Galih Alvaro, 23 tahun, adalah anak tunggal dari keluarga Hartono Kusuma. Dengan berat badan 120 kilogram, tubuhnya memang sering membuat orang salah menilai dirinya. Namun, Galih sama sekali tidak minder. Dia cuek, periang, dan yang paling penting: sangat menyukai makanan.
Ayahnya bernama Pak Hartono Kusuma, pemilik Grup Karya Utama, perusahaan terbesar di kota tersebut. Hartono dikenal sebagai pengusaha sukses dengan jaringan bisnis yang sangat luas.
Ibunya bernama Bu Sri Wahyuni, seorang ibu yang sangat menyayangi Galih. Begitupun dengan ayahnya; meski lebih serius mengurus perusahaan, ia tetap sangat menyayangi Galih, anak tunggal semata wayangnya. Bu Sri lebih sering mengkhawatirkan keselamatan dan kenyamanan anak semata wayangnya, terutama untuk jodoh masa depannya. Keadaan tubuh Galih yang gendut membuatnya sulit mendapatkan wanita yang mau menerima apa adanya.
Meskipun Galih adalah anak satu-satunya pewaris Grup Karya Utama, keadaan tubuhnya yang gendut tetap membuat kedua orang tuanya sering merasa khawatir. Selain itu, kedua orang tuanya sangat menjaga identitas dan keberadaannya. Mereka takut kekayaan keluarga membuat Galih menjadi sasaran penculikan atau dimanfaatkan orang lain.
Karena itu, Galih sengaja menjalani kehidupan seperti orang biasa. Bahkan, mobil khusus yang disiapkan untuknya dibuat menyerupai mobil taksi online. Galih sendiri terkadang berpura-pura menjadi sopir taksi online ketika bepergian. Dengan begitu, orang-orang tidak akan menyangka bahwa pria bertubuh 120 kilogram yang terlihat santai di balik kemudi itu sebenarnya adalah pewaris perusahaan terbesar di kota.
Galih mempunyai tiga orang ajudan kepercayaan keluarga yang bertugas menjaganya. Ketiga ajudannya begitu setia menjaga dan selalu patuh dengan apa yang diperintahkan Galih, meskipun kadang ketiganya sering kali dibuat kelimpungan mencari keberadaan Galih yang tidak mau dikawal layaknya seorang anak konglomerat kaya raya.
Ketiga ajudan itu bernama Cecep Hidayat (Ajudan 1), Tatang Sunarya (Ajudan 2), dan Jajang Kusnandar (Ajudan 3).
Ketiganya sudah terbiasa menghadapi tingkah Galih yang membuat kepala mereka pusing. Masalahnya bukan menjaga Galih dari bahaya, melainkan menjaga Galih agar tidak mencari makanan ke tempat-tempat aneh, menghadiri pesta ulang tahun orang yang tidak dikenalnya, atau tiba-tiba menghilang hanya karena melihat restoran baru.
Dan di sinilah kehidupan Galih Alvaro dimulai: seorang pewaris konglomerat yang sengaja menyamar sebagai orang biasa, sementara orang-orang di sekitarnya sama sekali tidak tahu siapa dirinya sebenarnya.
Di sebuah rumah makan, Galih sedang berbicara dengan seorang pelayan perempuan. Kebetulan saat itu Galih hendak makan, namun dengan sikap konyolnya, Galih ingin pelayan perempuan itu dijadikan kekasih hatinya.
"Maaf," tolak pelayan perempuan itu.
Dua kata itu sebenarnya sederhana. Tidak panjang, tidak kasar, dan bahkan terdengar sopan. Namun, bagi seorang pria yang sudah menghabiskan hampir sepuluh menit berdiri di depan seorang pelayan perempuan, dua kata tersebut cukup untuk membuat perjuangannya berakhir.
"Maaf kenapa?" tanya Galih heran.
"Iya. Maaf. Aku rasa kita tidak cocok," tolaknya kembali sambil tersenyum tidak enak.
Galih terdiam. Dia menatap perempuan tersebut dari atas sampai bawah, kemudian menatap dirinya sendiri. Kemeja yang dikenakannya masih rapi. Rambutnya juga tidak berantakan. Hanya ada satu masalah. Ya, itu tubuhnya.
Tubuh Galih cukup besar. Bukan sekadar sedikit berisi. Perutnya terlihat jelas ketika berdiri. Pipinya bulat. Lengannya besar. Bahkan ketika dia berjalan, tubuhnya seperti membawa keyakinan bahwa makanan adalah salah satu kebutuhan pokok yang harus dicari terus-menerus.
Galih menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu tersenyum lembut menatap wajah pelayan perempuan yang berdiri di depannya dan baru saja menolaknya.
"Karena aku gendut?" tanya Galih sambil tersenyum.
"Bukan begitu." Perempuan itu menggelengkan kepala.
"Berarti karena wajahku?" tanya kembali Galih.
"Bukan." Perempuan itu kini merasa bingung harus bicara apa.
"Karena aku kurang tinggi?" ulang Galih penasaran.
"Bukan juga. badan kamu tinggi kok," Perempuan itu kembali menggelengkan kepala.
Galih mengangguk-angguk seolah baru menemukan jawaban dari sebuah teka-teki penolakan halus dari perempuan yang berdiri di depannya.
"Oh, iya." Galih mengangguk sendiri.
"Aku harap kamu tidak tersinggung," perempuan itu tersenyum canggung.
"Tidak, tidak sama sekali. Santai saja," Galih langsung tersenyum mendengarnya.
"Benarkah?" Perempuan itu terkejut melihat Galih malah tersenyum.
"Iya beneran," Galih mengangguk dengan wajah santai.
"Serius?" Perempuan itu jadi kaget.
"Iya serius." Galih kembali mengangguk.
Galih memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dengan wajah tetap santai, seolah-olah tidak terjadi apa-apa di hadapannya.
"Kalau kamu tidak suka, ya sudah tidak apa-apa," lanjut Galih kembali tersenyum.
Perempuan itu tidak tahu harus menjawab apa. Galih kemudian menatap jam tangannya. Sudah menunjukkan pukul delapan malam. Tiba-tiba perutnya berbunyi keras. Kruuukkk…
Suara perut Galih terdengar begitu jelas di antara mereka. Seketika perempuan itu dibuat menahan tawa mendengarnya. Galih langsung menunduk melihat perutnya sendiri yang berbunyi jelas.
"Kamu juga lapar?" tanya Galih tiba-tiba.
"Tidak, kan saya lagi bekerja," jawab perempuan itu tersenyum.
"Oh, tidak ya. Benar juga sih, kamu lagi kerja mana mungkin lapar," Galih jadi bicara sendiri.
"Jadi tidak pesan makanannya?" tanya pelayan perempuan itu.
"Nanti saja, takut uang saya tidak cukup makan dirumah makan ini," jawab Galih pura-pura.
"Terus? Memangnya kamu tidak bawa uangnya?" Perempuan itu dibuat kaget.
"Aku pergi dulu, mau lihat uangnya di dasbor mobil taksiku. Dah!" Galih langsung melangkah begitu saja.
"Mau ke mana?" Pelayan perempuan itu semakin kaget melihat Galih pergi begitu saja.