Tanah Nganga

Kartini F. Astuti
Chapter #14

Ning Fatma

Meski terlambat sehari, Amme pergi pada hari Kamis, sama seperti hari dia datang. Dan pagi itu terasa lebih sibuk. Aku membantu Mak Tuha memasak tanpa diminta. Menanak nasi hangat dan menggoreng udang yang baru ditangkap Amme sore kemarin. Mak Tuha hanya bisa duduk di kursinya sambil sesekali menunjuk dengan dagu jika aku tak tahu di mana letak peralatan dapur. Sedangkan Amme memanaskan motornya di halaman.

Di umaq ini, hanya Agau yang kelihatan tidak mau sibuk. Setelah menu terhidang di meja, dia makan dengan lambat. Dia berusaha memperpanjang sesuatu yang dia tahu akan berakhir. Sesekali dia mendongak ke arah Amme dengan ekspresi yang ingin ditutup-tutupinya tapi tidak cukup berhasil. Matanya basah, sama seperti kemarin. Aku menyuruhnya makan cepat-cepat sebelum udang aku habiskan.

Mak Tuha Duriati tidak duduk makan bersama kami. Aku mengambilkannya nasi lebih awal dan dia makan menghadap ke jendela. Aku juga sempat mencucikan tangan untuknya, mengoleskan minyak bintang sekali lagi ke kakinya dan menepuk-nepuk sekitar tempurung lututnya pelan.

Amme mengikat tasnya di jok motor dengan tali yang sama seperti waktu datang, simpul dua kali yang sama. Motor itu masih terlalu mengilap untuk halaman tanah merah ini, masih terlalu baru untuk jalan setapak ini. Agau berdiri di samping motor, tidak membantu, hanya berdiri. Sampai sekarang, dia tidak ingin mengakui siapa yang menghancurkan lampu motor itu. Mungkin digigit anjing, katanya asal.

Agau melipat kedua tangan di balik punggung. Tangan itu berisi hadiah. Agau membuat sapundu kecil yang dia ukir dengan pisau dapur. Dia baru mengeluarkannya saat Amme hendak menaiki motor. Amme menerimanya dengan wajah terharu lalu memasukkannya ke tas yang paling kecil. Amme menukarnya dengan senter kesayangannya dan seketika mata Agau langsung berbinar.

Tapi dia tidak ingin mengubur rasa penasarannya. "Amme kapan pulang lagi?" tanyanya. Pertanyaan yang sama yang sudah ditanyakannya kemarin, dan kemarin malamnya, dan mungkin akan terus ditanyakannya.

"Nanti," kata Amme. Jawaban yang sama.

"Nanti kapan?"

"Kalau ada kesempatan."

Agau mempertimbangkan jawaban itu dengan serius, seperti yang selalu dia lakukan dengan jawaban-jawaban yang tidak memuaskannya tapi tidak bisa dibantah secara logika. "Tahun depan?"

"Mungkin lebih cepat dari itu."

"Janji?"

Amme menatap Agau. Lalu dia berlutut. Amme berlutut sampai tingginya sama dengan tinggi Agau. "Amme akan kirim kabar," katanya. "Kalau ada yang penting, Amme kabari. Kalau tidak ada kabar, itu artinya semuanya baik-baik saja."

"Tapi Agau mau tahu kabarnya walaupun tidak ada yang penting."

Amme hampir tersenyum. "Baik. Amme usahakan."

Dia berdiri, menoleh ke arahku. "Jaga diri," kata Amme.

"Amme juga," jawabku sambil mengangguk.

Lalu Amme menoleh ke arah Mak Tuha Duriati yang duduk dengan kursinya di depan pintu umaq, dan mereka saling pandang. Mak Tuha Duriati tidak berkata apa-apa. Amme tidak berkata apa-apa. Tapi ada sesuatu yang lewat di antara mereka. Sesuatu yang bukan pengampunan, bukan juga penghukuman.

Motor dinyalakan. Suaranya terlalu keras untuk pagi yang setenang ini, memecah kesunyian yang sudah terbentuk dengan susah payah. Agau melambai sampai suara motor tidak terdengar lagi. Aku tidak melambai, hanya berdiri, sampai debu yang ditimbulkan ban motor di jalan tanah merah juga sudah mengendap kembali.

Di halaman, sapundu mulai mengendur dan hampir jatuh dari tempatnya berdiri. Wajah yang diukir di atasnya menatap ke arah yang hanya dia yang tahu ke mana. 

*

Tiga minggu setelah kepergian Amme, Agau tiba-tiba menangis. Dia berhenti menggambar di buku tulis baru yang dibelikan Amme. Ingusnya berlelehan di hidung. Dia mengusap-usap wajahnya dengan punggung lengan. Aku tanya kenapa. Apa dia baru saja kalah bermain batu lele? Dia malah sesenggukan, tidak punya cukup tenaga untuk menjawab. Aku tanya Mak Tuha yang sedang duduk dengan bertumpang kaki, Mak Tuha hanya mengedikkan bahu dan terus menganyam.

Tangan Agau yang penuh dengan coretan spidol itu hanya bisa dia jadikan topeng untuk menutup wajahnya yang didera tangis. Agau memutar tubuhnya dan menunjuk Mak Tuha yang segera menggeleng seolah tidak tahu apa-apa. Dia lalu berlari ke luar umaq. Berdiri di teras sambil memandang sandung. Dia merasa telah mengkhianati ibunya sendiri. Wajahnya memucat seperti mayat.

"Akak tahu?" tanyanya padaku saat aku menghampirinya dan berjongkok. 

Ini bagian yang aku takuti. “Soal apa?”

“Soal ibu tiri,” katanya di tengah cegukan yang segera dia halau dengan memukul-mukul dadanya yang mungil. “Mak Tuha yang mengatakannya padaku.”

"Tahu," jawabku. Tidak ada gunanya berbohong sekarang.

Agau menatapku. Matanya bergerak dari satu mataku ke mata yang lain, seperti sedang mencari sesuatu yang tersembunyi di balik keduanya. "Sejak kapan?"

"Sejak Amme masih di sini."

Lihat selengkapnya