Tanah Nganga

Kartini F. Astuti
Chapter #13

Bayang di Dinding Bambu

Amme Manturai sempat menemukan senter itu di dalam tas besarnya yang kedua, yang baru dibuka seminggu setelah dia tiba karena tidak ada yang ingat bahwa tas itu masih terikat di jok motor sampai Agau tersangkut talinya waktu ingin mengambil sesuatu dari bawah motor.

Senternya bukan senter biasa. Bukan senter plastik murah seperti yang ada di warung Pak Rustam. Itu senter aluminium yang beratnya terasa serius di tangan, dengan kepala yang bisa diputar untuk mengubah sorotan dari titik kecil yang jauh dan tajam menjadi lingkaran cahaya yang lebar dan dekat. Agau memegangnya dengan dua tangan pertama kali, menimbang-nimbang beratnya, lalu menekan tombolnya dan hampir menjatuhkannya karena terkejut dengan terangnya.

"Ini dari mana, Amme?" tanya Agau.

"Dari toko peralatan di kota." Amme mengambil senter itu kembali, memutarnya di tangan. "Buat kerja malam di lokasi tambang.”

*

Petang menyongsong malam. Mak Tuha Duriati terlambat sampai di dusun Segading setelah mendapatkan beberapa ikat rotan. Tapi dia diantar Mang Kubil yang memanggul anjatnya di punggung. Mang Kubil mendapati Mak Tuha duduk beristirahat di pinggir lereng dengan pakaian kotor, saat ia kebetulan sedang mencari kayu bakar.

Sebuah cahaya senter menerpa wajah mereka saat mereka baru tiba di umaq. Mak Tuha sudah tidak kuat lagi berjalan kali ini. Betisnya nyaris tanpa daging. Borok di lututnya bolong mengeluarkan nanah. Mungkin ia terlalu sering berlutut di sungai mendoakan kepulangan Umma dan baru kena infeksi setelah dipakainya kaki itu menembus rimba.

Kami histeris melihat borok itu. Borok yang telah lama disembunyikan di balik rok dan kini semakin parah. Amme membaringkannya di tilam dalam posisi telentang. Tulang-tulang Mak Tuha sudah kaku dan terdengar krek krek saat diluruskan. Segera Agau mencari minyak bintang di bilik dapur dan aku mengoleskannya seusap demi seusap. Butuh waktu seminggu untuk borok itu mengelupas sendiri. Mak Tuha tidak merintih saat tempurung lututnya yang geser ditekan. Dia hanya terkekeh dan setengah lelah ia ia mengoceh. “Tunggu aku mati kalau mau pindah.”

Malam itu, listrik padam lebih awal. Hujan deras datang tiba-tiba memutus jaringan yang memang sudah tidak terlalu andal, dan dalam sekejap umaq mereka kembali ke cahaya cempor yang berkedip-kedip.

Agau langsung mengambil senternya. "Amme," kata Agau, "Aku ingin menghibur Mak Tuha. Dia kelihatan sedih karena tidak bisa jalan-jalan ke hutan lagi. Ajarkan aku bikin bayang-bayang buat menghiburnya.”

Amme sedang duduk di kursi kayu dekat jendela yang ditutup karena hujan, dan dia mendongak dari lamunannya. Aku yakin dia sedang melamun saat itu. "Bayang-bayang?"

"Dari senter. Di dinding. Seperti waktu itu." Agau menyalakan senter dan mengarahkannya ke dinding bambu, lalu meletakkan tangannya di depan cahaya, menghasilkan bayangan hitam yang tidak berbentuk apa-apa. "Aku tidak bisa bikin yang bagus. Pasti Amme tahu."

Amme menatap bayangan tangan Agau sebentar. Lalu dia bangkit dari kursinya, menggeser kursi agar lebih dekat ke dinding, dan mengulurkan tangannya. "Sini senternya."

Amme mulai membentuk tangannya di depan cahaya. Jari-jarinya dilipat dan dibuka dengan kombinasi tertentu. Ibu jari diposisikan di sudut yang tepat. Pergelangan tangan diputar pada sudut yang mengubah seluruh bentuk bayangan dalam sekejap.

Di dinding bambu, muncul kelinci. Lalu bebek. Lalu sesuatu yang mirip anjing dengan mulut yang bisa dibuka tutup ketika Amme menggerakkan jarinya. Agau mengikutinya dengan mata yang berbinar di bawah cahaya senter yang memantul dari dinding, sesekali berteriak ketika bentuk baru muncul, sesekali mencoba menebak sebelum bentuknya selesai.

Mak Tuha tertawa tipis saja saat menonton teater kecil itu. Amme juga tertawa. Tawanya lebih menggelegar daripada yang pernah aku dengar.

Mereka bermain bayangan lebih dari sejam. Agau yang belajar membuat kelinci meski jarinya terlalu pendek untuk menghasilkan telinga yang benar-benar berdiri, Amme yang terus menemukan bentuk-bentuk baru yang tidak habis-habisnya. Aku akhirnya menyerah pura-pura membaca dan bergabung, duduk lebih dekat ke dinding.

Amme mengajarinya bentuk yang lebih rumit. Burung yang sayapnya bisa bergerak ketika ibu jari dikembangkan. Buaya dengan mulut yang membuka lebar ketika siku ditekuk. Aku ikut mencobanya dan gagal beberapa kali. Jari-jariku tidak cukup luwes untuk mengikuti kombinasi yang terasa sederhana.

"Padahal kamu sering berenang,” komentar Amme, tapi nada suaranya bukan nada yang mengkritik. "Apa mungkin otot jarimu terlatih untuk satu hal? Perlu waktu untuk belajar hal lain sepertinya."

Aku menatap bayangan tanganku sendiri di dinding. Tidak berbentuk apa-apa yang jelas. Hanya gumpalan gelap dengan jari-jari yang tidak tahu mau menjadi apa. "Seperti apa?"

Lihat selengkapnya