Kakiku sembuh dalam empat hari. Bukan karena minyak bintang Mak Tuha yang baunya bisa mengusir nyamuk satu kampung. Mungkin memang lukanya tidak separah yang kukira waktu terjatuh di dermaga itu. Atau mungkin aku terlalu bosan rebahan sampai tubuhku memutuskan sendiri untuk sembuh lebih cepat.
Hari kelima, sebelum Mak Tuha sempat bilang apa-apa, aku sudah berdiri di depan pintu dengan dua jerigen kosong di tangan.
"Mau ke mana pagi-pagi?" tanya Mak Tuha dari dalam, suaranya berat seperti baru bangun tapi aku tahu dia belum tidur.
"Sepaku. Beli air."
Hening sebentar. Suara anjat digeser. Mak Tuha memberi usul. "Agau ikut."
"Agau masih tidur."
"Bangunkan."
Aku menarik napas. "Mak Tuha, dua jerigen saja. Agau tidak perlu—"
"Bangunkan Agau."
Tidak ada gunanya melawan Mak Tuha sebelum matahari benar-benar naik. Aku masuk, menggoyangkan kaki Agau dua kali, dan dalam sepuluh menit kami sudah berjalan ke dermaga kecil di ujung desa, masing-masing membawa satu jerigen kosong yang beradu-adu di lutut kami setiap kali melangkah.
*
Di dermaga, Tua Tuha Tambuk sudah ada.
Dia sedang memperbaiki jaring di buritan klotoknya. Jari-jarinya yang besar bergerak dengan sabar di antara benang-benang tipis yang kusut. Dia tidak terkejut melihat kami. Dia tidak pernah terkejut dengan apapun.
"Sepaku?" tanyanya sekilas.
Aku mengangguk mantap.
"Naik." Dia mendorong klotoknya sedikit merapat ke dermaga. "Tua juga mau cek keramba di hulu."
Kami naik. Agau langsung duduk di haluan. Kaki-kakinya menjuntai ke depan. Matanya sudah sibuk menatap permukaan air yang bergerak. Aku duduk di tengah, di antara jerigen kosong dan tumpukan jaring yang berbau anyir.
Mesin klotok dinyalakan. Suaranya gemuruh sebentar lalu menjadi dengung yang teratur. Tua Tuha Tambuk mengambil kemudi dengan satu tangan. Tangan lainnya masih memegang sisa jaring yang belum selesai diperbaiki.
Sungai pagi itu berwarna cokelat keemasan. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Atau mungkin aku yang berbeda. Sejak kakiku sembuh, mataku jadi lebih jeli. Warna airnya yang tidak sama di setiap bagian. Di tepi, lebih gelap. Hampir hitam di beberapa titik. Di tengah, masih keemasan tapi ada buih putih yang mengikuti arus.
Kami mendayung sampan menyusuri sungai. Agau mengibas-ngibaskan tangannya di permukaan air. Dia bilang, dia ingin memanggil anak-anak pesut. Tapi percuma. Makhluk-makhluk itu tidak akan datang di air sekeruh ini. Ikan baung, ikan mesapi, dan ikan jelawat juga sudah sulit ditemukan. Hanya popok yang sering tersangkut di tombak kami. Terakhir kali aku ke sungai bersama Amme, aku sempat melihat ikan-ikan mengambang dengan perut kembung.
Menurut cerita Mak Tuha, Amme sekarang bekerja sebagai sopir truk pengangkut batu bara. Mungkin pekerjaannya luar biasa berat sehingga mengharuskan Amme tidak pulang sampai bertahun-tahun. Sepertinya, Amme sudah punya firasat akan hal itu sehingga dia memberikan aku sebuah kalung yang terbuat dari manik-manik berbentuk burung enggang11. Katanya, agar aku terhindar dari roh jahat, dari bala. Amme memang pahlawanku. Jika ada manusia di bumi yang ingin kudoakan untuk hidup selama-lamanya, Ammelah orangnya.
