Tampan Tapi Gendut Anak Konglomerat

SAKSI PENA
Chapter #7

#7 Keysha masa lalu Galih

Di tempat lain, Pak Hartono sedang berada di dalam ruang kerjanya untuk mengecek data laporan kantor sekaligus memantau laporan berkala dari ketiga ajudannya. Fokusnya seketika teralih ke arah pintu saat mendengar suara ketukan dari luar. Tidak berselang lama, pintu ruangan tersebut terbuka, disusul oleh langkah masuk seorang gadis berparas cantik, bertubuh langsing, dan mengenakan pakaian mewah yang tampak begitu glamor.

Gadis itu bernama Keysha Asifa. Ia adalah wanita yang pernah menjalin hubungan asmara dengan Galih tujuh bulan yang lalu. Kala itu, tanpa ada keputusan maupun pembicaraan masalah apa pun dengan Galih, Keysha pergi begitu saja meninggalkan sang Tuan Muda tanpa ada kabar dan berita sama sekali. Namun kini, setelah tujuh bulan lamanya menghilang, Keysha tiba-tiba datang kembali dan langsung menghadap Pak Hartono di ruang kerjanya.

“Pagi, Om,” sapa Keysha sambil tersenyum dengan wajah tanpa dosa, berdiri tegak di depan meja kerja.

Pak Hartono sedikit terkejut. Ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kerja, menatap tajam wajah Keysha yang sama sekali tidak memperlihatkan rasa bersalah sedikit pun.

“Om, kenapa sih Galih tidak pernah mau chat aku duluan?” tanya Keysha yang tiba-tiba datang dan langsung berani menyudutkan Galih.

“Hubungan kamu dengan Galih sudah berakhir,” tegas Pak Hartono dengan nada malas menanggapi wanita di depannya itu.

“Aku dan Galih tidak pernah bicara untuk mengakhiri hubungan, Om. Aku pergi dari Galih karena kemarin aku harus fokus kuliah di luar negeri. Aku kangen ingin bertemu sama dia, tapi nomornya tidak aktif terus,” dalih Keysha dengan wajah serius.

“Lantas, apa yang mau kamu lakukan terhadap Galih?” pancing Pak Hartono.

“Aku ingin kembali seperti dulu, merasa bahagia menjalin hubungan dengan Galih,” jawab Keysha dengan begitu ringannya.

“Keysha, dalam menjalin sebuah hubungan itu tidak akan terhalang oleh batas jarak dan waktu, apalagi di zaman yang sudah serba canggih seperti sekarang ini. Jika kamu hanya sebatas main-main terhadap Galih, lebih baik jangan kembali menemuinya,” tegas Pak Hartono kembali.

“Aku terlalu fokus studi kuliah, Om. Aku tidak mau jika sampai gagal dan mengecewakan kedua orang tuaku. Kali ini aku ingin menjalin hubungan serius dengan Galih,” dalih Keysha lagi, kini dengan raut wajah yang semakin dibuat-buat seserius mungkin.

Pak Hartono terdiam. Ia tahu betul ekspresi wajah Keysha hanyalah kepura-puraan agar dirinya memberikan izin untuk mempertemukan wanita itu kembali dengan Galih. Meskipun sebenarnya Pak Hartono ingin sekali meluapkan amarahnya, bagaimanapun Keysha adalah anak dari rekan bisnisnya. Pak Hartono harus tetap bisa menahan diri demi menghargai hubungan profesional di dunia bisnis.

“Lebih baik sekarang kamu pulang saja dulu. Om harus bicara perlahan-lahan dengan Galih, karena bagaimanapun, Galih sudah terlanjur merasa dikecewakan oleh kamu,” suruh Pak Hartono, mencoba mengulur waktu sembari menyusun rencana.

“Om tidak bohong, kan, mau membicarakannya dengan Galih?” tanya Keysha dengan wajah yang seketika berubah sumringah hingga tersenyum lebar.

“Iya. Mungkin butuh waktu dua atau tiga hari bagi Om untuk perlahan membicarakannya dengan Galih,” jawab Pak Hartono menenangkan.

“Oke deh kalau begitu. Makasih ya, Om! Nanti dua hari lagi aku mau langsung main ke rumah Om. Aku pulang dulu, titip salam buat Galih di rumah. Mari, Om!” Keysha tersenyum lebar lalu membalikkan badan, melangkah lebar menuju pintu keluar.

Setelah Keysha pergi, Pak Hartono langsung memegangi jidatnya yang terasa pening. Ia merasa pusing memikirkan kenapa Keysha tiba-tiba harus datang kembali tepat di saat Galih sedang berusaha mendekati Andini. Padahal menurut penilaiannya, ada kemungkinan besar Andini—gadis yang terlihat cantik dan sederhana itu—bisa cocok dengan kondisi Galih apa adanya.

Hidup bergelimang harta kekayaan ternyata tidak membuat Pak Hartono lupa diri. Baginya sebagai orang tua, kebahagiaan anak adalah segalanya di atas dunia. Ditambah lagi, Pak Hartono dan Ibu Sri sudah lama sekali merindukan kehadiran anggota keluarga baru dari keturunan Galih kelak jika sudah menikah. Hal itu tentu akan semakin menambah kehangatan dan rasa kebahagiaan keluarga yang selama ini diimpikan oleh mereka berdua.

Pak Hartono langsung mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Ia bergegas menghubungi ketiga ajudannya untuk memberi perintah baru: mereka harus menahan Galih agar tidak pulang ke rumah selama dua sampai tiga hari ke depan, karena Keysha telah kembali dan ingin menemui Galih. Di seberang telepon, ketiga ajudan yang masih dalam perjalanan luar kota seketika tersentak kaget. Mereka tahu betul urusannya pasti akan kembali ribet dan rumit jika sampai Keysha menjalin hubungan seperti dulu lagi dengan Tuan Muda mereka.

“Waduh, kita menambah tugas pekerjaan lagi ini mah,” ujar Jajang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah.

“Ya mau bagaimana lagi. Yang jadi masalahnya sekarang, bagaimana caranya kita menahan Tuan Muda untuk tidak pulang ke rumah selama dua-tiga hari, sedangkan posisi kita saja tidak boleh ketahuan oleh Tuan Muda?” tanya Cecep yang mulai merasa bingung memikirkan strategi taktis mereka.

“Gampang atuh! Kita kempesin saja ban mobil Tuan Muda setiap kali nanti Tuan Muda mau pulang ke rumah,” celetuk Tatang dengan wajah tanpa dosa.

“Kasihan atuh, Tang, kalau dikempesin mah,” tegur Jajang, langsung menyatakan ketidaksetujuannya.

Lihat selengkapnya