Tanah Nganga

Oleh: Kartini F. Astuti

Blurb

Di sini, di tanah Kutai, telah kurawat satu mimpi sederhana: aku ingin menjadi yang tercepat dalam adu renang! Akan kubuktikan pada ayahku bahwa aku layak dibanggakan. Tapi nenekku, Mak Tuha Duriati, yang usianya hampir seabad masih saja menyebalkan sejak kematian Umma Bungeh. Dia tidak suka aku pergi berenang.

Tulang-tulang Umma masih terkubur di sudut Bengalon. Belum diantarkan ke Lawu Tatau, tempat para roh tidur dengan tenang tanpa diganggu cacing-cacing tanah. Bertahun-tahun, aku menunggu Amme Manturai pulang ke desa untuk upacara kematian Umma. Tetapi, dia selalu sibuk bekerja bersama orang-orang berpangkat itu.

Tak terasa, sejak Amme pergi, di belakang rumah, sudah menganga tanah seperti borok di kaki Mak Tuha. Setiap hari makin lebar, digali dan dikeruk, sebab di dalamnya terkandung batu bara yang mampu menyalakan lampu-lampu di kota dengan satu hentakan jari seperti keajaiban di negeri sihir. Sekarang, borok itu sudah bernanah. Orang-orang di kampungku menyebutnya danau bekas galian.

Di sanalah Agau, adikku, melihat pesut-pesut berlompatan dan aku harus berenang lebih cepat dari arus listrik untuk mengejarnya.

Lihat selengkapnya