Agau membuat kalendernya sendiri.
Bukan kalender sungguhan. Bukan kertas bergambar dengan angka-angka tercetak rapi seperti yang ditempel di dinding warung Pak Rustam, yang setiap tahunnya berganti dengan gambar masjid atau pemandangan gunung tergantung dari mana kalender itu datang sebagai hadiah dari distributor.
Kalender Agau adalah dinding bambu di sudut kamarnya, tempat dia menggoreskan tanda dengan arang setiap pagi sejak hari wesel itu datang. Satu goresan pendek untuk setiap hari yang sudah lewat, dicoret miring setiap tujuh hari seperti yang diajarkan gurunya di sekolah untuk menghitung minggu.
"Sudah dua belas hari," kata Agau suatu pagi, berdiri di depan dindingnya dengan ekspresi orang yang sedang melaporkan hasil penelitian penting.
"Aku tahu," jawabku dari balik tirai. Mataku masih mengandung sisa tidur.
"Berarti tinggal delapan belas hari lagi. Kalau Amme bilang bulan depan, bulan depan itu paling lama tiga puluh hari, kan?" Agau menoleh cepat. "Atau mungkin maksud Amme itu dua minggu? Karena kadang orang bilang bulan depan tapi maksudnya lebih cepat?"
"Agau."
"Apa?"
"Terlalu pagi untuk berhitung."
Agau tidak terlihat setuju dengan pendapatku. Dia menutup mulutnya dan kembali menatap kalender arang dengan ekspresi anak ingusan yang memendam banyak pertanyaan. Dia simpan sisa pertanyaan untuk nanti.
*
Menjelang kepulangan Amme, setiap hari terasa lebih panjang. Semacam kerenggangan waktu yang terasa seolah setiap jam memutuskan untuk berjalan sedikit lebih lambat dari seharusnya, seperti sungai yang mendangkal di musim kemarau dan kehilangan arusnya tanpa benar-benar berhenti mengalir.
Di sekolah, pikiranku sering melayang dari tengah pelajaran. Bukan ke sungai atau lomba renang atau cara melatih teknik bernapas, melainkan ke wajah Amme yang sudah lama ada dalam bekas ingatan. Wajah yang setiap tahun sedikit lebih sulit aku ingat dengan jelas. Aku tidak mau mengakui itu kepada siapa pun.
Amme terakhir pulang dua tahun lalu, dan waktu itu hanya tiga hari. Tiga hari yang lebih banyak diisi dengan percakapan tertutup antara Amme dan Mak Tuha. Mereka berhenti setiap kali aku atau Agau mendekati. Ada nada ketegangan untuk dirasakan bahkan dari balik tirai bambu.
Amme membawa rambutan dan duku dari kota sebagai oleh-oleh, dan Agau memakan terlalu banyak sampai perutnya mulas dua hari, dan aku tidak terlalu banyak bicara kepada Amme. Aku tidak tahu harus mulai dari mana setelah sekian lama. Sebelum aku menemukan kata yang tepat, Amme sudah pergi lagi dengan tas yang sama yang dia bawa datang. Hanya lebih ringan karena oleh-oleh yang dia bawa sudah habis.
Kali ini, aku sudah menyiapkan daftarnya. Daftar dalam kepala, bukan di kertas, karena menulis di kertas terasa terlalu serius, terlalu mudah untuk dibaca orang lain. Ada hal-hal yang ingin aku tunjukkan kepada Amme, hal-hal yang ingin aku tanyakan, hal-hal yang sudah menunggu terlalu lama untuk ditunda lebih jauh.
Teknik bernapas sudah aku sempurnakan sendiri. Jarak renang terjauhku sudah hampir dua kali lipat dari dua tahun lalu. Namun, tetap ada pertanyaan tentang kenapa Amme mengajariku berenang dari perut, bukan dari dada. Ada juga pertanyaan lain yang lebih dalam, yang sudah bertahun-tahun aku simpan di tempat yang sama dengan slip wesel dan foto-foto menguning.
Pertanyaan itu adalah tentang Umma, tentang malam-malam setelah kejadian itu, tentang apakah Amme pernah pergi ke sudut tanah Bengalon sendirian sebelum dia akhirnya benar-benar pergi jauh.
Tapi semakin sering aku periksa daftar itu dalam kepala, semakin membuat kepalaku pening. Kepulangan Amme bulan depan mungkin tidak akan semudah yang Agau bayangkan dengan kalender arangnya.
*
Mak Tuha Duriati tidak pernah langsung berubah. Perubahannya selalu datang seperti musim. Perlahan. Hampir tidak terasa hari per hari. Tapi ketika menoleh ke belakang, kami, cucu-cucunya, baru sadar bahwa sesuatu sudah sangat berbeda dari sebulan yang lalu.
Sejak wesel itu datang, Mak Tuha Duriati mulai bangun lebih pagi. Bukan untuk memasak atau menganyam. Hanya duduk di depan tungku yang belum dinyalakan. Menatap abu dingin dari malam sebelumnya dengan pandangan yang tidak benar-benar menatap apa pun.
Aku mendapatinya seperti itu dua kali dalam seminggu. Dan kedua kali itu Mak Tuha langsung bergerak seolah dia baru saja teringat sesuatu yang harus dikerjakan. Mak Tuha mengambil kayu, meniup abu, berpura-pura sedang sibuk sejak tadi.
Mak Tuha Duriati juga mulai sering pergi ke sungai sendirian di sore hari, padahal biasanya dia jarang ke sungai kecuali untuk mengambil air atau mencuci. Kakinya sudah bengkok seperti kuda, hampir tidak mungkin melewati turunan menuju bantaran. Tapi belakangan dia pergi, dan ketika aku bertanya mau ke mana, Mak Tuha hanya menjawab sebentar saja tanpa menjelaskan lebih.
"Mak Tuha kenapa sering ke sungai?" tanya Agau suatu sore, polos.
"Mau lihat air," jawab Mak Tuha.