Tanah Nganga

Kartini F. Astuti
Chapter #16

Rombongan Pesut dan Air yang Membakar

Kami menerobos tali kuning yang sudah kendur, melangkahi papan tanda yang tulisannya sudah pudar, berjalan menuju danau kehijauan itu. Agau mengalungkan senter aluminium itu di leher. 

Aku enggan meladeni Agau berceloteh tentang pesut atau ikan-ikan todak atau pulau halimun. Aku hanya berjalan gontai mencari truk-truk pengangkut batu bara untuk mencari lelaki berkaos hijau terang. Aku juga tak menemukan motor Amme di barisan motor yang cukup banyak itu. 

Aku melihat danau itu dan melihat cara Agau melihat danau itu. "Kau tidak bisa berenang. Jangan dekat ke situ," perintahku yang membuat Agau langsung mundur dua langkah. "Dari sini saja.”

Lapisan di permukaannya tidak bergerak meski angin bertiup. Danau itu terlalu tenang. Berbeda dengan sungai di belakang umaq yang airnya berisik. Aku tiba-tiba terpikir tentang Mak Tuha Duriati yang berdiri di bantaran sungai malam-malam, yang melarungkan sebatang lilin di atas daun waru.

Galian tambang ini sepertinya sudah lama tidak beroperasi.

Aku pernah mendengar bahwa para lelaki di sekolahku sering berenang ke beberapa titik lokasi bekas galian tambang di Kutai yang terbengkalai. Kedalamannya lebih dari seratus meter. Warnanya terang. Seperti genangan hujan yang tertampung pada panci tanah liat di umaq, bercampur dengan hijau daun nipah.

Mungkin perlu kucoba menyelam ke dasar apakah benar sedalam itu dan apa yang tersimpan di sana selain air?

“Akak! Akak Lamiang! Akak Lamiang yang paling hebat!” Agau mendorongku untuk melompat.

Dan aku melompat. 

Aku sudah tidak peduli diejek pendek atau gaya renangku norak. Aku berniat menyelam sebentar saja untuk muncul kembali ke permukaan dan mengacungkan dua jari pada Agau. “Airnya hangat!” teriakku dan Agau sontak bertepuk tangan lalu menirukan gaya anjing yang sedang menggigil dengan kedua tangan terkepal. Dia berdiri dengan tingkahnya yang menggemaskan. Tampak iri sekaligus ngeri.

Lihat selengkapnya