Amme datang pada hari Kamis, bukan di akhir bulan seperti yang tertulis di wesel. Dia datang seminggu lebih awal, tanpa pemberitahuan sebelumnya, tanpa surat atau pesan titipan melalui siapa pun.
Tiba-tiba saja ada suara mesin yang tidak aku kenal masuk ke jalan tanah berbatu menuju umaq. Suara itu terlalu halus untuk klotok dan terlalu keras untuk sepeda biasa. Agau yang sedang mengukir di depan rumah mendongak saat mendengar suara itu. Dia berdiri perlahan, dengan sedikit gentar.
Aku sudah berdiri di ambang pintu ketika sepeda motor itu muncul dari balik tikungan jalan setapak yang lebarnya hampir tidak cukup untuk dua orang berjalan berdampingan.
Sepeda motor itu baru. Bukan baru seperti motor tua yang baru saja dicuci, tetapi baru sungguhan. Warnanya masih mengilap di bawah sinar sore yang menyusup di antara celah pohon. Rodanya masih terlihat belum banyak melewati jalan berlumpur. Di jok belakangnya, terikat dua tas besar yang juga baru. Itu bukan anjat rotan atau karung goni yang biasa dipakai orang-orang kampung membawa barang dari kota.
Di atas motor itu, Amme.
Aku mengenal cara dia duduk. Punggungnya agak condong ke depan. Bahunya sedikit naik ke atas. Amme sudah bertahun-tahun terbiasa membawa beban berat dan mungkin tubuhnya refleks mengingat itu bahkan ketika sedang tidak membawa apa-apa di punggung.
Kaos yang dia pakai berwarna hijau terang. Hijau yang terlalu mencolok untuk hutan ini. Hijau yang lebih cocok untuk pasar kota atau gambar di televisi, bukan untuk jalan setapak yang diapit pohon, rawa-rawa, dan semak. Di dadanya ada logo sebuah perusahaan yang aku tidak langsung bisa baca dari jarak itu. Tapi tulisannya ada di sana, tercetak tebal.
Amme mematikan mesin motor.
Hening yang datang setelah itu terasa sangat memadati udara. Penuh dengan suara katak yang tiba-tiba terdengar komapk, penuh dengan bunyi angin di dedaunan, penuh dengan napas Agau yang berdiri dua langkah di depanku. Badannya tegak. Tangannya di sisi tubuh. Dia diam lama sekali seperti anak yang sedang menunggu izin untuk melakukan sesuatu yang sangat ingin dia lakukan.
"Agau," kata Amme pertama kali, suaranya lebih berat dari yang aku ingat. "Sudah besar."
Agau berlari. Tidak dengan cara yang anggun atau terencana. Kakinya hampir tersandung akar yang mencuat di tengah jalan saat berlari-lari. Amme turun dari motornya setengah terburu-buru untuk menyambut tubuh kecil yang sudah melayang ke arahnya.
Aku tidak mau ikut berlari. Entah apa yang menahan, aku belum tahu benar. Tapi aku sanggup berdiri di ambang pintu, menyaksikan. Tanganku memegang kusen dengan cukup erat. Kurasakan tekstur kayu sedikit kasar di bawah telapak tanganku. Aku senang melihat Amme pulang. Tapi ada juga rasa tidak senang. Menjadi perenang terhebat barangkali sudah bukan cita-citaku lagi untuk saat ini.
Amme memeluk Agau. Dia menganggkat tubuhnya sebentar, lalu menurunkannya dan menepuk-nepuk punggungnya dengan telapak tangan yang lebar. Lalu dia menjulurkan badan ke arahku. Aku memandanginya sebentar. Tapi aku tidak merasa nyaman dipandang seperti itu.
"Lamiang," panggil Amme.
"Amme," jawabku.
Itu saja dulu. Sisanya bisa menunggu.
*
Mak Tuha Duriati muncul dari balik tirai dapur dengan tangan masih basah dari mencuci beras. Dan dia berdiri di sana, menatap Amme dengan jumlah kerutan yang tidak berubah sejak wesel itu datang. Wajahnya datar, seperti permukaan air yang belum kenal riak gelombang.
Amme menatap Mak Tuha Duriati. "Mak Duri."
"Jangan lama-lama di luar," kata Mak Tuha. "Sudah sore."