Agau tidak pernah diam lebih dari sepuluh menit. Sekarang ia bisa duduk berjam-jam di depan umaq tanpa melakukan apa-apa. Dia menatap ke arah jalan setapak menuju luar kampung. Senter aluminium itu masih ada di sudut kamar mereka, di tempat yang sama. Belum disentuh.
"Aku mau ketemu Amme," kata Agau pada suatu pagi, sebelas hari setelah aku menceritakan tentang adik baru bernama Riani. Hanya itu yang perlu dia tahu mengingat dia selalu bertanya tentang bagaimana rasanya punya adik perempuan.
Ide menemui Amme di Sanggau muncul begitu saja tanpa pengantar di tengah sarapan yang sunyi, diletakkan di atas meja seperti benda yang dikeluarkan dari saku.
Aku tidak langsung menjawab. Tetapi, segera melihat ke arah tirai dapur. Mak Tuha Duriati sedang mencuci panci di sana. Suara air dan bunyi logam telah menjamin bahwa percakapan ini tidak terdengar ke sana.
"Biar apa?" tanyaku setengah berbisik.
"Aku mau lihat sendiri seperti apa ibu tiri, apakah sama seperti yang digambarkan di cerita Pesut Mahakam." Agau menatap nasinya yang belum disentuh. "Mau dengar dari Amme langsung kenapa dia menikah lagi. Mau lihat adik baru dan pegang tangannya. Mau main bayang-bayang di dinding lagi. Mau macam-macam.”
“Kau tidak boleh macam-macam.” Kalimat itu terdengar lebih berat dari yang dimaksudkan Agau. Aku menatap adikku. Wajah sembilan tahunnya juga tampak tiga tahun lebih tua. Tangan yang memegang sendok itu terlalu kencang dipegangnya. "Sanggau jauh," cegahku.
"Aku tahu Sanggau jauh."
"Mak Tuha tidak akan izinkan."
"Makanya tidak usah minta izin."
Kami sontak terdiam. Sendok ditaruh di piring yang menghasilkan bunyi denting. Di dapur, suara air berhenti, digantikan bunyi panci yang diletakkan. Aku dan Agau bertukar tatap, saling memberi isyarat bahwa percakapan ini harus dihentikan sementara.
*
Perjalanan ke Sanggau bukan perjalanan kecil. Kami tidak tahu persis di mana Amme berada di sana. Kami tidak punya uang lebih dari cukup untuk ongkos selain dari uang tabungan seragam sekolah di celengan kami, ditambah beberapa lembar uang berwarna merah yang kuambil dari amplop bank milik Mak Tuha. Uang itu masih harum. Aku tidak berani mengambil terlalu banyak.
Tapi aku juga memikirkan Agau yang tidak menyentuh senternya sejak dia tahu Amme punya istri dan anak di tempat lain. Memikirkan cara Agau menatap jalan setapak menuju ke luar, berjam-jam, seperti sedang menghitung sesuatu yang tidak ada kalkulator untuk menghitungnya.
Surat Ning Fatma sudah terlipat rapi dan disimpan bersama foto Umma yang telah luntur sepenuhnya.
Aku ingin berdiri di depan seseorang yang sudah pergi dan ternyata tak pernah benar-benar pulang: Amme Manturai. Aku ingin bertanya langsung tentang sesuatu yang belum berani aku tanyakan saat Amme masih di sini, tentang apa artinya semua ini. Apa artinya aku bersusah payah menjadi perenang hebat di mata Amme? Apa maksudnya dia tega pada Bungeh dengan mengawini suku pembunuh?
Aku memikirkan ini sampai malam, sampai Agau tidur, sampai Mak Tuha Duriati juga tidur. Sampai umaq menjadi sunyi dan pikiran menjadi berisik. Lalu aku membuat keputusan.
Kami pergi dua hari kemudian, pada pagi buta, pada hari yang sama dengan jadwal Mak Tuha Duriati pergi ke rumah Pak Sangen. Ada urusan adat yang mungkin memakan waktu setengah hari. Ini adalah pergi yang sudah direncanakan sejak seminggu lalu dan tidak bisa dibatalkan.
Aku menyiapkan semuanya di malam sebelumnya. Uang yang dikumpulkan dari celengan babi dan beberapa lembar yang kupinjam dari amplop Mak Tuha. Cukup untuk ongkos bus dan makan seadanya pulang pergi. Aku sampai menghitung ulang tiga kali agar angkanya tidak salah. Aku juga melipat dua setel baju untukku dan Agau. Dua botol air telah diisi penuh. Roti singkong telah dibungkus daun pisang untuk bekal di jalan. Sebelum benar-benar melangkah keluar umaq, aku tak lupa menulis surat: Mak Tuha, kami pergi menemui Amme. Akan kembali sebelum tiga hari. Maaf.
Kata maaf di sana terasa tidak cukup dan terlalu banyak sekaligus. Aku meletakkan surat itu di atas anyaman Mak Tuha Duriati yang belum selesai, di tempat yang paling pasti dilihat, lalu merangsek ke kamar untuk membangunkan Agau.
Agau terduduk tanpa perlu dibangunkan dua kali. Entah karena tidurnya memang tidak terlalu dalam malam itu, atau karena bagian dari dirinya sudah berjaga menunggu, mengetahui bahwa hari ini berbeda. Dia berpakaian dengan cepat, dan satu-satunya hal yang dia ambil di luar yang sudah aku siapkan adalah senter aluminium dari sudut kamar. Senter itu tidak diabaikannya lagi.
Kami keluar ketika matahari baru mulai mengintip di cakrawala timur. Agau berjalan di sampingku tanpa bertanya, tanpa berbicara, dengan senter di tangan yang tidak dinyalakan karena cahaya pagi sudah cukup.
*
Bus pertama ke Samarinda berangkat pukul enam. Kami tiba di persimpangan dua puluh menit lebih awal dan duduk di bangku kayu yang sudah lapuk di pinggir jalan. Tangan Agau di lutut. "Kak Lamiang takut?" tanya Agau begitu melihat jariku terketuk-ketuk di kursi tanpa irama.
"Sedikit," tukasku.
"Takut apa?"
"Banyak." Mungkin Agau mengira aku akan takut diomeli Mak Tuha. Padahal, pikiranku hanya tertuju pada Amme dan keluarga kecilnya di Sanggau. Ada wajah yang ingin sekali kukenali seperti apa bentuknya. Wajah Ning Fatma dan Riani.
Bus itu sudah tua dan sedikit batuk-batuk. Tidak semua jendelanya bisa ditutup rapat. Aku dan Agau mendapat tempat duduk di baris ketiga dari belakang, berdampingan, dengan jendela yang kacanya retak di sudut kiri bawah. Ketika bus mulai bergerak dan kampung kami mulai menghilang ke belakang, aku merasakan sesuatu yang tidak terduga. Lebih mirip perasaan berdiri di tepi dermaga sebelum terjun ke sungai, ketika tubuh sudah memutuskan untuk melompat dan pikiran belum sepenuhnya setuju.
Agau bertahan tidak bertanya selama satu jam penuh. Itu rekor.
"Akak," katanya kemudian. "Amme tahu kita datang?"
"Tidak."
"Jadi kita datang tiba-tiba?"
"Ya."
Agau mengangguk pelan, seperti orang yang sedang menerima informasi yang tidak menyenangkan tapi tidak bisa dibantah. "Kalau Amme marah bagaimana?"
"Biarkan."
"Kalau Ning Fatma tidak mau buka pintu?"
"Kita tunggu di depan."
"Kalau Riani nangis karena lihat orang asing?"
"Agau."
"Apa?"