Karena tidur dengan sangat nyenyak, hari ini aku bangun kesiangan. Saat membuka mata, jam yang tergantung di dinding menunjukkan pukul delapan lewat lima menit. Di sampingku, Yugo masih tidur pulas sambil memeluk guling empuknya. Aku berjalan menuju meja rias untuk menyisir rambut sebelum akhirnya keluar kamar. Pagi di rumah Mama Sekar jauh lebih menyenangkan. Udaranya sejuk, mungkin karena banyak tanaman di halaman-halaman rumah yang luas ini. Aku juga bisa mendengar suara burung bersahut-sahutan dari halaman depan dan belakang.
Begitu berjalan ke bagian belakang, bangunan yang sempat kuintip sekilas tadi malam kini benar-benar terlihat sangat jelas. Bangunan di sisi kiri adalah dapur, tempat Mak Tin memasak. Saat melangkah masuk, aku baru tahu kalau dapur ini lebih besar dari dugaanku. Ada tiga ruangan lain di dalamnya. Satu kamar untuk Mak Tin, satu kamar untuk Dahlia, dan satu lagi kamar mandi yang agak kecil. Bangunan ini mirip seperti rumah kontrak tiga petak.
Aku duduk di samping Mak Tin yang sedang memasak. Kompor yang Mak Tin gunakan merupakan kompor sumbu, bukannya tungku yang harus dijejali kayu seperti di tempat tinggalku dulu. Kompor itu diletakkan di lantai, sementara Mak Tin duduk di dingklik[3].
“Pagi, Cah Ayu. Bisa tidur nyenyak?” sapa Mak Tin setelah menoleh sebentar dan tersenyum padaku.
“Bisa, Mak. Saking nyenyaknya, Yugo sampai belum bangun,” sahutku, yang kemudian disambut kekehan Mak Tin.
Tidak ada lagi percakapan diantara kami. Aku membiarkan ruangan ini dipenuhi dengan suara-suara alat masak Mak Tin, dan suara minyak panas yang baru saja diceburi ikan laut. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat Dahlia baru saja menggulung selang panjang dan meletakkannya di samping dapur. Sepertinya dia baru saja selesai menyirami tanaman di halaman depan.
Tadinya aku ingin membantu Dahlia mengerjakan apa saja yang akan dia kerjakan, tapi dia melarangku. Katanya lebih baik aku bersantai saja sambil melihat-lihat, karena Mama Sekar tidak akan mengijinkan aku untuk membantu Dahlia ataupun Mak Tin. Jadi setelah keluar dari dapur, aku duduk pada bangku yang ada di selasar dekat dapur.
Satu bangunan lagi yang berada di sebelah kanan masih tertutup rapat. Berbeda dengan dapur yang terbuka dan dipenuhi aroma masakan Mak Tin, bangunan itu terasa begitu sunyi dan tenang. Pintunya yang berwarna cokelat tua tertutup rapat sejak aku sampai di rumah ini tadi malam.
“Itu bangunan apa, Mbak?” tanyaku, ketika Dahlia berjalan mendekat padaku.
“Tempat Mama berdoa,” sahutnya. “Nanti Mama pasti mengajakmu masuk ke sana. Berdoa bersama, minta kelancaran dan keselamatan sama Gusti Pangeran.”
Aku mengangguk paham. Rasanya luar biasa melihat seseorang yang begitu kaya, tapi masih meluangkan waktunya untuk mengingat Tuhan.
“Jangan panggil aku Mbak, Rum. Aneh rasanya. Panggil saja Jeng. Jeng Dahlia. Orang-orang memanggilku begitu,” kata Dahlia ketika dia duduk di sampingku.
Jeng. Jeng Dahlia. Aku membuka mulut untuk bertanya apa artinya Jeng, tapi aku mengurungkan niat itu. Bisa jadi Ajeng, atau Diajeng. Tapi aku yakin Dahlia bukan keturunan Ningrat, jadi pasti bukan keduanya.
“Tadi malam sudah keramas, toh? Ayo, kurapikan rambutmu,” kata Dahlia lagi setelah kami terdiam cukup lama.
Dahlia berjalan menuju kamarnya untuk mengambil gunting rambut di sana. Lalu, kami masuk ke kamarku dan aku diminta untuk duduk di depan cermin meja rias. Ketika kami masuk, Yugo terbangun dan duduk menatap kami sambil mengusap matanya. Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi Dahlia menyapanya dan memberi tahu Yugo bahwa sarapan hampir siap, jadi Yugo diminta untuk segera mandi.
Dahlia memasangkan kain penutup yang cukup lebar pada pundakku. Saking lebarnya, kain itu menutup hampir seluruh bagian tubuhku. Lalu, Dahlia mulai menyisir rambutku dan membaginya menjadi beberapa bagian, sebelum menjepitnya. Rambutku panjang sampai hampir menyentuh pantat. Dahlia bilang aku mirip kuntilanak dengan rambut sepanjang dan setebal ini. Dia terus berkomentar soal rambutku yang kering dan pecah di bagian ujungnya. Aku tidak tahu kenapa bisa pecah, karena kurasa yang bisa pecah hanya sesuatu yang terbuat dari kaca. Atau keramik.
Sudah hampir 45 menit Dahlia memotong rambutku, dan rasanya aku bisa saja tertidur kalau dia melakukannya sedikit lebih lama lagi. Dahlia menyisir semua rambutku ke bagian dada, lalu dia mengeluarkan satu alat yang aneh. Bentuknya mirip pencapit lauk di warung Nek Rukmi, tapi yang ini lebih besar, tampak berat, dan berkabel panjang. Kata Dahlia, namanya setrika rambut.
Ketika Dahlia menjepit rambutku dengan setrika yang mirip pencapit lauk itu, ada asap-asap tipis yang keluar dari rambutku. Tapi rambutku jadi cantik. Lebih lurus, dan berbelok di bagian ujungnya. Bentuk rambutku jadi bertingkat-tingkat. Lancip-lancip. Aku jadi mirip dengan model di majalah-majalah yang dijual di terminal.
Apa Mama Sekar akan menjadikanku seorang model, ya?
***
Pukul sepuluh setelah aku dan Yugo sarapan, Dahlia membawa kami ke sebuah pusat perbelanjaan yang mewah. Gedungnya besar, lantainya bersih mengkilap, dan udara di dalamnya sangat dingin. Ketika melihat penampilanku di salah satu toko yang kami lewati, aku merasa diriku dan Yugo mirip gelandangan yang mencoba masuk ke sebuah tempat mewah yang seharusnya bukan untuk kami. Baju kami masih baju yang sama dengan kemarin, saat kami melarikan diri dari rumah. Yang bereda hanya rambutku yang lebih rapi dan lurus.