Pagi itu, ketiga ajudan yang diperintahkan oleh Pak Hartono seakan merasakan embusan semangat baru. Tugas kali ini terasa berbeda dari biasanya. Jika sebelumnya mereka cenderung memberikan kelonggaran dan membiarkan Galih bebas tanpa pengawalan ketat, kini instruksi yang datang dari sang Tuan Besar jauh lebih tegas: mereka harus membuntuti setiap gerak-gerik Galih secara diam-diam.
Bagi ketiga ajudan tersebut, perintah baru ini tidak menyisakan pilihan lain. Mengikuti Galih jauh lebih baik daripada harus menganggur dan hanya duduk termangu di pos jaga saat tidak bertugas. Rutinitas diam di tempat selama ini telah menimbulkan kejenuhan yang luar biasa bagi mereka. Namun di sisi lain, terselip pula rasa cemas yang mendalam di hati ketiganya. Mereka sadar betul bahwa terlalu banyak menghabiskan waktu di pos jaga tanpa melakukan pengawalan berarti performa kerja mereka sedang dipertaruhkan.
Rasa takut kehilangan pekerjaan di kediaman konglomerat tersebut akhirnya menjadi pemacu utama bagi mereka untuk menjalankan misi pembuntutan ini dengan tingkat kewaspadaan tertinggi. Di dalam mobil yang bergerak tenang, keheningan pagi itu akhirnya pecah oleh rasa penasaran yang sedari tadi dipendam.
“Cep, kenapa sekarang kita disuruh membuntuti Tuan Muda, ya?” tanya Jajang yang duduk di sebelah Cecep yang sedang mengemudi.
“Mungkin Tuan Besar teh tidak mau kembali terulang masalah dulu,” jawab Cecep tanpa mengalihkan fokusnya dari jalanan di depan.
“Mungkin iya juga, ya. Tapi hebatnya, Tuan Muda itu tidak pernah merasa sakit hati sama cewek, ya?” sanjung Jajang sambil menoleh ke arah rekan di sebelahnya itu.
“Kalau hal itu mah memang benar. Tapi kan tetap saja Tuan Besar tidak akan tega jika terus melihat Tuan Muda hanya dimanfaatkan oleh wanita. Tugas kita kali ini teh, yaitu apa yang Tuan Besar maksudkan. Kita harus tahu siapa wanita yang mau didekati oleh Tuan Muda,” jawab Cecep sekilas menoleh.
“Tuan Muda mah senyum wae dimanfaatkan sama cewek oge,” ujar Tatang yang duduk di jok tengah.
“Kamu kasihan tidak, Tang, lihat Tuan Muda diperlakukan seperti itu terus sama wanita yang didekatinya?” tanya Cecep, sedikit menolehkan kepalanya ke belakang.
“Ya kasihan atuh, Cep, saya juga lihatnya,” jawab Tatang.
Cecep tersenyum sambil mengangguk-angguk kecil. Bagaimanapun, meski ketiganya hanya berstatus sebagai pekerja dan bukan bagian dari anggota keluarga Galih, mereka sudah menganggap Tuan Muda seperti keluarga sendiri. Karena alasan itulah, mereka bertiga merasa tidak tega jika nasib Galih terus-menerus dimanfaatkan oleh wanita hanya karena kondisi fisiknya yang gemuk.
Sambil memegang kemudi, Cecep terus melajukan mobilnya memepet mobil Galih dari belakang. Perintah tugas dari Pak Hartono pagi itu harus benar-benar mereka jalankan dengan baik. Mereka tidak boleh sampai kehilangan jejak mobil Galih yang sedang meluncur di depan, membelah jalan besar yang mulai ramai oleh kendaraan lain yang menuju tempat tujuan masing-masing.
Galih memperlambat laju mobilnya, memutar setir untuk membawa bodi depan mobil memasuki pelataran Lavina Restoran. Pagi itu, momennya sangat pas dengan Andini yang sedang mengenakan gaun lengan panjang dan tas yang menggantung di pundak. Wanita itu berniat mengantarkan surat izin tidak masuk kerja karena harus secepatnya pulang ke kampung halaman pagi itu juga.
Dari dalam mobil, Galih melihat punggung Andini yang sedang berjalan menuju pintu masuk restoran. Ia pun bergegas menekan klakson beberapa kali. Suara nyaring klakson tersebut seketika membuat Andini membalikkan badan dan menatap mobil Galih yang bergerak mendekatinya. Begitu mobil berhenti tepat di depan Andini, Galih dengan cepat membuka pintu dan keluar dari dalam kabin mobil.
“Kamu?” Andini langsung tersenyum begitu melihat orang yang keluar dari dalam mobil ternyata adalah Galih.
“Masih ingat, kan, sama aku?” tanya Galih sambil berdiri di depan Andini.
“Iyalah saya masih ingat, pelanggan baru yang pesan porsi makannya banyak,” jawab Andini. Seketika ingatannya terbawa ke kejadian semalam, saat pertama kali ia melayani Galih di restoran.
“Syukurlah kalau kamu masih ingat. Tapi, kenapa kamu tidak pakai seragam restoran?” tanya Galih sambil memperhatikan pakaian yang dikenakan Andini.
“Saya harusnya masuk kerja shift dua, bukan masuk pagi. Tapi saya mau izin pulang ke kampung pagi ini, makanya mau mengantarkan surat izin tidak masuk kerja dulu,” jawab Andini apa adanya.
“Hah? Pulang kampung? Mau ngapain?” Galih tersentak kaget mendengarnya.
Andini terdiam dan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap wajah kaget Galih. Ada rasa ragu di hatinya, apakah ia harus memberitahukan alasan kepulangannya kepada Galih atau tidak. Bagaimanapun, hubungan mereka berdua sejauh ini hanyalah sebatas pelayan dan pelanggan restoran yang bahkan belum saling mengenal nama satu sama lain.
“Hanya ada keperluan saja di kampung. Paling besok juga saya sudah kembali bekerja,” jawab Andini terpaksa berbohong.
“Pakai apa pulang ke kampungnya?” tanya Galih saat tidak melihat ada kendaraan yang dibawa oleh Andini.