Tampan Tapi Gendut Anak Konglomerat

SAKSI PENA
Chapter #6

#6 Porsi makan

Galih yang sudah mendengarkan percakapan Andini di telepon dengan adik perempuannya, kini tahu alasan kenapa Andini harus mendadak pulang ke kampung halaman. Selain itu, Galih juga menyadari bahwa ternyata Andini adalah sosok gadis yang mampu menyimpan dan menyembunyikan rasa lelah serta kesedihannya dengan begitu rapat.

“Kamu sudah sarapan belum?” tanya Galih tiba-tiba.

Andini langsung menoleh mendengarnya sambil memasukkan kembali ponsel ke dalam tas.

“Belum, memangnya kenapa?” tanya Andini balik.

“Aku juga belum. Bagaimana kalau kita berhenti dulu untuk sarapan?” ajak Galih sambil menoleh sekilas.

“Nggak mau, ah. Nanti kamu sarapannya banyak, aku malu lihatnya,” tolak Andini berterus terang.

“Hahaha! Kamu masih trauma lihat aku makan?” tanya Galih kembali sampai tertawa lebar.

“Iya! Kamu bayangkan, sampai satu meja penuh kamu habiskan semuanya. Bagaimana kalau sekarang saya satu meja sama kamu di restoran terus dilihat orang-orang?” tanya Andini balik, masih teringat jelas dengan kejadian semalam.

“Oke, baik. Demi bisa sarapan bareng sama kamu, dan demi kamu juga harus sarapan pagi ini, aku akan sarapan satu piring saja nasinya. Bagaimana?” tawar Galih kembali.

“Kamu janji dulu,” pinta Andini dengan wajah serius.

“Iya, aku janji hanya satu piring nasi saja,” balas Galih sambil mengangguk.

“Ya sudah ayo, awas saja kalau kamu sampai bohong,” ancam Andini berusaha percaya.

“Gitu dong, kamu mau sarapan di mana?” tanya Galih.

“Kita cari rumah makan saja yang banyak di sisi jalan,” jawab Andini agar tidak terlalu banyak mengeluarkan uang.

“Ok, kita cari rumah makan di depan,” Galih mengangguk kecil kembali fokus mengemudi sambil melihat ke depan dan sisian jalan mencari rumah makan.

Di tempat lain, surat izin tidak masuk kerja milik Andini sudah sampai di atas meja kerja Dion di Lavina Restoran. Dion yang merasa tidak mendapatkan pesan chat apa pun dari Andini tentang ketidakhadirannya hari ini, langsung membanting surat izin tersebut ke atas meja kerjanya dengan penuh emosi.

“Arghh! Andini, kamu itu selalu saja tidak pernah mau memberi tahu lewat pesan kepadaku! Kamu itu sudah sering kali minta izin tidak masuk kerja, absen kamu itu sudah buruk sekali! Tapi aku selalu berusaha menutupinya agar kamu tetap bisa bertahan di Lavina Restoran ini. Kenapa kamu tidak pernah mau menghargaiku?!” geram Dion berbicara sendiri di dalam ruang kerjanya.

Dion mengepalkan tangan kuat-kuat untuk menahan emosi yang bergejolak di dalam dadanya. Jangankan mendapatkan jawaban atas perasaan sukanya yang semalam sudah diutarakan kepada Andini, izin kepulangan Andini ke kampung pagi ini pun sama sekali tidak dikabarkan kepadanya secara pribadi. Hal itulah yang membuat Dion benar-benar merasa tidak dihargai sama sekali oleh Andini.

“Baiklah, jika memang kamu tidak pernah mau menghargaiku, aku akan melaporkan apa adanya kepada pemilik restoran ini! Mulai sekarang, aku tidak akan peduli lagi meskipun kamu sampai dikeluarkan. Aku tidak akan peduli lagi terhadap dirimu, Andini!” geram Dion sambil bergegas duduk dan menyalakan komputer di atas meja kerjanya.

Sementara itu, Galih dan Andini sudah berada di dalam sebuah rumah makan. Keduanya kini telah duduk berhadapan di kursi satu meja. Galih merasakan kebahagiaan yang tiada taranya. Keinginannya untuk bisa duduk dan makan berdua dengan Andini pada pagi menjelang siang ini benar-benar terwujud. Hanya saja, kali ini Galih sama sekali tidak diperbolehkan untuk memegang buku menu sajian rumah makan tersebut. Melainkan Andinilah yang mengambil alih dan memilihkan makanan untuknya.

Setelah memesan menu kepada pelayan rumah makan, Andini mengedarkan pandangannya ke sekitar. Beberapa pelanggan di sana banyak yang melirik ke arah Galih. Pria dengan bobot tubuh mencapai 120 kg memang tampaknya akan selalu menjadi pusat perhatian di mana pun berada. Namun bagi Andini, ia tidak ingin memedulikan pandangan orang lain. Meski ada sedikit rasa malu yang terselip di hatinya, kebaikan sikap Galih membuat Andini mampu menepis perasaan tersebut.

Lihat selengkapnya