Tanah Nganga

Kartini F. Astuti
Chapter #12

Suara-Suara Itu Lagi

Tiwah telah selesai. Tapi ada yang tidak ikut selesai bersamanya.

Aku merasakannya pada hari kedelapan. Hari pertama setelah semua tamu pulang dan halaman kembali menjadi halaman biasa. Lebih lengang dan senyap, dengan bekas-bekas upacara yang masih ada di sana sini. Abu di tungku. Beberapa helai bunga yang sudah layu di dekat sandung. Jejak-jejak orang yang sudah pergi di tanah yang belum sempat disapu.

Sapundu masih berdiri di tengah halaman. Pak Sangen bilang ia akan tetap di sana untuk sementara waktu. Tidak boleh dicabut terlalu cepat, harus dibiarkan sampai darah yang melumurinya benar-benar kering. Tulang-tulang Umma Bungeh bertengger di sandung yang jangkung menjulang setara pohon selayar. Mereka bertengger di situ mirip burung walet yang membuat sarang di kotak pos untuk bertelur.

Aku duduk di tangga depan umaq pada pagi itu, mengamati halaman. Mengamati sapundu, juga sandung berpenghuni. Sesuatu yang lain baru saja dimulai. Amme belum pergi.

Ada yang tampaknya belum selesai. Amme seharusnya sudah kembali ke Sanggau. Pekerjaannya menunggu. Dia sudah menyebut itu beberapa kali pada Mak Tuha selama Tiwah berlangsung. Selalu dengan cara yang terdengar seperti pengingat kepada dirinya sendiri lebih dari kepada orang lain.

Tapi setiap pagi sejak upacara, dia masih ada. Masih bangun. Masih makan di meja yang sama. Masih melakukan hal-hal kecil di sekitar umaq yang sudah lama menunggu tangan yang mau mengerjakannya. Seperti engsel pintu yang berderit, atap dapur yang bocor di sudut kiri, pagar bambu yang sudah miring ke satu sisi.

Mak Tuha Duriati tidak menanyakan kapan dia pergi. Amme tidak menyebut tanggal. Ada yang masih menggantung selain bendera rumbai-rumbai di sepanjang jalan. Tidak tahu kapan diturunkan.

Percakapan pertama yang aku curi dengar terjadi pada malam kesembilan setelah Tiwah, ketika Agau sudah tidur dan aku seharusnya juga sudah tidur. Tapi kelopak mataku tidak mau kuncup. Udara malam itu terasa kering seperti sebelum hujan.

“Kapan kamu mau bicara yang sebenarnya?"

Ada jeda di antaranya. Kursi digeser sedikit. Api di tungku belum dipadamkan.

"Aku sudah bicara yang sebenarnya." Amme menjawab Mak Tuha. “Kenapa Mak masih saja marah padaku padahal Bungeh sudah tiba di surga?”

Mak Tuha berusaha sebisa mungkin untuk tidak menyeret lagi nama Bungeh dalam perdebatannya bersama Amme. "Kamu bilang uang itu dari perusahaan tambang sebagai kompensasi relokasi." Mak Tuha mencecar Amme lagi meski kemarin ia setengah mati menolak perasaan yang ditutupinya selama delapan tahun tentang tertundanya upacara Tiwah. Dia tampak sedang mencari kambing hitam.

Tidak ada yang sanggup menghentikan amarahnya kalau dia sudah memilih untuk marah. Di meja, Mak Tuha meletakkan amplop berisi sisa uang dari bank. "Tapi kamu juga bilang kamu bekerja di tambang itu. Jadi perusahaan yang membayar kamu bekerja juga membayar kamu untuk membujuk keluargamu pindah?"

"Bukan seperti itu," sanggah Amme.

Lihat selengkapnya