“Nanti di depan belok kiri masuk ke jalan besar, lalu lurus terus karena jaraknya masih jauh,” potong Andini, sengaja mengalihkan pembicaraan demi menahan rasa kesalnya agar Galih tidak semakin banyak mengada-ada.
“Oke, siap! Tenang saja,” sahut Galih, kembali melirik sekilas ke arah spion tengah sambil tersenyum.
Mobil yang dikemudikan Galih kini melaju tenang membelah jalan besar utama antarkecamatan. Sepanjang perjalanan, pemandangan luar kota yang asri terus berganti di balik jendela kaca. Mereka melewati deretan perkampungan warga lainnya yang masih kental dengan suasana gotong royong, sebelum akhirnya disuguhi hamparan luas sawah hijau yang membentang bak permadani. Ladang-ladang palawija dan kebun-kebun milik warga yang subur tampak berjejer rapi di sisi jalan, mempertegas suasana pedesaan yang damai, sejuk, dan jauh dari kepulan polusi perkotaan. Perjalanan panjang itu terasa begitu menenangkan hati, hingga akhirnya roda mobil mulai memasuki area pusat kabupaten tempat rumah sakit rujukan berada.
Namun, begitu mobil berbelok memasuki gerbang rumah sakit besar tersebut, suasana damai pedesaan seketika berganti dengan keriuhan. Pemandangan padat langsung menyambut mereka; area parkir tampak sesak, dan hilir mudik kendaraan ambulans serta keluarga pasien membuat suasana terasa sangat sesak. Begitu Galih menghentikan mobilnya tepat di depan lobi Instalasi Gawat Darurat (IGD), keadaannya ternyata jauh lebih memprihatinkan. Penuhnya kapasitas ruangan di dalam membuat Ibu Hikmah terpaksa harus tertahan untuk sementara waktu di kursi tunggu luar koridor IGD, menunggu giliran penanganan dari petugas medis yang sedang kewalahan.
Kondisi ruang darurat yang penuh sesak hingga meluber ke koridor luar itu seketika membuat Galih tersentak kaget dan kebingungan. Sebagai anak konglomerat yang terbiasa dengan fasilitas kesehatan kelas atas yang serbacepat, ia belum pernah menyaksikan langsung betapa daruratnya fasilitas kesehatan umum di daerah. Namun, pemandangan itu sama sekali tidak membuat Andini terkejut. Bagi Andini, hal seperti ini sudah menjadi pemandangan biasa yang harus dihadapi dengan sabar, mengingat rumah sakit tersebut merupakan satu-satunya pusat rujukan utama yang harus mencakup kebutuhan medis seluruh warga di satu kabupaten.
Andini dan Ibu Hikmah terpaksa ikut duduk mengantre, menunggu giliran yang entah kapan akan tiba. Galih yang sudah selesai memarkirkan kendaraannya, bergegas berjalan kembali menghampiri Andini dan Ibu Hikmah yang sedang duduk di kursi tunggu luar Instalasi Gawat Darurat (IGD). Galih kemudian mengambil posisi duduk di sebelah Ibu Hikmah sembari matanya terus mengedarkan pandangan, memperhatikan situasi sekitar di mana banyak pasien lain yang juga belum mendapatkan kamar perawatan.
“Penuh sekali ya, Bu. Pasti akan lama menunggu untuk bisa mendapatkan kamar perawatannya,” ucap Galih, mulai timbul rasa tidak tega di dalam hatinya.
“Tidak apa-apa. Lagian sakit kepala Ibu sekarang sudah agak mendingan, kok,” balas Ibu Hikmah berusaha menyunggingkan senyuman.
“Kalau kamu merasa jenuh atau bosan, tunggu saja di dalam mobil,” suruh Andini kepada Galih.
“Oh, tidak. Aku akan setia menemani Ibu di sini. Iya kan, Bu?” sahut Galih, sengaja mencari pembelaan dari Ibu Hikmah.
“Iya. Kalau memang Nak Galih tidak merasa bosan, tidak apa-apa temani Ibu di sini,” ucap Ibu Hikmah ramah, menoleh bergantian menatap Galih lalu ke arah Andini.
Baru saja Andini hendak kembali membuka suara, dering panggilan telepon dari ponselnya mendadak berbunyi nyaring. Ia bergegas merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel tersebut. Di layar, terlihat jelas nama Dion yang sedang melakukan panggilan. Andini pun segera berdiri dan berpamitan sebentar kepada sang ibu untuk mengangkat telepon dari atasannya itu, lalu bergegas melangkah lebar keluar dari area rumah sakit.
“Halo, Pak Dion,” sapa Andini di telepon sambil berdiri di area luar rumah sakit.
“Kenapa kamu tidak memberi tahuku kalau kamu izin tidak masuk kerja?” tanya Dion, suaranya terdengar jelas sedang mati-matian menahan kesal.
“Kan saya sudah mengantarkan surat izinnya, Pak,” jawab Andini heran.
“Iya, memang benar surat izin kamu sudah ada di atas meja kerja saya. Tapi bukan itu persoalan yang aku maksud! Kenapa kamu tidak memberi tahu aku lewat pesan pribadi?” cecar Dion, akhirnya tidak bisa menahan kekesalannya lagi.
“Maaf, Pak. Hubungan saya dengan Bapak hanya sebatas pekerja dan atasan. Saya tidak mau melebihi dari status itu. Saya minta maaf,” tegas Andini memperjelas batasannya.
“Andini, apa sebenarnya yang tidak kamu sukai dariku? Cepat kasih tahu aku! Biar aku bisa memperbaikinya agar kamu bisa tertarik dan mau menerima ketulusanku,” desak Dion dengan suara penuh kekecewaan.
“Aku sudah sering bicara berulang kali sama Bapak, jika aku masih belum mau memikirkan hal-hal seperti itu. Aku harus tetap fokus bekerja, hanya itu,” tegas Andini kembali. Ia mulai merasa sangat lelah dengan tekanan pengutaran perasaan hati Dion yang terus-menerus ini.
“Pokoknya aku tidak akan menyerah! Besok shift dua kamu harus sudah masuk kerja,” suruh Dion, mencoba mengalihkan pembicaraan demi menutupi rasa perih di hatinya.
“Maaf, besok saya masih belum bisa masuk kerja, Pak. Saya sedang membawa Ibu ke rumah sakit,” jelas Andini terpaksa berterus terang.