Tanah Nganga

Kartini F. Astuti
Chapter #2

Minyak Bintang dan Bubur Ganepo

"Mak Tuha pasti marah," gumam Agau, membuatku gusar.

"Mak Tuha selalu marah." Aku mencoba terdengar lebih berani dari yang sebenarnya aku rasakan. Kemarahan Mak Tuha kali ini akan berbeda. Bukan kemarahan karena aku membantah, melainkan kemarahan yang lahir dari ketakutan. Dan ketakutan Mak Tuha Duriati selalu lebih sulit dihadapi daripada amarahnya.

Hutan berduri menyambut kami dengan kabut yang dingin. Tua Tuha Tambuk sudah turun di gerbang Desa Keraitan setelah memastikan aku dan Agau naik motor yang benar menuju dusun Segading. Sejak itu, kami berdua harus menempuh sisa perjalanan sendiri. Kami melewati kebun karet untuk memangkas jalan. Kulihat pepohonan seperti mengeluarkan air kencing di gelas bundar yang terbuat dari batok kelapa. Batangnya dikerok melingkar. Aku ingin tubuhku setinggi pohon karet dan selentur plastik agar aku bisa kuat berenang tanpa takut tenggelam.

Setelah melihat rumah-rumah panggung dari kejauhan, aku dipapah Agau menyusuri jalan setapak yang akarnya menonjol seperti urat-urat menjulur dari tanah. Agau berjalan di depan, membawa anjat kosong yang biasa dipakai Mak Tuha untuk menyimpan rotan. Anjat itu sekarang berisi sandalku dan sebotol air yang tersisa dari perjalanan bus. Sesekali Agau menoleh ke belakang, memastikan aku masih ada. Aku melompat-lompat pelan dengan satu kaki. Tanganku menumpu pada bahunya.

Dari balik rimbun pohon tepat ketika cahaya terakhir hari mulai padam, terlihat umaq berdiri di sana. Kokoh, meski reyot. Asap tipis mengepul dari celah dinding bambu dapur. Mak Tuha Duriati sudah berdiri di ambang pintu sebelum kami sempat memanggil. Dia memang begitu. Dia bisa mencium kepulangan cucu-cucunya dari jarak jauh, seperti binatang yang mengenali baunya sendiri.

Aku sebenarnya menunggu teriakan. Menunggu omelan panjang tentang sungai yang berbahaya, tentang anak perempuan yang seharusnya tahu diri, tentang segala hal yang sudah ribuan kali aku dengar sejak kecil. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Mak Tuha Duriati bergerak cepat. Dan dalam sekejap dia sudah ada di tengah antara aku dan Agau. Tangannya yang kasar dan keriput menyentuh pergelangan kakiku dengan hati-hati, seakan menyentuh sesuatu yang bisa pecah.

"Duduk," kata Mak Tuha singkat. "Agau, ambilkan tilam. Cepat."

Tidak ada pertanyaan dulu. Tidak ada "kenapa kau bisa begini" atau "sudah kubilang, kan." Hanya perintah-perintah pendek yang dilontarkan dengan suara yang tenang. Justru aku merasa lebih takut Mak Tuha tenang dibanding kalau dia berteriak.

Mak Tuha membaringkan aku di atas tilam tipis di sudut umaq, dekat tungku yang masih menyala. Kakiku diselonjorkan. Mak Tuha menghilang sebentar ke balik tirai bambu. Ketika dia kembali, di tangannya sudah ada sebuah botol kaca kecil berisi cairan kental berwarna gelap. Baunya menyengat bahkan dari jarak satu meter.

"Minyak bintang," kata Agau pelan, seperti mengucapkan mantra.

Aku sudah pernah mencium bau itu sebelumnya, dulu, saat aku jatuh dari pohon rambutan dan lenganku bengkak selama seminggu. Konon, minyak itu dibuat dari air liur Hantuen5 yang dicampur dengan mayat ular yang sudah dikeringkan bertahun-tahun, ditambah kaki burung yang patah karena terbang melawan badai.

Aku tidak pernah benar-benar percaya cerita itu. Aku curiga Mak Tuha hanya mencampur entah apa dari hutan, getah-getah tertentu dan akar-akar yang dipanaskan. Tapi aku juga belum berani bertanya lebih jauh, karena ada sesuatu dalam cara Mak Tuha bercerita yang membuat pertanyaan baginya terasa seperti penghinaan. Kata Mak Tuha, “Ramuan leluhur kita hanya bisa bekerja kalau kita tidak bertanya.”

"Tahan," Mak Tuha memberi instruksi sebelum mengoleskan cairan itu ke pergelangan kakiku.

Rasa panas menjalar cepat, diikuti rasa dingin yang aneh, seperti dua sensasi yang saling berebut tempat di bawah kulitku. Aku menggertakkan gigi, menahan ngilu. Sementara Agau memegangi tanganku erat-erat. Wajahnya sendiri meringis seolah dialah yang merasakan sakit itu.

"Lamiang…" Mak Tuha akhirnya bersuara, masih sambil memijat perlahan area di sekitar pergelangan kaki yang bengkak. "Begini akibatnya kalau kau susah diberi tahu."

Di sinilah dia akan mulai. Tentang amarahnya yang meluap-luap itu. Dan benar saja, kata-kata itu meluncur satu per satu, seperti mantra yang sudah dihafal di luar kepala. "Jangan sering-sering berenang. Air sungai itu beracun. Sudah tidak ada air bersih di tanah kita. Suku Basap sudah seharusnya kembali ke gunung seperti leluhur kita. Kalau kau nekat keluar desa, orang-orang berpangkat itu bisa pindahkan kita semua ke kampung buatan mereka."

Aku memeluk lututku, menatap api di tungku yang bergoyang pelan tertiup angin malam yang menyusup dari celah dinding. Sungai itu bukan musuh, justru terasa seperti pelukan Umma. Aku ingin bilang begitu pada Mak Tuha. Di bawah air sungai, aku bisa memadamkan suara-suara di kepalaku. Aku bisa menjadi diriku sendiri dengan bergerak cepat melampaui tongkang-tongkang batu bara. Aku tidak akan kalah saing dari para lelaki yang selalu mengejek karena aku tidak setinggi mereka. Ah, sebal. Mak Tuha tidak pernah paham tentang apa keinginanku.

Pada akhirnya, aku hanya diam. Rasa lelah seharian menumpuk dengan rasa ngilu di kaki. Aku juga masih kecewa dengan kekalahanku tadi. Kelima. Lagi-lagi kelima. Tahun lalu juga kelima. Apakah memang segitu batasnya aku? Padahal teknik napasku sudah benar. Amme yang ajarkan. Berarti salah Amme, dong?

Sebenarnya, masih ada kejuaraan renang akhir tahun. Aku akan minta Amme ajarkan aku renang sekali lagi dengan teknik yang lain. Hadiah adu renang itu, kalau saja aku menang, bisa dipakai keluarga kami buat menggelar upacara Tiwah. Mak Tuha bisa membeli beberapa ekor kerbau dan berpuluh ekor babi untuk ditombak sebagai perjamuan, menggali tulang-tulang di pemakaman, mengadakan tarian kanjan6, dan memulangkan roh Umma ke Ranying7. Aku tahu uang yang dikumpulkan Mak Tua dari hasil anyaman rotan tidak akan cukup untuk menggelar upacara kematian semahal itu.

Lihat selengkapnya