“Bu, ini aku, Andini. Sudah di rumah,” ucap Andini perlahan.
Ibu Hikmah perlahan membuka matanya begitu mendengar suara Andini, anak sulungnya. Wajahnya menoleh, menatap lekat Andini dengan sorot mata penuh kesedihan.
“Andini, kapan sampai rumah?” tanya Ibu Hikmah dengan suara parau yang lemah.
“Barusan, Bu. Bagaimana keadaan Ibu? Apa kepala Ibu masih terasa sangat sakit?” jawab Andini lalu balik bertanya.
“Ibu minta maaf selama ini sudah selalu merepotkan kamu. Ibu menyuruh kamu pulang karena ada hal penting yang mau Ibu bicarakan,” jelas Ibu Hikmah, tanpa menjawab pertanyaan seputar kesehatannya sendiri.
“Ibu harusnya jangan banyak pikiran apa-apa. Aku kan sudah dewasa dan memang sudah kewajibanku untuk bekerja. Lagian, tempat kerja aku juga tidak terlalu berat dan gajinya lumayan gede. Jadi, Ibu tidak perlu memikirkan hal yang macam-macam,” bujuk Andini perlahan agar ibunya merasa tenang.
“Makanya itu yang ingin Ibu bicarakan. Sekarang kamu sudah dewasa, kamu harus sudah mulai memikirkan untuk kebaikan diri kamu sendiri. Jangan terus-menerus mengurusi Ibu yang sudah sakit-sakitan ini. Segera cari jodoh, Nak. Ibu takut umur Ibu tidak panjang lagi... Ibu ingin melihat kamu menikah terlebih dahulu,” suruh Ibu Hikmah sambil mencengkeram kuat tangan Andini.
“Ibu, bicaranya jangan kemana-mana, ah! Aku harus membiayai sekolah Vania dan akan terus menjaga Ibu sampai Ibu benar-benar sembuh. Aku belum punya pikiran sampai ke hal itu, Bu. Pokoknya, hari ini Ibu harus mau dibawa ke rumah sakit. Kondisi kesehatan Ibu harus diperiksa secara keseluruhan di rumah sakit nanti,” bujuk Andini setengah memaksa.
“Tidak usah. Kamu tidak boleh buang-buang uang untuk hal seperti itu. Nanti juga Ibu akan sembuh sendiri. Ibu cuma minta penuhi permintaan yang Ibu ucapkan tadi,” tolak Ibu Hikmah yang di dalam kalimat dialognya terselip kekhawatiran akan biaya.
Bu Hartati yang sedari tadi menemani di sisi ranjang ikut membuka suara.
“Bu Hikmah, kalau Ibu kasihan sama Andini dan Vania, lebih baik Ibu mau diperiksa secepatnya ke rumah sakit. Kalau ditunda-tunda seperti ini terus, yang ada Andini malah tidak akan tenang dan terus kepikiran di tempat pekerjaannya.” Bujuk Bu Hartati.
“Nanti juga saya akan sembuh sendiri, Bu,” tolak Ibu Hikmah kembali, tetap keras kepala.
“Mau sembuh bagaimana jika belum tahu apa penyakitnya? Kalau nanti sudah diperiksa dokter, kan kita jadi tahu apa obat yang tepat untuk menyembuhkannya,” bujuk Bu Hartati kembali.
“Iya, Bu. Pokoknya hari ini Ibu harus tetap mau ke rumah sakit. Sekarang Ibu istirahat dulu, aku mau menyiapkan keperluannya dulu,” tambah Andini sambil perlahan melepaskan genggaman tangan Ibu Hikmah.
Andini dan Bu Hartati kemudian melangkah keluar dari dalam kamar. Mereka berdua berjalan menemui Galih yang sedang duduk berbincang dengan Vania di ruang tengah. Setelah sampai, keduanya pun ikut mendudukkan diri di kursi kayu sederhana tersebut.
“Kamu mau tidak mengantarkan Ibu ke rumah sakit?” tanya Andini langsung kepada Galih.
“Ayo! Mau sekarang?” tanya Galih balik dengan penuh semangat.
“Kamu serius tidak merasa capek?” tanya Andini kembali memastikan.
“Demi kamu dan demi Ibu kamu, aku tidak akan pernah merasa capek,” jawab Galih, membuat Bu Hartati yang duduk di dekat mereka spontan tersenyum mendengarnya.
“Aduh, Nak Galih ini semangat sekali,” timbrung Bu Hartati ikut menimpali.
“Nah, itu dia, Bu! Aku ini orangnya memang selalu penuh semangat. Apalagi kalau sudah menyangkut demi Andini dan demi keluarga Andini,” sahut Galih dengan ekspresi wajahnya yang santai tanpa beban.
“Kamu ini begitu terus bilangnya. Awas saja kalau ternyata kamu sebenarnya merasa terpaksa,” ucap Andini heran melihat tingkat kepercayaan diri pria bertubuh tambun di depannya.
“Tidak ada dalam kamus seorang Galih yang namanya terpaksa. Semuanya riil! Demi kamu, demi adik kamu, dan demi Ibu kamu, aku akan selalu siap kapan pun,” balas Galih, kali ini dengan raut wajah yang berubah serius.
“Ya sudah, saya percaya. Sekarang, Vania, kamu pergi ke rumah Pak RT. Bilang kalau Kakak membawa teman laki-laki ke rumah, dan sekarang mau mengantarkan Ibu ke rumah sakit. Jangan sampai tidak bilang ke Pak RT biar tidak jadi fitnah apa-apa di kampung ini. Nanti kamu bisa menyusul pakai ojek kalau mau ke rumah sakit,” suruh Andini kepada sang adik.