Tampan Tapi Gendut Anak Konglomerat

SAKSI PENA
Chapter #3

#3 cemburu hati Dion

Waktu sudah sekitar pukul sebelas malam lebih, beberapa meja telah kosong, sementara para pelayan mulai membereskan peralatan makan yang baru saja ditinggalkan pelanggan.


 Andini ikut sibuk mengumpulkan piring dan gelas dari salah satu meja. Namun, ketika melewati meja tempat Galih tadi makan, langkahnya tiba-tiba melambat.


 Matanya tertuju pada beberapa piring kosong yang masih tersisa. Andini tersenyum kecil. Ia kembali teringat pelanggan baru itu ya itu Galih.


 Entah kenapa, sejak Galih datang, ada saja tingkahnya yang membuat Andini ingin tertawa. Tubuhnya yang gendut ternyata benar-benar cocok dengan selera makannya. Porsinya bukan lagi seperti porsi makan satu orang.


 Kadang Andini sampai merasa Galih memesan makanan seperti sedang menjamu teman-teman satu meja yang tak terlihat. Steak, ayam panggang, kentang goreng, sup, jus, lalu masih menambah makanan lagi.


 "Orang tadi makannya bisa buat porsi satu kampung, hihi hihi," Andini tertawa kecil teringat Galih.


 Ia teringat bagaimana Galih makan dengan santainya. Tidak terburu-buru, tetapi makanan di atas meja tiba-tiba saja sudah habis. Yang lebih lucu lagi, setelah makanan sebanyak itu ludes, wajah Galih tetap terlihat santai seolah-olah baru makan camilan ringan.


 "Lucu juga pelanggan baru itu," gumam Andini masih ingat terus.


 Ia kemudian menggeleng pelan dan kembali bekerja. Bukan karena memikirkan sesuatu yang serius, bukan pula karena perasaan khusus. Andini hanya merasa Galih adalah pelanggan yang berbeda dari yang lainnya.


 Kebanyakan pelanggan datang, makan, membayar, lalu pulang. Tapi Galih? Dia datang dengan tubuh gendutnya, memesan makanan dalam porsi raksasa, mengobrol santai, lalu membuat suasana restoran terasa sedikit lebih ramai.


 "Benar-benar aneh." Ia segera menutup mulutnya ketika menyadari dirinya kembali tersenyum sendiri.


 Andini kemudian melanjutkan pekerjaannya. Namun tanpa disadarinya, nama Galih mulai menjadi sesuatu yang mudah membuatnya tersenyum. Bagi Andini, Galih masih sebatas pelanggan baru. Pelanggan yang gendut, suka makan dalam porsi besar, dan punya tingkah yang cukup menghibur.


 Dan malam itu, meski Galih sudah tidak berada di sana, kehadirannya masih meninggalkan sedikit cerita di pikiran Andini.


 Dion yang sebelumnya berada di bagian depan restoran akhirnya kembali masuk ke dalam. Ia baru saja memastikan beberapa pelanggan terakhir meninggalkan restoran dengan tertib. Suasana Lavina sudah jauh lebih sepi dibandingkan beberapa jam sebelumnya.


 Namun, langkah Dion tiba-tiba berhenti ketika melihat Andini.


 Gadis itu sedang membereskan meja sambil tersenyum kecil. Dion memperhatikan beberapa saat. Andini mengambil piring kosong, menyimpannya ke dalam nampan, lalu kembali tersenyum seperti sedang mengingat sesuatu yang menyenangkan.


 Dion mengerutkan kening. Sejak tadi ia memang sudah merasa ada yang berbeda, dan sekarang rasa penasarannya semakin besar. Dion akhirnya berjalan menghampiri Andini.


 "Andini." panggil Dion.


 Andini menoleh mendengar Dion memanggilnya.


 "Iya, Pak Dion?" sahut Andini.


 "Kamu dari tadi senyum-senyum sendiri. Ingat apa?" tanya Dion curiga.


 "Enggak ingat apa-apa." jawab Andini menyembunyikannya.


Dion melirik meja yang sedang dibereskan Andini.


"Kamu sedang ingat pelanggan si gendut itu kan?" tanya Dion hingga kasar.


Andini terdiam sebentar. Kemudian, ia malah tersenyum lagi, akhirnya tidak mau menyembunyikan apa yang sedang di ingatnya.


"Iya, Pak. orangnya sangat lucu," jawab Andini sambil melanjutkan pekerjaannya.


 "Apanya yang lucu orang gendut tukang makan begitu?" cibir Dion merasa tidak suka mendengarnya.


 "Porsi makannya Pak banyak sekali," jawab Andini tidak tahu jika Dion merasa cemburu.


 "Apa si gendut itu merayu kamu?" tanya kembali Dion ke inti rasa cemburunya.


 Andini mengerutkan kening mendengar pertanyaan yang tidak di duganya.


 "Kenapa Pak Dion bertanya seperti itu?" tanya balik Andini kaget.


"Si gendut itu banyak bicara dan banyak ngomong, kamu jangan sampai mudah di rayu orang seperti dia itu," hasut Dion dengan nada tidak suka.


"Sudah ah Pak, saya harus segera menyelesaikan pekerjaan, sudah malam," Andini enggan menanggapinya ia bergegas melanjutkan pekerjaannya.


 "Tadi kamu ngobrol apa saja?" desak Dion merasa belum selesai pembicaraannya.


 "Maaf Pak, saya harus bawa piring kebelakang," balas Andini bergegas pergi.


Dion menarik napas dalam dalam menatap langkah Andini yang enggan menanggapi apa yang ingin dirinya pertanyakan, tapi dari dulu Andini memang tidak pernah mau membahas masalah pribadi, apa lagi jika sudah menyangkut masalah perasaan hati Andini.


Di saat Andini sedang sibuk membereskan Lavina Restaurant, di tempat lain tiga orang pria sedang mengalami malam yang jauh lebih melelahkan.


 Cecep Hidayat, Tatang Sunarya, dan Jajang Kusnandar masih berada di dalam mobil. Sejak Galih meninggalkan restoran, mereka bertiga belum berhasil menemukan keberadaan anak majikan mereka.


 Mereka sudah mendatangi beberapa tempat makan. Restoran pertama, tidak ada Galih. Restoran kedua, juga tidak ada. Tempat makan ketiga, kosong. Bahkan sebuah kedai yang biasanya ramai sampai larut malam pun sudah mereka datangi, namun tetap tidak ada.


 Mobil mereka kembali melaju menyusuri jalan. Cecep yang duduk di depan kembali melihat jam tangannya. Sudah semakin malam.


 "Melelahkan sekali," ungkap Tatang menghela napas dalam.

Lihat selengkapnya