Agau berdiri di ujung sampan sambil berpose bungkuk lalu menggerak-gerakkan tangannya seperti anjing berenang. Dia mengataiku sebagai perempuan pendek dan gaya renangku norak. Aku menggebuknya dengan dayung. Sampan bergoyang dan Agau hampir terjatuh. Sontak ia menangis ketakutan. Lalu aku dijewer Tua Tuha Tambuk.
“Sungai ini tak seberapa dalam, Tua Tuha. Agau tinggal berenang kalau tercebur.” Aku melemparkan dayung dan membuang muka dengan cemberut. “Kenapa semua orang selalu jahat padaku?”
Rasa marah akan kubawa sampai pulang. Pokoknya, aku tidak ingin meladeni Agau kalau dia mengajak bermain! Aku juga tidak sudi membantu Mak Tuha Duriati menjual anjat-anjatnya ke pasar atau mengambil air di Sepaku atau berbicara kepada Tua Tuha lagi. Tapi aku tidak tahan terlalu lama tidak bicara.
"Tua Tuha," selaku pada lamunanku sendiri. "Kenapa tulang-tulang Umma tidak dihanyutkan ke sungai saja biar ikan-ikan itu tidak kelaparan dan kita tidak harus mengadakan upacara?”
Tua Tuha tidak langsung menjawab. Dia mengarahkan klotok menghindari ranting besar yang mengapung di depan kami, baru kemudian berkata, "Ikan tidak suka tulang-tulang, apalagi yang sudah kering. Lagi pula sudah tidak banyak ikan di sungai ini.”
Agau menoleh dari haluan. "Ikan-ikannya kenapa, Tua Tuha?"
"Berkurang." Tua Tuha Tambuk memeriksa jaring di tangannya. "Kerambaku yang di hulu, dua bulan ini tidak banyak hasilnya.”
Aku menatap permukaan air. Warnanya tidak lagi bening. Berbusa. Saat kuaduk, hanya ada lumpur dan limbah dan sisa-sisa makanan yang masih terbungkus plastik-plastik hitam. Di dekat bantaran, terdapat botol-botol minuman dan styrofoam bekas penyimpanan alat elektronik yang terapung-apung ke sudut, juga beberapa pembalut yang bentuknya sama seperti yang kupakai bulan lalu, namun sudah hancur mengeluarkan bola-bola merah. Aku nyaris muntah ketika dayungku tersangkut kemasan deterjen dan bungkus nasi yang penuh belatung. Sampah-sampah itu diraup akar-akar pohon, bau tinja dan bangkai.
"Pesut juga?" tanya Agau pelan. “Pesut tidak mau berenang ke sungai ini?”
Tua Tuha Tambuk mengencangkan pegangannya di kemudi. Tidak menjawab.
Kami melewati tikungan sungai yang lebarnya tiga kali lebar klotok kami sebelum Tua Tuha Tambuk bicara lagi.
"Lamiang." Tua Tuha Tambuk memilih kata dengan cermat supaya tidak meninggalkan bekas yang salah. "Amme kamu... terakhir kali kamu dengar kabar, dia di mana?"
"Sanggau," jawabku. "Kerja di tambang."
"Sanggau." Tua Tuha mengangguk pelan. Matanya tetap di depan. "Tambang mana?"
"Tidak tahu. Mak Tuha yang tahu."
Tua Tuha Tambuk diam lagi. Jarinya kembali memeriksa jaring. Tapi sudah tidak benar-benar memperbaikinya. Hanya menyentuhnya, seperti tangan yang butuh sesuatu untuk dipegang waktu pikiran sedang pergi ke tempat lain.
"Kamu pernah dengar nama Ning Fatma?" tanyanya akhirnya.
Aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tapi aku heran dengan cara Tua Tuha Tambuk mengucapkannya. Terlalu hati-hati, terlalu dipilih. Perutku seperti disentuh sesuatu yang dingin dari dalam.
"Siapa itu?"
Tua Tuha Tambuk mengarahkan klotok ke kanan, menghindari tongkang kecil yang lewat dari arah berlawanan. Asap hitam dari cerobong tongkang itu mengapung sebentar di atas kami sebelum angin membawanya pergi.