Taman Bunga Mama Sekar

Marindya
Chapter #3

02. Sangkar Emas

Ibu sering mengingatkan untuk tidak bermimpi terlalu tinggi, karena katanya, hidup tidak akan membiarkanku mendapatkan apa yang kumau. Mimpi paling tinggi yang pernah kupunya, adalah memiliki baju baru yang memang dibeli untukku. Keinginan itu tidak pernah terwujud, karena aku selalu mendapat baju bekas dari anak majikan Ibu. Selain baju baru, aku belum pernah berpikir tentang mimpi lainnya. Soal ingin menjadi apa aku di masa depan, atau laki-laki yang seperti apa yang akan menjadi suamiku nanti, aku benar-benar tidak pernah memikirkan semua itu.

Menumpangi mobil bagus juga belum pernah ada dalam daftar mimpiku. Di sampingku, Yugo menempelkan hidungnya ke kaca jendela, matanya berbinar melihat lampu-lampu kota Surabaya yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Meski perjalanan ini diliputi kesunyian dan suasana canggung yang kentara, aku tetap menikmatinya. Malam di Surabaya sangat menyenangkan. Lampu-lampu kotanya indah dan banyak kendaraan bagus yang berlalu-lalang. Sangat berbeda dengan tempat tinggalku yang hanya merupakan sebuah kabupaten kecil.

Jarak dari Dollhouse menuju rumah Mama Sekar tidak terlalu jauh. Kurasa kami hanya menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit perjalanan, sebelum akhirnya berbelok ke kawasan yang lebih sepi. Rumah-rumah di sini besar-besar, dan memiliki halaman yang luas. Pintu gerbangnya juga tinggi-tinggi. Ada yang sangat tertutup, ada juga yang masih bisa dilihat bagian dalamnya karena ada rongga-rongga di gerbangnya.

“Kita mau ke mana?” bisik Yugo, dan aku hanya bisa menjawabnya dengan gelengan.

Yugo terus memegang perutnya dan berkata bahwa dia lapar, tapi aku hanya berkata bahwa dia harus menahannya sedikit lagi. Aku akan mencari warung kecil dan membeli makanan untuk kami berdua setelah bertemu dengan Mama Sekar.

Sampai akhirnya, kami berhenti pada sebuah pintu gerbang kayu yang sangat tinggi dan kokoh. Laki-laki yang mengantarku tidak perlu turun untuk membuka pintu gerbang itu, karena ketika dia membunyikan klakson, seorang perempuan tua yang memakai jarik membukakan gerbang untuk kami. Begitu melewati gerbang, aku melihat halaman yang luas, dengan banyak tanaman dan lampu-lampu berbentuk bulat seperti bola. Di ujung taman itu, berdiri sebuah bangunan dengan banyak jendela yang tinggi-tinggi dan besar. Gentengnya juga sangat tinggi dan mengkilap, seolah menegaskan bahwa dia adalah genteng yang mahal.

Bagian pintunya terbuat dari kayu tebal yang berat ketika didorong, dengan ukiran bergambar seorang lelaki yang sepertinya sedang bertarung bersama seekor burung besar. Belakangan kuketahui ukiran pintu itu merupakan Jatayu, burung gagah berani yang mencoba melawan Rahwana untuk menyelamatkan Dewi Sinta.

Begitu masuk, aku dibuat takjub dengan lantai putih bersih yang begitu dingin. Ada beberapa foto yang diletakkan di atas meja dekat tembok. Di sudut ruang tamu, ada sebuah piano besar. Meja dan kursinya terbuat dari kayu-kayu yang kokoh. Sepertinya itu kayu jati yang mahal, aku juga tidak tahu. Dua ruangan di sebelah kanan dan satu ruangan di sebelah kiri semuanya tertutup rapat. Ketika melihat jauh ke bagian belakang, ada dua bangunan lain yang berdiri bersampingan di tengah-tengah halaman luas. Aku tidak tahu itu bangunan apa, tapi halaman di belakang sana sepertinya tidak kalah luas dengan yang kulewati begitu memasuki gerbang tadi.

Perempuan tua yang membuka pintu gerbang tadi memintaku menunggu sebentar, karena katanya Mama Sekar sedang berdoa. Aku berdiri kikuk di tengah ruang tamu yang luas ini, sementara laki-laki yang mengantarku tadi sepertinya menunggu di luar, mengingat dia tidak ikut masuk dan aku tidak mendengar suara mobil yang dibawa menjauh.

Beberapa saat kemudian ketika aku sedang melihat-lihat lukisan besar yang tergantung di tembok, seorang wanita menyapa dari balik tubuhku. “Sopo Cah Ayu iki?[1]” katanya. Suaranya lembut, tenang, dan terdengar ramah.

Aku merangkul Yugo dan menoleh ke arah suara itu, lalu menunduk sebentar untuk memberi salam. Mama Sekar menggunakan kebaya berwarna hijau tua, yang terlihat begitu cocok dengan kulitnya yang putih. Rambutnya disanggul rendah, dan dia mengenakan riasan tipis di wajahya. Selain itu, Mama Sekar juga menggunakan anting-anting dengan batu yang warnanya senada dengan kebayanya. Meski jarak kami tidak cukup dekat, tapi aku bisa mencium wangi yang menguar dari tubuhnya.

“Anu, Nyonya.” Suaraku terbata. “Saya Arum dari Karangwedung, dan ini adik saya, Yugo. Ibu yang menyuruh saya kesini, katanya Nyonya bisa kasih saya pekerjaan.”

“Duduk,” katanya, masih dengan senyumnya yang menawan. Mama Sekar meminta perempuan tua tadi mengambil sebaskom air hangat untuk membasuh kaki kami. Sepertinya dia tidak mau lantainya kotor, karena sejak lari dari rumah, aku memang tidak memakai alas kaki.

Lihat selengkapnya