"Aku mau lihat," kata Agau pada suatu pagi setelah aku bilang bahwa aku pernah memasuki kampung buatan. "Apa kampung itu lebih terang dari bintang-bintang, seperti Pulau Halimun yang dibangun ikan-ikan todak?”
Seingatku, tidak. Lebih mirip rumah mainan atau sangkar burung raksasa atau pucuk sapundu. Tapi lebih sejuk dan tidak berbahaya. Jarang ada pepohonan menjulang di dekatnya, yang membuat matahari lebih bersinar di sana.
“Apa benar di sana ada televisi di setiap rumah?” tanya Agau lagi.
"Kita juga punya televisi.”
"Televisi kita rusak, sudah setahun lalu."
Itu benar. Aku tidak punya sanggahan untuk itu.
Amme yang akhirnya mengusulkan kami pergi bersama. Amme, aku, dan Agau, tanpa Mak Tuha Duriati yang sudah jelas tidak akan ikut dan tidak perlu ditanya untuk memastikannya. Bukan perjalanan jauh, kata Amme, hanya dua jam dengan motor melewati jalan yang sudah mulai diaspal sejak proyek tambang masuk. Jalan yang dua tahun lalu masih tanah merah berlumpur dan sekarang sudah bisa dilalui tanpa harus menebak di mana lubangnya.
*
Kami berangkat siang-siang menjelang sore. Matahari sudah terbit cukup tinggi untuk membuat jalan beraspal memantulkan panas yang tidak menyenangkan.
Agau duduk di tengah motor, diapit aku dan Amme. Tanganku memegang bagian belakang jok karena tidak cukup panjang untuk meraih pinggang siapa pun dengan nyaman. Sepatu kets putih Agau sudah dia pakai meski kubilang itu untuk sekolah dan Agau bilang justru harus sering dipakai supaya tahu rasanya sebelum masuk sekolah.
Jalan yang kami lewati memang berbeda dari yang aku ingat. Lebih lebar, lebih rata, dengan marka jalan yang catnya masih cukup baru untuk terlihat dari kejauhan. Tak jauh dari pandangan, muncul hutan terbuka. Di atas tanah merah, batang-batang pohon dipotong setinggi lutut, seperti gigi yang dicabut dan tinggal tunggulnya.
Sepanjang jalan, Agau menoleh ke kiri dan ke kanan. Seperti mandor yang sedang mencatat pekerjaan besar. Amme mengendarai motor dengan kepala yang terbungkus helm. Ada stiker berbahasa inggris di helm yang tampaknya tidak terlalu muat di kepala. Kacanya sering merosot. Amme menarik gas tanpa banyak bicara. Angin menampar-nampar wajah kami yang sedang bergegas melaju. Debu-debu menempel di wajahku sehingga aku harus memejamkan mata berkali-kali.
*
Kampung Kultura muncul dari balik tikungan.
Rumah-rumahnya sama seperti yang kulihat terakhir kali. Semua terbuat dari kayu yang diplester dan dicat berwarna merah. Semua dipayungi atap seng segitiga yang masih belum berkarat. Semua dibangun dengan ukuran yang sama persis satu sama lain sehingga dari ujung jalan masuk kampung terlihat seperti deretan kardus yang disusun tangan dengan sangat teliti.
Di depan setiap rumah ada lahan kecil yang belum semuanya ditanami. Beberapa masih tanah merah kosong. Beberapa sudah ada pot-pot bunga atau tanaman cabai yang baru mulai tumbuh.
Ada tiang listrik. Ada menara air. Ada bangunan yang lebih besar dari rumah-rumah di sekitarnya. Sekolah, atau puskesmas, atau mungkin balai pertemuan. Aku tidak langsung bisa membedakan karena semua bangunannya memiliki gaya yang sama. Gaya yang berbeda dengan arsitektur rumah adat di kampungku sendiri.
Agau turun dari motor bahkan sebelum Amme benar-benar menghentikannya. Kakinya sudah menyentuh aspal dengan antusias yang tidak bisa ditahan lagi.
"Wah, lebih bersih!" seru Agau.
Mungkin Agau belum menyadari, bahwa tidak ada suara di daerah ini. Tidak ada suara sungai. Tidak ada suara hutan. Tidak ada teriakan histeris tetangga yang jemurannya hilang diterpa angin. Yang ada adalah suara generator yang berdengung pelan dari suatu tempat. Suara televisi yang bocor dari balik jendela rumah yang jendelanya ditutup sepanjang hari. Sepanjang hari.
"Ada sekitar lima puluh keluarga sekarang," kata Amme saat memarkirkan motor di samping pagar rendah yang juga seragam dengan pagar-pagar lain di sekitarnya. "Masih terus bertambah."
Aku turun dengan lebih lambat. Mataku bergerak mencari rumah Pak Dirun di posisi ketiga.