Tanah Nganga

Kartini F. Astuti
Chapter #4

Janin yang Dicerabut

Ada ingatan yang tercerai berai dan datang kembali dalam bentuk kepingan. Seperti bau singkong yang terbakar, suara langkah kaki di jalan tanah, bayangan yang bergerak terlalu cepat di antara pohon-pohon. Mak Tuha Duriati tidak pernah menceritakannya dari awal ke akhir, karena mungkin di dalam kepalanya sendiri, cerita itu tidak pernah benar-benar punya awal dan akhir. Hanya tengah. Hanya momen mencekam yang terus berputar.

Jadi, aku ingin pastikan ke sumber suara. Bukan karena disuruh siapa-siapa. Hanya saja, sudah dua minggu nama Mina Saniah terus muncul di kepalaku setiap kali aku mencoba membayangkan wajah Umma. Aku bosan menyusun cerita dari potongan-potongan yang tidak pernah lengkap.

Tak kusangka, kakiku mampu kuajak berjalan jauh ketika aku akhirnya pergi ke Kampung Kultura. Jelas, tanpa Agau. Aku tidak ingin perjalananku jadi merepotkan. Mak Tuha tidak tahu aku pergi ke sana. Aku bilang mau ke warung Pak Rustam beli benang jahit.

Kampung Kultura berjarak dua kilometer dari umaq, tapi rasanya seperti dua dunia yang berbeda. Jalan menuju ke sana sudah diaspal. Tipis, retak di beberapa bagian, tapi tetap aspal. Di atas rumput hijau yang dipotong pendek, terdapat barisan rumah yang seragam. Lebih kecil, tapi lebih bagus dari umaq kami. Bentuk atapnya segitiga dengan kolong di bawah cukup untuk tempat tinggal ayam. Rumah-rumah itu diberi jembatan sederhana yang miring menuju teras. Terbuat dari kayu kering tipis dengan cat merah yang belum sepenuhnya memudar. Ada antena parabola di beberapa atap. Juga, got kecil di pinggir jalan yang airnya berwarna cokelat pekat.

Di papan nama kampung yang berdiri tak simetris di tikungan, ada logo perusahaan tambang di sudut kanan. Kecil, tapi cukup besar untuk dilihat. Itu adalah kampung buatan, kata Mak Tuha setiap kali menyebut tempat ini. Mungkin kampung ini dibuat lebih aman, supaya tidak bisa dijangkau buldozer-buldozer yang sering kami lihat di Bengalon.

Rumah Mina Saniah ada di ujung baris ketiga. Kepada Tua Tuha, Pak Dirun menyebut alamat rumah itu dan aku bisa menghafalnya. Pintu rumahnya setengah terbuka. Di teras, ada kursi plastik yang sandarannya bolong. Terdapat juga sebuah pot tanaman yang tanahnya kering.

Aku berdiri di depan pagar rendah cukup lama.

Perempuan yang selamat. Itu yang aku pikirkan setiap kali nama Mina Saniah muncul. Perempuan yang bersembunyi di balik akar bakau sementara Umma tertinggal di jalan setapak. Aku tidak tahu apa yang harus aku rasakan tentang itu. Aku tidak ingin marah kepada saksi yang mampu bercerita tentang Umma lebih dari siapa pun.

Terdengar langkah kaki dari dalam. Mina Saniah yang membuka pintu. Perempuan itu mungkin empat puluhan tahun. Rambutnya dihiasi penjepit plastik biru. Dia memakai daster bermotif bunga yang sudah pudar warnanya. Matanya menatapku, mencoba mengingat sesuatu.

"Kamu..." katanya pelan.

"Lamiang. Anak Bungeh."

Aku tidak tahu kenapa aku memperkenalkan diri dengan cara seperti itu. Bukan anak Manturai, bukan cucu Mak Tuha Duriati. Tapi anak Bungeh. Seperti itu yang pertama kali keluar.

Mina Saniah membuka pintu lebih lebar. Wajahnya tidak berubah banyak, tapi ada sesuatu di matanya yang bergeser.

"Masuk," katanya. "Hati-hati, ada kabel di lantai."

*

Ruang tamunya kecil. Ada sofa dari busa yang permukaannya sudah kempes di bagian tengah. Ada televisi ukuran sedang yang mati. Di dinding, terdapat foto keluarga dalam bingkai plastik emas. Pak Dirun yang lebih muda, Mina Saniah, dua anak yang sekarang mungkin sudah sebesar aku atau lebih. Di sudut ruang tamu itu, ada rak buku kecil yang isinya toples-toples bekas berisi entah apa.

Mina Saniah masuk ke dapur tanpa bertanya aku mau minum apa, dan kembali membawa dua gelas teh yang warnanya terlalu kental.

Kami duduk berhadapan. Dia di sofa. Aku di kursi kayu yang sepertinya memang selalu ada di sana untuk tamu yang tidak diundang.

"Kamu besar sekarang," kata Mina Saniah. "Kamu mirip dia. Matanya."

Aku tidak menjawab. Ada kalimat-kalimat yang lebih baik diterima dalam diam supaya bisa benar-benar masuk.

Kami duduk tanpa bicara. Di luar, suara anak kecil berlari di jalan aspal. Suara kehidupan kampung buatan rupanya tidak terlalu berbeda bunyinya dari kampung yang tidak buatan.

"Aku mau tanya sesuatu," ujarku tanpa bisa berlama-lama. Langsung. Aku tidak pandai basa-basi dan Mak Tuha juga tidak pernah mengajarkan basa-basi.

Mina Saniah mengangkat wajah. Menunggu.

"Waktu itu... Umma tertinggal. Mina dan Yem lari duluan." Aku menatapnya langsung. Bukan untuk menyalahkan. Aku sudah memutuskan itu sejak dari jalan tadi, bahwa aku tidak datang untuk menyalahkan. "Aku mau tahu apa yang Mina dengar. Yang Mina ingat. Yang belum pernah diceritakan ke siapa pun."

Mina Saniah tidak segera menjawab. Tangannya yang memegang gelas teh itu tidak bergerak. Matanya turun sedikit, ke arah suatu titik di antara kami yang tidak berisi apa-apa. "Mak Tuha tidak bercerita?" tanyanya akhirnya.

Aku menggeleng dengan mata yang tidak berkedip.

"Mina sudah minta maaf kepada Mak Tuha," kata Mina Saniah lagi. "Dua kali. Mak Tuha bilang tidak ada yang perlu dimaafkan." Dia berhenti sebentar. "Tapi Mak Tuha selalu punya cara untuk menghukum orang yang bersalah. Mina tidak tahu lagi harus bagaimana menebusnya.”

"Yem bagaimana?" tanyaku mengalihkan. Yem, perempuan ketiga yang juga bersembunyi di balik akar bakau.

"Pindah ke Palangka Raya. Sudah lama." Mina Saniah mengambil napas. "Dia tidak mau tinggal di tanah yang sama."

Aku mengerti itu. Tanah yang sama artinya ingatan yang sama. Dan ingatan yang sama artinya tidak pernah benar-benar bisa tidur nyenyak.

"Umma..." Aku memulai kalimat yang belum tahu akan berakhir di mana. "Umma sempat bilang sesuatu tidak, sebelum..."

"Tidak." Mina Saniah menggeleng. "Tidak sempat."

Aku mengangguk. Menerima itu. Kami duduk sebentar lagi dalam diam. Teh di gelasku sudah dingin tapi aku meminumnya juga. 

*

Lihat selengkapnya