak ada yang membersihkan kotoran yang ditinggalkan. Jadi selain aroma sampah dan aliran air sungai yang busuk, bau tahi sapi juga menjadi sahabat penciuman kami.
Ibuku bekerja di rumah orang kaya. Di belakang pemukiman kami, ada tembok yang menjulang tinggi. Tembok itu memisahkan tempat kumuh ini dengan sebuah perumahan yang konon bangunannya besar dan mewah. Aku tidak pernah melihat langsung, hanya sesekali mendengar cerita Ibu.
Berbeda jauh dari rumah-rumah orang kaya itu, di rumah kami hanya ada dua ruangan. Yang satu merupakan kamar tanpa pintu yang dipakai Ayah dan Ibu untuk tidur, satu lagi ruangan yang dipakai untuk makan, menerima tamu, sekaligus tempat untukku dan Yugo tidur beralaskan tikar anyaman. Untuk memasak, Ibu membuat tungku dari tanah liat di belakang rumah, beratapkan terpal bekas yang telah dijahit pada banyak bagiannya.
Sejak usiaku masih sangat hijau—aku tidak tahu persis angkanya— Ayah selalu membawa perempuan dan menyuruhku untuk menyaksikan apa yang mereka lakukan. Waktu itu, aku tidak tahu mereka sedang apa. Terkadang ada perempuan yang duduk di pangkuan Ayah dan bergerak naik-turun, kadang Ayah menindihnya. Tapi yang kutahu pasti, Ayah selalu membuat perempuan-perempuan itu mengeluarkan suara aneh, atau bahkan menjerit. Ibu tidak pernah tahu soal ini, karena Ayah selalu melakukannya ketika Ibu sedang pergi bekerja. Dan aku diancam untuk tidak mengadukan apapun pada Ibu, atau aku akan dipukuli.
Waktu Yugo masih sangat kecil, ada seorang tetangga yang mau berbaik hati membantu kami mengurusnya selama ibu bekerja. Lalu ketika tetangga itu merantau jauh ke Jakarta, Ibu membawa Yugo bekerja, dan mengantarnya pulang ketika jam sekolahku usai. Jadi, belakangan sering kali aku harus mendekap telinga Yugo rapat-rapat agar dia tidak mendengar suara-suara menjijikkan ketika Ayah membawa pulang perempuan-perempuan yang dibelinya. Dia baru berusia enam tahun, dan aku tidak ingin pikiran sucinya kotor oleh kelakuan iblis laki-laki yang kami panggil Ayah itu.
Ayah suka sekali memukul. Ibu sering dipukuli saat Ayah kalah sabung ayam dan Ibu tidak lagi punya uang. Sebenarnya, Ibu selalu menyimpan sebagian uang yang dia dapat untuk merawatku. Ibu selalu membelikan sabun batang yang wangi untukku, meski dia sendiri selalu mandi dengan sabun colek. Ibu juga rajin merawat wajah dan rambutku, meski rambut Ibu sendiri kaku seperti sapu ijuk. Katanya, aku harus cantik untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di masa depan nanti. Tapi, tidak dengan Yugo. Yugo mandi dengan sabun colek sama seperti Ibu, sampai kulitnya sangat kering dan berpanu.
Aku pernah mendengar cerita bahwa dulu Ibu merupakan gadis paling cantik di kampung yang tak jauh dari sini. Banyak pemuda yang jatuh cinta dan ingin menikahi Ibu, tapi Ibu menolak mereka dan memilih untuk bekerja di kota besar. Sampai suatu hari, Ibu tiba-tiba pulang dan menikah dengan Ayah, lalu tinggal di pemukiman kumuh ini. Aku tidak pernah bertanya alasannya, karena Ibu selalu melarangku untuk ikut campur masalah orang dewasa.
Katanya, aku mewarisi kecantikan ibuku. Mereka tidak tahu saja, hampir sebagian besar gaji Ibu habis dipakai untuk membuatku terlihat cantik seperti sekarang. Meski hidup di lingkungan miskin dan serba kekurangan, aroma tubuhku tetap wangi, dan kulitku mulus terjaga.
Untuk uang sekolah, aku beruntung karena majikan Ibu yang kaya itu membantu kami membayar seluruh biaya. Aku juga selalu mendapat seragam darinya, meski bukan yang baru. Kata Ibu, majikan itu memiliki anak yang tiga tahun lebih tua dariku, jadi seragamnya yang sudah tidak muat lagi selalu diberikan untukku.
Aku dan Ibu cukup dekat. Aku selalu membantu Ibu untuk membersihkan luka-lukanya setelah dipukuli Ayah, sementara Ibu sering melindungiku dan Yugo dari Ayah. Beberapa kali, Ayah mencoba untuk membuka bajuku dengan paksa. Saat itu terjadi, Ibu selalu menarikku menjauh, menyuruhku berlari kemana saja sambil membawa Yugo, lalu menyerahkan dirinya sendiri untuk dipukuli dan ditendang.
Tadi pagi, ibuku mati karena penyakit menahun yang dideritanya. Tidak ada lagi yang melindungiku dari Ayah. Aku harus menggantikan Ibu untuk mencari uang agar Ayah tetap bisa membeli ciu, sabung ayam dan membawa pulang perempuan-perempuannya. Kalau tidak, dia akan memukuli aku atau Yugo, seperti ketika Ibu masih hidup. Aku tidak mau dipukul, jadi setelah ikut menguburkan Ibu, aku meninggalkan Yugo di rumah dan pergi ke terminal untuk mencari pekerjaan. Lagi pula, aku juga harus memberi makan dan mengurus Yugo yang masih sangat kecil. Tahun depan dia harus masuk sekolah, dan sepertinya aku yang harus berjuang untuk uang sekolahnya, mengingat kelakuan ayah kami yang tidak bertanggung jawab.
Bus antar kota baru saja tiba ketika aku memasuki gerbang terminal. Orang-orang turun membawa tas-tas besar dan kardus yang entah apa isinya. Beberapa lelaki berbadan tegap mendekati mereka, dan menawarkan bantuan membawakan barang. Aku menimbang-nimbang apakah aku harus bekerja seperti mereka? Mengangkut tas-tas besar dan membantu para penumpang membawakan barang-barang? Aku tidak akan kuat dengan tubuh kurusku ini.
Aku mendekati sebuah papan informasi, dan membaca apa saja yang ada di sana. Mungkin aku bisa mendapat sedikit keberuntungan dengan menemukan lowongan pekerjaan di papan itu. Tapi, aku tidak menemukan apa-apa kecuali berlembar-lembar iklan minyak rambut.
Aku kembali berjalan sambil memandang sandal yang kukenakan. Sudah tipis, bahkan ada lubang di bagian tumitnya. Perutku lapar, kepalaku pusing karena banyak menangis. Tapi, lagi-lagi aku tidak mau pulang. Aku harus punya uang sebelum bertemu dengan Ayah. Ibu sudah tidak ada lagi, dan hanya aku satu-satunya yang bisa Ayah pukuli. Atau lebih buruk lagi, adikku yang akan menjadi sasaran amukannya.