Galih masih duduk santai di meja makannya. Piring di hadapannya nyaris bersih, hanya tinggal menyisakan beberapa potongan kecil yang sebentar lagi juga akan lenyap. Dia mengunyah suapan terakhir sambil sesekali melirik ke sekeliling restoran.
Bukan karena mencari sesuatu yang penting. Dia hanya sedang mencari Andini, dan tidak lama kemudian, perempuan itu terlihat berjalan membawa tumpukan piring kosong dari meja pelanggan lain di atas nampan. Galih langsung mengangkat tangan sebelah.
“Pelayan,” seru Galih sedikit mengangkat tangannya.
“Oh, iya Kak, sebentar,” Andini bergegas menghampiri.
Setelah sampai Andini melihat ke atas meja, seketika alisnya naik kaget melihat menu sajian ternyata benar dihabiskan makan sendirian oleh Galih.
“Ada yang mau dipesan lagi, Kak?” tanya Andini menyembunyikan rasa kagetnya.
“Kamu duduk dulu, sebentar saja,” suruh Galih tanpa ragu.
“Duduk? Saya lagi kerja Kak, ini saya bawa piring kosong,” tolak Andini bingung.
“Letakkan saja di situ piringnya,” suruh kembali Galih menunjuk ke atas meja.
Andini tersenyum kecil, mencoba bersikap profesional tanpa langsung menolaknya dengan kasar.
“Memangnya ada apa, Kak?” tanya Andini terus berdiri.
“Aku ingin ngobrol sebentar sama kamu," jawab Galih begitu saja.
Andini terdiam sejenak, matanya melirik piring di atas meja yang sudah hampir kosong semuanya, lalu kembali menatap wajah Galih.
“Memangnya mau ngobrol apa, Kak?” Andini masih merasakan bingung.
“Duduk saja dulu,” kekeh Galih berniat ingin berkenalan dalam hatinya.
Andini menahan senyum, merasa geli sekaligus bingung menghadapi pelanggan Galih yang baru makan di restoran tempatnya bekerja.
“Maaf Kak, saya tidak bisa. Kalau sampai duduk satu meja dengan pelanggan, apa lagi ngobrol, bisa-bisa saya kena teguran bahkan bisa fatal kena sanksi dikeluarkan,” jelas Andini apa adanya.
“Kenapa?” Galih mengerutkan keningnya.
“Karena sekarang waktunya jam kerja, Kak,” jawab Andini apa adanya.
“Oh begitu rupanya, baiklah.” Galih mengangguk paham.
Hanya itu yang Galih ucapkan, tidak ada raut wajah kecewa, tidak ada perubahan ekspresi meskipun keinginannya gagal untuk berkenalan. Dia dengan tenang mengambil gelas dan meneguk minuman di dalamnya.
“Kalau begitu, ya sudah tidak apa-apa,” lanjut Galih lalu mengambil tisu.
“Terima kasih sudah mau mengerti, Kak,” ucap Andini merasakan lega.
“Tapi kalau nanti kamu sudah selesai kerja, aku ingin ngajak kamu makan bisa apa tidak?” ajak Galih tiba-tiba dengan begitu saja.
“Hah, Kakak mau ngajak saya makan?” Andini kaget mendengarnya.
“Iya, memangnya kenapa?” tanya balik Galih melihat ekspresi kaget wajah Andini.
“Memang Kakak sudah biasa, suka mengajak perempuan makan?” tanya Andini masih kaget namun timbul rasa penasaran.
“Enggak juga sih,” jawab Galih.
“Terus, kenapa mau ngajak saya makan?” Andini semakin merasa penasaran.
“Ya, karena jarang ada perempuan yang mau saya ajak makan, kalau sama kamu kali saja kamu mau,” celetuk Galih tanpa mengada-ada.