Mak Tuha Duriati berusia hampir seabad dan dia belum mati. Rambutnya yang perak digelung ke belakang. Kulitnya nyaris melorot dari daging. Tapi, hampir setiap hari, dia masih bisa berangkat ke tengah hutan berduri, memanggul anjat1 besar berisi parang, dan pulang selalu membawa beberapa ikat rotan.
Aku ingin Mak Tuha cepat-cepat mati, menyusul Umma yang terkubur di sudut tanah Bengalon sejak sewindu lalu. Habis aku kesal sekali. Dia selalu melarangku berenang. Inginnya Mak Tuha, aku di rumah saja sampai usia menikah, menganyam rotan yang dia keringkan menjadi kantung-kantung cantik untuk dijual ke pasar.
Tentu saja aku tak mau. Aku bosan duduk berlama-lama di umaq2. Pagi ini pun, telah kutantang para lelaki untuk adu renang di Sungai Mahakam.
Di atas dek kapal kayu milik Julak Sidin, kami berbaris seperti pagar, menanti aba-aba dari peluit panjang. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Hanya aku satu-satunya perempuan di barisan perenang dengan pakaian yang robek di bagian ketiak karena kekecilan. Beberapa di antara lelaki itu sudah kukenal sejak kecil. Beberapa lagi mungkin bisa kenalan setelah ini.
Telapak kakiku hangat, menapak di atas papan kayu yang terkena sinar matahari. Aku lumayan gugup. Sedikit peregangan sebelum terjun mungkin cukup untuk memelankan degup jantungku. Lalu tubuhku condong ke depan seperti paku yang dibengkokkan. Sebentar lagi kaki-kakiku menyibak air berwarna cokelat keemasan yang bersinar-sinar di bawah dek kapal. Aku harus fokus!
Vroom. Vroom. Vrooom.
Suara mesin diesel disertai gemeretak muatan yang berat di geladak. Ada denting gemerincing logam yang nyaring dan derik batu bara dari gesekan dinding saat tongkang itu lewat. Ganggu konsentrasi saja.
"Kau yakin, Lamiang?" tanya salah seorang dari mereka, Buyung, sambil menyeringai. "Tahun lalu kau juga kalah."
"Tahun lalu kakiku belum sepanjang sekarang.”
Mataku menatap lurus ke bendera merah yang terikat di tiang dermaga seberang. Jaraknya kira-kira dua ratus meter, melewati dua tongkang yang sedang ditarik kapal tunda.
Tongkang-tongkang batu bara itu melaju lamban seperti paus raksasa yang lelah karena terhempas ombak. Klotok-klotok kecil berputar mencari ikan. Arus sungai di tepian menyeret ranting dan plastik. Bagi para nakhoda kapal, makhluk-makhluk bersirip, dan benda-benda yang tersisih dari hutan, sungai ini mungkin hanya lalu lintas biasa. Tetapi bagiku, Sungai Mahakam adalah satu-satunya tempat di dunia di mana aku merasa benar-benar bebas.
Aba-aba diteriakkan. Tubuh-tubuh kami melayang, lalu…
BYUR!
Kami jatuh ke air dengan bunyi yang nyaris bersamaan. Kulihat dunia di atas permukaan berbeda dengan dunia di bawah permukaan air. Keruh, hangat, penuh gelembung dan tendangan kaki. Aku telah membuka mata sedikit, meski perih, dan kutemukan jalur yang agak menjauh dari mereka. Aku tidak ingin bersenggolan dengan para lelaki itu.