Malam itu, di depan restoran, Dion yang merasa curiga dengan sikap Andini setelah kedatangan Galih pertama kalinya ke restoran, kini seakan tidak ada waktu lama lagi bagi Dion untuk secepatnya bisa menjalin hubungan dengan Andini agar tidak bisa digoda oleh Galih.
"Andini, aku mohon, izinkan sekali saja aku untuk mengantarkan kamu pulang ke kosan, sekali saja," pinta Dion yang sudah sekian kalinya tidak Andini kabulkan.
"Maaf, tidak bisa, Pak Dion. Kosan saya khusus untuk semua wanita, jika ada laki-laki yang datang pasti akan kena tegur pemilik kosan," tolak Andini kesekian kalinya.
"Aku tidak akan mengantarkan sampai pintu kosan, cukup sampai gerbangnya saja. Aku mohon, Andini, ya sekali saja izinkan aku mengantar kamu pulang," pinta kembali Dion sampai wajahnya memelas.
"Maaf, Pak Dion, saya tidak mau terkena marah pemilik kosan. Sudah malam, saya harus secepatnya pulang. Saya permisi," tolak kembali Andini berniat hendak melangkah.
Namun, dengan cepat Dion menangkap pergelangan tangan Andini.
"Andini, sebenarnya sudah lama sekali aku menaruh hati sama kamu. Aku menyukai kamu saat pertama kali kamu ikut melamar kerja di Lavina. Itulah alasan aku kenapa hanya kamu yang aku loloskan interview di Lavina," ungkap Dion sudah tidak bisa menyembunyikan perasaannya.
Andini tersentak kaget mendengarnya, dengan cepat menarik tangannya yang digenggam erat Dion.
"Jadi, sekarang Pak Dion ingin meminta timbal balik?" tanya Andini dengan wajah kecewa.
"Bukan begitu maksudku, Andini. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang aku rasakan selama ini. Aku kurang apa sebagai laki-laki? Gajiku lumayan besar, aku sudah punya mobil, punya rumah. Kurang apa lagi?" tanya Dion agar Andini menerimanya.
"Pak Dion tidak kekurangan apa-apa, hanya saja saya belum ingin memikirkan hal seperti itu. Saya ingin fokus bekerja tanpa ada batasan apa pun. Saya minta Pak Dion mau mengerti hal itu," tolak kembali Andini atas apa yang dirasakannya.
"Tadi aku lihat kamu terus-menerus senyum teringat pelanggan baru si gendut itu. Jujur, aku tidak suka dan merasa kesal melihat kamu dekat sama si gendut itu," ungkap Dion merasa kesal jika teringat.
"Dia itu pelanggan, Pak. Saya harus melayaninya dengan baik. Jika tidak, bagaimana kalau saya dilaporkan terhadap pemilik restoran Lavina? Apa Pak Dion mau bertanggung jawab?" ungkap Andini apa adanya.
"Aku tahu tugas kamu apa, tapi bisa kan tidak harus sampai senyum-senyum dan akrab seperti sedang menjalin hubungan sama si gendut itu? Ya cukup datang, sajikan, sudah beres, tinggalkan dia, pergi," kesal Dion kembali teringat saat kedekatan Galih dan Andini.
"Sudah malam, Pak. Saya lelah sekali ingin istirahat. Saya permisi pulang," Andini enggan menanggapinya, bergegas melangkah pergi.
Dion terdiam menahan perasaan kecewanya, namun ada sedikit yang membuatnya lega. Dion sudah mengungkapkan isi perasaannya meskipun tidak mendapat jawaban apa yang diinginkannya.
Andini yang selalu fokus bekerja ternyata sebagai tulang punggung keluarga. Ia mempunyai seorang adik perempuan berusia 15 tahun namanya Vania, masih duduk di bangku sekolah menengah kelas 3. Ibu Andini sering sakit-sakitan akibat ditinggal pergi oleh suaminya yang entah ke mana, tidak ada kabar dan beritanya sama sekali.
Semenjak kejadian itu, ibu Andini jatuh sakit akibat terlalu banyak diam melamun. Hingga sekarang, adik Andini, yaitu Vania, yang menjaganya di rumah. Sepulang sekolah, Vania tidak ada waktu untuk bermain dengan teman seusianya, melainkan habis untuk merawat dan menjaga ibunya.
Sementara Andini, setiap kali gajian harus mengirim biaya adik dan ibunya di kampung. Itu sudah Andini jalani sudah cukup lama karena kondisi ibunya yang masih belum juga membaik, masih harus ketergantungan dengan obat-obatan, terutama obat untuk penenang.
Malam itu, Andini setelah sampai kosan, bergegas menaruh tas tangan di atas meja tengah, lalu bergegas menuju kamar mandi hendak menyegarkan tubuhnya yang sudah seharian bekerja. Setelah mandi, bergegas memakai baju tidur lalu duduk di atas tempat tidur.
Ia diam melamun teringat dengan perkataan Dion yang sudah mengungkapkan perasaannya di depan restoran. Dion memang sudah mapan, namun entah kenapa hati Andini tidak merasakan ketertarikan apa pun terhadap Dion. Mungkin karena Andini merasa trauma dengan kejadian ayahnya yang sudah meninggalkan ibunya dengan begitu saja.
Saat Andini sedang diam melamun, dering panggilan teleponnya berbunyi. Ia langsung berdiri tersadar dari lamunannya, dengan cepat mengambil ponselnya di dalam tas tangan. Setelah ponselnya diambil, terlihat Vania adiknya yang menelepon. Andini pun langsung mengangkatnya.
"Assalamualaikum, iya, Dek. Ada apa?" tanya Andini.
"Waalaikumsalam. Ibu kepalanya sakit terus sampai tidak bisa tidur. Ibu menyuruh Kakak pulang dulu ke kampung," jawab Vania.
"Ya Allah, kenapa lagi Ibu sampai tidak bisa tidur begitu? Ya sudah, nanti besok Kakak mau minta izin untuk pulang dulu. Kamu tenang dulu ya, jaga Ibu," bujuk Andini tersentak kaget.
"Iya, Kak. Nanti aku kasih tahu ke Ibu," sahut Vania di telepon.
"Ya sudah, Kakak mau menyiapkan beberapa pakaian dulu dan mau minta izin sama atasan Kakak. Kabari Kakak secepatnya jika ada apa-apa," suruh Andini seketika perasaannya sedih.
"Iya, Kak. Kakak nanti hati-hati di jalannya," sahut Vania.
"Iya, Dek. Ya sudah, Kakak tutup teleponnya. Adek juga istirahat ya," bujuk Andini.
"Iya, Kak. Assalamualaikum," tutup Vania.
"Waalaikumsalam." Andini mematikan panggilan teleponnya.
Andini meletakkan ponsel di atas meja, lalu merebahkan tubuhnya. Belum juga rasa lelahnya diistirahatkan, kini dirinya harus menerima kabar dari kampung yang mengharuskannya meminta izin untuk pulang. Meskipun risikonya besar bisa-bisa ia dipecat karena sudah kesekian kalinya Andini meminta izin pulang kampung setiap kali ibunya sakit parah.