Keputusan itu datang tanpa pengumuman.
Empat hari setelah perjalanan kami ke Kampung Kultura, Mak Tuha Duriati bangun sebelum subuh dan mulai memasak dalam jumlah yang besar. Dia sampai harus pinjam panci terbesar milik tetangga karena akan ada api besar yang menyala lama di tungku.
Aku terbangun karena bau dan karena suara. Suara Mak Tuha yang berisik sekali pagi ini, mengomel tentang peralatan dapur yang hilang. Juga, suara Agau yang membunyikan genderang dari bambu, ditimpali Amme yang tertawa terbahak-bahak.
Aku bangkit. Jujur saja, aku ingin tidur sepanjang hari. Mak Tuha Duriati duduk di dapur dengan rambut yang sudah disisir rapi dan baju batik tua yang hanya dikeluarkan Mak Tuha untuk acara-acara tertentu. Warnanya sudah tidak kontras, tapi tetap elegan.
"Mak mau ke mana?"
"Ke rumah Mantir Adat." Mak Tuha Duriati tidak berhenti mengaduk. "Tiwah akan kita gelar."
Aku terenyak di di ambang pintu dapur. Kalimat itu sungguh terlalu terburu-buru untuk dikeluarkan. "Kapan Mak Tuha memutuskan?"
"Semalam." Mak Tuha Duriati berhenti mengaduk sebentar, menatap isi panci, lalu mengaduk lagi. "Atau mungkin sudah lama. Baru tadi malam Mak tahu Mak sudah harus memutuskan."
"Uangnya dari mana?" Pertanyaan itu keluar sebelum aku sempat memikirkan apakah ini saat yang tepat untuk bertanya.
Mak Tuha Duriati tidak menjawab langsung. Dia mengambil sendok kayu yang lebih besar, menggantinya dengan yang ada di tangannya, dan baru kemudian berkata tanpa menatapku, "Ada di rekening."
Aku diam.
"Uang itu bukan untuk pindah," kata Mak Tuha Duriati. Nada suaranya tidak memerlukan tanggapan. "Lagipula, Umma sudah menunggu delapan tahun."
*
Mantir Adat kampung mereka adalah seorang lelaki tua bernama Pak Sangen. Tubuhnya kecil dan kurus. Namun, jangan salah. Tangannya kuat, mampu menaklukkan banteng paling liar dengan berburu. Suaranya lebih besar dari dada sekecil itu. Dadanya penuh tato. Matanya cekung dengan selapis putih di dalamnya yang membuat pupilnya abu-abu. Tapi, Mak Tuha bilang, Pak Sangen bahkan bisa melihat kami dengan mata terpejam.
Mak Tuha Duriati pergi menemuinya pagi itu, membawa nasi ketan dan telur rebus sebagai tanda penghormatan awal. Dia kembali sore harinya dengan langkah yang ringan. "Tiwah bisa digelar bulan depan," kata Mak Tuha. "Setelah persiapan selesai."
Amme, yang sedang duduk di teras tidak langsung berkata apa-apa. Dia menatap tangannya sebentar, lalu berkata, "Aku akan tinggal di sini untuk membantu."
Aku yang tidak percaya kemudian menghampiri Mak Tuha yang tampak sedang memunggungi semua orang, bahkan memunggungi bayangannya sendiri. Kemarin, dia masih tidak ingin kalah berdebat dengan Amme soal kampung buatan. Sekarang, Mak Tuha takluk entah oleh mimpi seburuk apa. Aku yang kini cemas. Jika Mak Tuha takluk untuk menerima uang itu, bagaimana nanti? Apakah Mak Tuha sudah menyusun syarat-syarat tertentu sebelum kematiannya sendiri? Apakah tanah kami masih bisa diselamatkan?
Tampak sekali dia ingin menyibukkan diri setelah tercetus keputusan besar yang membuatnya sedikit goyah di atas tumpuan kaki. “Mak Tuha,” panggilku seraya memandanginya lekat-lekat. “Mak Tuha serius?”
Dan aku tidak diperbolehkan melihat matanya yang kini menitikkan bulir-bulir air. Aku dipeluknya erat-erat. Kudengar napas di dadanya turun naik, putus-putus.
*
Persiapan Tiwah dimulai keesokan harinya dengan sesuatu yang oleh Pak Sangen disebut sebagai hal paling mendesak. Sapundu.