Setelah terompet ditiup, Pak Sangen, pemimpin upacara dengan bulu burung enggang di kepalanya berdiri sambil merapal nyanyian khusus. Tongkat panjang yang dihiasi manik-manik itu dihentakkannya ke tanah. Darah seekor babi dipakai untuk menyucikan sangkaraya11. Tulang belulang Umma yang akan ditiwahkan mulai digali dan dicuci. Mak Tuha Duriati datang ke Bengalon untuk bisa mengantongi tulang-tulang itu menggunakan kain berwarna merah. Dia menolak diantar siapa pun kecuali para penggali makam, dan aku, cucunya.
Perjalanan ke Bengalon memakan waktu lebih dari satu jam. Di sana, di sudut tanah yang sudah ditandai dengan batu kecil, ada yang tidak bergeser, seolah tanah sendiri yang menjaganya. Mak Tuha berjongkok di dekat tanah yang sudah terbuka. Dia mencium kening Umma yang sudah rontok tengkoraknya. Aku melihat punggung Mak Tuha juga tampak ikut rontok. Dia bersusah payah untuk tetap menyangga tubuhnya sendiri dan menyangga buah hatinya yang kini tidak bisa berdiri.
Begitu Mak Tuha dan tulang-tulang yang berasal dari darah dagingnya itu sampai di dusun, dikoyak-koyak jenazah Umma Bungeh di sebuah wadah plastik putih untuk memisahkannya dari kulit kering yang masih tersisa, lalu dicampur dengan wewangian dari akar pohon dan daun-daun waru. Tidak ada rasa takut sama sekali di antara perempuan-perempuan tua yang mencuci tulang-tulang itu.
Tung… Tung… Tung…
Gong dipukul. Aku terperanjat karena suara yang mendadak itu. Agau sudah duduk tegak di sebelahku. Rambutnya diolesi minyak kelapa dan matanya berbinar seperti hari pertama masuk sekolah. Halaman rumah kami sudah berubah. Lenguh kerbau besar terdengar. Kerbau itu berputar-putar untuk melepaskan ikatannya dari sapundu, menggosok-gosokkan kaki ke tanah, menjauh dari tombak yang mencium bokongnya.
Kemarin malam, ketika aku tertidur, halaman itu masih halaman biasa dengan sapundu yang sudah selesai diukir berdiri di tengah. Sekarang, dalam cahaya pagi yang masih biru, halaman itu dipenuhi orang. Banyak tetangga yang datang sejak subuh. Beberapa dari kampung sebelah yang perjalanannya dua jam memakai klotok. Semuanya membawa sesuatu, makanan atau kain atau kayu bakar atau sekadar kehadiran mereka sendiri.
Hewan kurban diikat di sapundu satu per satu. Kerbau pertama pada hari ketiga, diikuti yang lain pada hari-hari berikutnya. Semuanya diberi makan dan air, tidak dibiarkan kelaparan, karena dalam kepercayaan Kaharingan yang mengatur semua ini, jiwa hewan kurban juga akan menemani perjalanan Umma ke Lewu Tatau. Dan jiwa yang pergi dalam kondisi baik akan menjadi bekal yang baik pula.
Di sisi kiri halaman, gamelan sudah ditata. Gong besar, gendang, saron, dan alat-alat yang sudah tua kini dimainkan oleh tangan-tangan yang juga sudah tua, tapi mereka tahu persis bagaimana caranya. Suara yang keluar terdengar sangat menakutkan seperti mantra pemanggil ruh.
Anak-anak tertawa menyaksikan ritual yang lebih mirip pertunjukan itu. Amme telah menutup perkampungan dengan tiang-tiang bendera yang panjang sebagai tanda upacara kematian. Warga yang belum disucikan dengan darah babi tentu tidak boleh masuk. Nyanyian yang seharusnya terdengar seperti duka berubah menjadi lebih riang gembira karena sorak sorai dan tepuk tangan anak-anak itu.
Tiga orang bertopeng dewa dalam balutan rumbai-rumbai daun pisang menari-nari di sekeliling hewan itu. Gendang dan sape12 bersahut-sahutan. Beras merah dan beras kuning dilemparkan Mak Tuha ke udara. Kerbau besar itu berhasil dilumpuhkan dengan kekuatan tujuh lelaki.
Setelah kepalanya digantung di leher sapundu, dua ekor kerbau lain dan tiga puluh lima ekor babi bergantian ditombak satu persatu. Diiringi tarian kanjan, hewan kurban terakhir kemudian ditombak. Pemuda bertato dengan rompi kulit kayu di tubuhnya mengacungkan tombak yang berlelehan darah. Amme menepuk pundak pemuda itu, bangga.
Aku membantu Mak Tuha memasak, membantu menyiapkan sesaji, membantu menyambut tamu yang terus berdatangan. Dan di sela-sela semua itu, aku mengamati. Mengamati Mak Tuha yang bergerak di antara semua orang. Mak Tuha sering berhenti sebentar, seolah lupa urutan pekerjaan di dapur yang terlalu mudah baginya. Ada jeda kecil sebelum melanjutkan. Untuk sesaat, Mak Tuha Duriati tampak seperti ingin mencari tempat persembunyian. Tidak ingin terlalu banyak ditanya oleh saudara-saudaranya yang mengingatkannya pada kematian Umma Bungeh.