Tanah Nganga

Kartini F. Astuti
Chapter #8

Uang Relokasi

Dari celah dinding bambu dekat pintu belakang umaq, aku mendengarnya. Aku mendengar keributan itu. Keributan yang belum pernah terjadi sejak Amme pergi. Umaq tidak lagi sunyi. Tetapi, aku lebih suka umaq yang sunyi. Aku belum begitu terbiasa mendengar suara-suara seperti ini.

Itu terjadi pada pagi hari kedua kepulangan Amme, ketika aku mengambil kayu dari tungku. Agau sedang bermain batu lele bersama anak-anak tetangga, sekaligus memamerkan sepatu kets barunya yang kini sedikit berlumpur.

Aku bermaksud kembali ke umaq untuk mengambil kayu yang paling pendek, mengganti kayu yang terisap ke dalam rawa-rawa. Nantinya, kayu pendek itu akan kuletakkan melintang di atas lubang tanah untuk dicungkil dan dipukul sekuat tenaga dengan kayu panjang agar melambung jauh. Aku akan menangkap kayu pendek yang dilemparkan ke mana pun. Di luar, anak-anak lain sudah menunggu. Satu menit. Lima menit. Belasan menit. Mereka segera mencari kayu pendek sendiri karena tahu aku tidak akan keluar lagi. Mereka mengira aku tertahan di jamban apung.

Padahal, aku tertahan karena suara Amme. Suara Amme lebih keras dari hari-hari sebelumnya. "Tawarannya bagus, Mak Duri. Rumah permanen, listrik, air bersih. Anak-anak bisa sekolah yang lebih baik."

"Aku tahu apa itu Kampung Kultura." Suara Mak Tuha Duriati, datar seperti biasa.

"Kalau Mak Duri tahu, kenapa—"

"Karena aku tahu apa itu Kampung Kultura."

Jeda. Terdengar bunyi cangkir yang diletakkan di atas meja kayu.

"Mak Duri tidak mau dengarkan dulu penjelasannya?"

"Aku sudah mendengarkan delapan tahun yang lalu ketika mereka pertama kali datang ke kampung ini dengan peta dan janji-janji mereka. Aku sudah mendengarkan lima tahun yang lalu ketika mereka kembali dengan angka yang lebih besar. Aku sudah mendengarkan tiga tahun yang lalu sejak Pak Dirun dan istrinya pergi.”

"Pak Dirun hidupnya lebih baik sekarang."

"Pak Dirun tidak tahu lagi cara membaca sungai."

Ada sunyi yang terasa kental setelah itu. Seperti dahak di tenggorokan.

Aku menahan napasku tanpa bergerak. Kakiku yang sudah sepenuhnya pulih sejak terkilir itu mulai terasa kembali kaku.

"Uang relokasi itu cukup untuk Tiwah," kata Amme dengan suara yang turun dan hati-hati. "Lebih dari cukup. Bisa untuk menggali tulang Bungeh, membeli kerbau, dan semua keperluan upacara yang layak. Bungeh bisa diantarkan ke tempat tenang."

Aku sontak merapat ke dinding. Ada suara kursi bergeser. Mungkin Mak Tuha Duriati yang berdiri. Atau mungkin, sesuatu diletakkan dengan tegas sebagai gertakan.

"Jangan gunakan nama Bungeh untuk ini."

"Mak Duri…"

"Jangan sekali pun."

Sebetulnya, Mak Tuha tidak pernah berteriak. Saat itu pun dia hanya berkata keras. Keras seperti kayu yang retak. Keras karena sesuatu yang biasanya ditahan akhirnya tidak bisa ditahan lagi. "Delapan tahun aku menunggu Bungeh diantarkan. Delapan tahun. Dan sekarang kamu datang dengan uang orang lain dan bilang ini untuk Bungeh? Ini bukan untuk Bungeh. Ini untuk mereka yang mau tanah kita."

"Tanahnya tidak diambil, Mak. Hanya dipindahkan."

"Dipindahkan." Mak Tuha Duriati mengulangi kata itu. Dia membuang napasnya. Tidak ingin menghirup bau yang busuk. "Seperti memindahkan rotan dari satu tempat ke tempat lain dan berharap akarnya ikut pindah juga. Aku tidak sudi pindah ke kampung buatan itu."

*

Kampung buatan.

Aku tidak bergerak sampai suara percakapan itu berubah menjadi jeda yang lebih panjang. Baik Mak Tuha maupun Amme, tidak ada yang tahu kalau aku sempat memeriksa keadaan kampung itu.

Pak Rustam di warung kelontong pernah menyebut kampung buatan dengan nada kagum ketika bercerita tentang tetangganya yang sudah pindah dan sekarang punya kulkas. Tua Tuha Tambuk yang membopongnya dari dermaga pernah menyebutnya dengan nada yang lebih hati-hati, seperti menyebut nama orang yang belum jelas teman atau musuhnya. Sampai aku sendiri berani memastikan bahwa… tidak ada yang salah dari kampung itu. Tidak ada yang salah kecuali para penghuninya sudah tidak sehangat warga kampung Segading saat menyapanya. Mereka seperti sibuk mengamankan diri tanpa mau berlama-lama di luar.

Uang relokasi. Dua kata yang sekarang terasa seperti batu yang dilempar ke dalam kolam, menciptakan lingkaran-lingkaran air yang masih terus melebar ke segala arah.

*

Amme menghabiskan waktu di luar lebih banyak daripada di dalam umaq. Dia memeriksa motor, berbicara dengan beberapa tetangga yang datang menyapa setelah mendengar dia pulang. Dia lalu duduk di tepi sungai kecil di belakang umaq dengan sebatang rokok yang tidak pernah benar-benar dia hisap sampai habis. Hanya dipegang dan dibiarkan mengepul sendiri sampai padam.

Aku menemukannya di sana sore hari, waktu Agau sedang menggambar dinding bambu dengan arang dan Mak Tuha Duriati sedang memilah rotan di sudut umaq. Aku duduk di sebelah Amme tanpa diminta, dan Amme hanya menggeser pantatnya sedikit untuk memberi ruang di batu yang mereka duduki.

Mereka diam cukup lama, mendengarkan air yang mengalir pelan.

Lihat selengkapnya