Tanah Nganga

Kartini F. Astuti
Chapter #5

Wesel dari Sanggau

Wesel itu datang pada hari Selasa.

Aku tahu itu hari Selasa karena Pak Rustam, pemilik warung kelontong satu-satunya di desa yang juga merangkap sebagai titik pengambilan surat dan paket, selalu menutup warungnya lebih awal di hari Rabu untuk pergi ke pasar kecamatan. Dan wesel itu datang sehari sebelum warung tutup, saat aku sedang duduk di bangku kayu depan warung.

Aku sedang menunggu giliran membeli garam dan minyak goreng dengan uang yang dikumpulkan Mak Tuha Duriati dari hasil menjual tiga anyaman rotan kecil kepada pengepul yang lewat pagi itu.

Pak Rustam menyebutkan nama dua kali sebelum aku menyadari bahwa nama yang disebut adalah nama keluargaku sendiri.

"Keluarga Manturai? Wesel dari Sanggau."

Aku berdiri cepat-cepat. Bangku di bawahku bergeser ke belakang dengan bunyi yang cukup keras untuk membuat dua ibu-ibu yang sedang memilih sabun cuci menoleh ke arahku. Sanggau. Tempat Amme bekerja. Tidak ada orang lain yang kami kenal di Sanggau.

Tanganku sedikit gemetar ketika menerima slip wesel itu. Selembar kertas merah muda dengan angka yang dicetak tidak terlalu besar tapi cukup jelas untuk dibaca sekali pandang. Aku membaca angkanya tiga kali, memastikan mataku tidak salah hitung nol-nolnya.

Tujuh ratus ribu rupiah.

Itu lebih banyak dari yang pernah kami terima dalam satu waktu sebelumnya. Lebih banyak dari hasil anyaman rotan Mak Tuha Duriati selama dua bulan penuh. Lebih banyak dari hadiah lomba renang juara kelima.

Di bagian bawah slip, di kolom keterangan yang biasanya kosong atau hanya diisi kata-kata pendek seperti untuk kebutuhan atau dari anakmu, ada tulisan tangan yang agak miring ke kanan. Tulisan itu mirip seperti tulisan di balik foto-foto lama yang Mak Tuha simpan dalam kotak kaleng di bawah tilam.

Saya akan pulang ke Keraitan bulan depan, Mak Duri.

Amme memanggil Mak Tuha dengan sebutan nama. Hanya itu. Tidak ada penjelasan lain. Tidak ada kata apa pun yang biasanya ditulis orang ketika mereka sudah lama pergi dan baru saja memutuskan untuk kembali. Hanya kalimat pendek yang menyatakan fakta, seperti laporan cuaca atau pengumuman jadwal bus.

Bagiku, itu lebih dari cukup.

*

Aku berlari-lari ke umaq, rumah panggung yang berdiri dekat rawa-rawa dengan kaki-kaki kayu gemetar karena sudah lapuk oleh usia. Kakiku sendiri masih sedikit ngilu dari sisa-sisa pergelangan yang minggu lalu terkilir. Garam dan minyak goreng yang baru kubeli beradu di dalam kantong plastik yang berayun di tanganku. Aku berlari dengan cara orang yang membawa kabar baik. Tidak terlalu kencang agar tidak jatuh, tapi bersemangat, tentu saja.

Agau sedang duduk di dipan, mengukir batang singkong dengan pisau kecil yang seharusnya tidak boleh dia pegang sendiri tanpa pengawasan siapa pun. Dia mendongak ketika mendengar langkahku yang terburu-buru.

"Ada apa?"

"Masuk dulu." Aku tidak mau membuang berita ini di luar rumah seperti membuang sesuatu yang tidak berharga. "Panggil Mak Tuha."

"Mak Tuha lagi buat anjat di dalam."

"Ya sudah, kita masuk ke dalam."

Aku menemukan Mak Tuha Duriati di sudut umaq yang paling banyak cahayanya, duduk bersila di atas tikar pandan dengan anyaman rotan setengah jadi di pangkuannya. Jari-jarinya bergerak otomatis seperti mesin yang sudah hafal polanya. Mak Tuha tidak menoleh ketika kami masuk. Hanya berkata tanpa melepas pandangan dari anjat, "Sudah beli garamnya?"

"Sudah." Aku meletakkan kantong plastik di samping tungku. Lalu aku berdiri di depan Mak Tuha, tak sabar dengan reaksinya saat membaca wesel ini nanti. Aku menunggu sampai Mak Tuha akhirnya selesai beres-beres dan mengulurkan badan. Mak Tuha Duriati tak melepaskan tatapannya yang keheranan selama beberapa detik seakan matanya hendak keluar dari kelopak.

Lihat selengkapnya